53% Perusahaan Gunakan OS Usang, Riset Jamf Ungkap Risiko Keamanan yang Terabaikan
Riset Jamf: 53% perusahaan masih gunakan OS usang, meningkatkan risiko keamanan data akibat celah aplikasi dan phishing.
Ilustrasi sistem operasi. dok. freepik
Penggunaan sistem operasi (OS) dan aplikasi yang tidak diperbarui masih menjadi celah besar dalam keamanan siber perusahaan.
Riset terbaru dari Jamf mengungkap lebih dari separuh organisasi masih mengoperasikan perangkat dengan sistem yang sudah usang, sehingga berpotensi membuka pintu bagi serangan siber.
Dikutip dari TechRadar, dalam laporan tersebut, sebanyak 53% organisasi diketahui memiliki perangkat mobile dengan OS yang sudah tidak mutakhir, sementara 58% masih menjalankan perangkat berbasis macOS versi lama.
Kondisi ini diperparah oleh kerentanan pada aplikasi, di mana 95% aplikasi mobile yang dianalisis memiliki setidaknya satu celah keamanan tingkat menengah.
Tak hanya itu, sekitar 62% aplikasi mobile juga meminta izin akses yang berisiko, dan 21% di antaranya menunjukkan perilaku yang berpotensi mengganggu privasi pengguna.
Kombinasi antara sistem usang dan aplikasi rentan membuat data sensitif perusahaan semakin mudah terekspos.
Risiko ini semakin besar ketika dikombinasikan dengan faktor manusia. Sekitar 25% organisasi dilaporkan pernah menjadi korban serangan phishing, yang kerap menjadi pintu masuk awal bagi peretas untuk menyusup ke sistem internal.
Setelah berhasil masuk, pelaku dapat melakukan pergerakan lateral untuk memperluas dampak serangan.
Jamf juga menyoroti evolusi metode serangan siber yang semakin canggih, termasuk teknik zero-click, eksploitasi berbasis browser, hingga serangan berantai yang tidak memerlukan interaksi langsung dari pengguna.
Di sisi lain, penggunaan perangkat berbasis Apple terus meningkat. Data menunjukkan pengiriman Mac tumbuh 16,4% pada periode 2024–2025, tertinggi dibandingkan merek lain.
Namun, peningkatan ini juga diiringi lonjakan ancaman, dengan lebih dari 26.000 sampel malware macOS teridentifikasi pada 2025. Bahkan, hampir 73% perangkat Mac kini memiliki setidaknya satu aplikasi yang rentan.
VP Portfolio Strategy Jamf Michael Covington menekankan pentingnya kesadaran terhadap risiko ini.
“Tujuan riset ini adalah meningkatkan kesadaran para pemimpin keamanan terhadap risiko yang dihadapi organisasi, sehingga mereka dapat memastikan deteksi ancaman, kepatuhan, dan respons keamanan berjalan optimal,” ujarnya.
Meski fokus penelitian ini pada macOS dan perangkat mobile, Jamf menegaskan sistem operasi lain juga tidak luput dari risiko serupa.
Langkah pencegahan paling sederhana sekaligus krusial adalah memastikan sistem operasi dan aplikasi selalu diperbarui. Pembaruan tidak hanya menghadirkan fitur baru, tetapi juga menutup celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.









