Ribuan Kasus Scam Terungkap, VIDA Ingatkan Publik Waspada di Setiap Aktivitas Digital
VIDA ingatkan publik waspada scam digital, seiring 515 ribu laporan penipuan dan lonjakan ancaman deepfake di Indonesia.
Ilustrasi aktivitas digital. dok. VIDA
Meningkatnya aktivitas digital masyarakat Indonesia berbanding lurus dengan lonjakan risiko penipuan digital.
Di tengah tren ini, VIDA mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam setiap interaksi digital sehari-hari, seiring maraknya berbagai modus scam yang semakin canggih.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Centre mencatat lebih dari 515 ribu laporan penipuan sejak November 2024 hingga Maret 2026.
Angka ini menjadi sinyal ancaman di ruang digital tidak lagi bersifat sporadis, melainkan sistemik dan terus berkembang.
- Ancaman Deepfake Meningkat, Industri Keuangan RI Didorong Perkuat Sistem Anti-Fraud Berbasis AI
- Studi Kaspersky: Kekurangan Tenaga Ahli Keamanan Siber Jadi Ancaman Serius bagi Rantai Pasok
- Kaspersky Gandeng KidZania India, Hadirkan Pusat Investigasi Siber untuk Edukasi Anak
- Ancaman Siber Berbentuk Serangan Backdoor Melonjak di Asia Tenggara, Indonesia Tembus 1,5 Juta Kasus
Dalam praktiknya, potensi penipuan bisa muncul dari aktivitas yang tampak sederhana. Mulai dari pesan berisi tautan hadiah palsu hingga file APK yang menyamar sebagai pembaruan pengiriman paket, semuanya dapat menjadi pintu masuk pencurian data.
VIDA mencatat, sebagian besar kasus scam melibatkan pencurian kode OTP, yang sering kali terjadi karena kelengahan pengguna.
Tak hanya itu, perkembangan teknologi juga memperumit situasi. VIDA mengungkap upaya penipuan berbasis deepfake di Asia Tenggara meningkat hingga 156% sepanjang 2025, menandakan pelaku kejahatan kini memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menipu korban secara lebih meyakinkan.
Founder & Group CEO VIDA Niki Luhur mengatakan tantangan utama bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada respons spontan pengguna dalam situasi tertentu.
“Di banyak situasi, orang sebenarnya sudah tahu bahwa penipuan digital itu nyata. Namun, ketika modusnya terasa relevan atau menguntungkan, kewaspadaan bisa turun dalam hitungan detik,” ujarnya.
“Karena itu, membiasakan diri untuk berhenti sejenak, memeriksa ulang, dan tidak langsung percaya menjadi sangat penting,” imbuhnya.
Sebagai upaya edukasi, VIDA menghadirkan program “The World of VIDA”, sebuah video yang dirancang untuk menjelaskan bagaimana perlindungan identitas digital bekerja dalam aktivitas sehari-hari.
Pendekatan ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih memahami keamanan digital bukan hal yang rumit, melainkan bagian dari rutinitas yang perlu dijaga.
“Melalui The World of VIDA, kami ingin menunjukkan bahwa perlindungan digital itu dekat dengan keseharian masyarakat, bukan sesuatu yang jauh atau kompleks,” kata Niki.
Selain edukasi, VIDA juga menyiapkan kampanye lanjutan bertajuk “Beyond Liveness”, yang berfokus pada penguatan sistem keamanan digital.
Solusi ini menggabungkan teknologi deteksi biometrik dengan analisis perangkat, perilaku pengguna, serta evaluasi risiko secara real-time untuk menghadirkan perlindungan berlapis terhadap potensi fraud.









