Kualitas Audio Makin Tinggi, Apakah Kita Bisa Merasakannya?
Ketika musik dikirim melalui koneksi digital, data audio perlu diproses agar dapat ditransmisikan dengan lebih efisien.
Ilustrasi mendengarkan musik dengan perangkat audio. dok. Magnific
Teknologi audio terus berkembang, pengguna kini tidak hanya mengenal istilah stereo atau surround sound, tetapi juga lossless, Hi-Res Audio, codec, dan Spatial Audio.
Salah satu perubahan penting terjadi pada cara audio dikompresi dan dikirimkan.
Ketika musik dikirim melalui koneksi digital, data audio perlu diproses agar dapat ditransmisikan dengan lebih efisien. Di sinilah codec memiliki peran penting.
Pada Bluetooth, misalnya, audio perlu dikodekan sebelum dikirimkan secara nirkabel ke headphone atau speaker.
Bluetooth Classic menggunakan SBC sebagai codec wajib, sementara perkembangan Bluetooth Low Energy (LE) Audio memperkenalkan codec baru bernama Low Complexity Communications Codec atau LC3.
Bluetooth SIG menyebut LC3 dirancang untuk menghasilkan kualitas audio yang lebih tinggi dengan penggunaan data dan daya yang lebih rendah.
Dalam pengujian yang dilakukan Bluetooth SIG, LC3 dapat menghasilkan kualitas lebih tinggi dibandingkan SBC pada bitrate yang sama.
LC3 juga dapat memberikan kualitas yang sama atau sedikit lebih baik dengan bitrate kurang dari setengah SBC.
Selain codec, perkembangan audio digital juga terlihat dari semakin populernya format lossless dan Hi-Res Audio.
Pada audio lossy, sebagian informasi dari sumber suara dibuang melalui proses kompresi untuk mengurangi ukuran data.
Sementara itu, lossless dirancang untuk mempertahankan seluruh informasi dari sumber audio.
Di sisi lain, format dengan resolusi lebih tinggi juga membutuhkan lebih banyak data. Artinya, kualitas audio tidak berdiri sendiri.
Kemampuan jaringan, perangkat pemutar, koneksi, hingga headphone atau speaker yang digunakan ikut menentukan seberapa jauh peningkatan tersebut dapat dinikmati.
Hal ini membuat istilah seperti lossless atau Hi-Res tidak selalu berarti pengguna akan langsung mendengar perbedaan yang besar.
Sebuah file audio dapat memiliki resolusi tinggi, tetapi manfaatnya bisa terbatas apabila perangkat atau jalur transmisinya tidak mampu mempertahankan kualitas tersebut.
Kualitas audio dapat dilihat sebagai sebuah rantai. Musik yang berkualitas tinggi membutuhkan sumber yang baik, proses encoding yang tepat, koneksi yang memadai, perangkat pemutar yang mampu mengolahnya, serta headphone atau speaker yang dapat menghasilkan kembali suara tersebut.
Namun, perkembangan audio tidak berhenti pada bagaimana mempertahankan detail suara. Industri juga mulai mencari cara untuk membuat pendengar merasakan musik secara berbeda.
Salah satunya melalui teknologi audio spasial seperti Dolby Atmos. Teknologi ini memungkinkan elemen suara ditempatkan dalam ruang tiga dimensi, sehingga vokal, instrumen, dan efek suara dapat terasa datang dari posisi yang berbeda di sekitar pendengar.
Perubahan tersebut membuat pengalaman mendengarkan tidak lagi hanya bergantung pada seberapa detail suara yang dihasilkan.
Penempatan suara dan kesan ruang juga dapat memengaruhi bagaimana sebuah lagu dirasakan.
Meski begitu, teknologi yang semakin canggih tidak otomatis membuat pengalaman setiap pendengar menjadi sama.
Perangkat yang digunakan, kualitas rekaman, lingkungan ketika mendengarkan, hingga kemampuan pendengaran dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Musik dengan kualitas Hi-Res, misalnya, belum tentu memberikan perbedaan yang signifikan ketika diputar melalui perangkat yang memiliki keterbatasan.
Sebaliknya, perubahan pada karakter suara atau pengalaman spasial mungkin justru lebih mudah dirasakan ketika menggunakan perangkat yang mendukung.
Karena itu, angka seperti bitrate, bit depth, dan sampling rate sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran ketika membicarakan perkembangan audio.
Spesifikasi memang menunjukkan kemampuan teknis, tetapi pengalaman mendengarkan ditentukan oleh lebih banyak hal.
Evolusi teknologi audio bukan sekadar perlombaan menghasilkan angka yang semakin tinggi. Perkembangannya mencakup bagaimana suara dikompresi, dikirimkan, dipertahankan kualitasnya, hingga diterjemahkan kembali menjadi pengalaman yang bisa dirasakan pendengar.









