Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Dinilai Jadi Kunci Wujudkan 100 GW PLTS Komunitas di Indonesia
Kombinasi hibah dan pinjaman lunak dinilai menjadi model ideal pembiayaan PLTS komunitas untuk mendukung target 100 GW energi surya.
Skema pembiayaan berupa kombinasi hibah dan pinjaman lunak dinilai menjadi model paling realistis untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis komunitas di Indonesia.
Model tersebut dinilai mampu menjaga tarif listrik tetap terjangkau sekaligus membuka peluang replikasi proyek energi surya di berbagai daerah.
Temuan tersebut merupakan hasil riset MOSAIC bersama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Purpose yang dipaparkan dalam diskusi bertajuk “Potensi Keuangan Islam untuk Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas” yang digelar di Jakarta, Rabu (24/6).
Kajian tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan pembiayaan dalam mendukung target pengembangan energi surya nasional hingga 100 Gigawatt (GW), yang terdiri atas 80 GW PLTS berbasis desa melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan 20 GW PLTS yang terintegrasi dengan jaringan listrik nasional.
Program Direktur MOSAIC Aldy Permana mengatakan tantangan utama pengembangan energi surya berbasis komunitas tidak hanya terletak pada kebutuhan investasi awal yang besar, tetapi juga pada keberlanjutan operasional proyek dalam jangka panjang.