Hacker bisa kirim pesan palsu di grup WhatsApp

Para peneliti di perusahaan keamanan siber Israel - Checkpoint menyatakan telah menemukan celah dalam WhatsApp

Hacker bisa kirim pesan palsu di grup WhatsApp (Foto: Shutterstock)

Para peneliti di perusahaan keamanan siber Israel, yaitu Checkpoint menyatakan telah menemukan celah keamanan di WhatsApp. Celah itu memungkinkan hacker atau peretas untuk memodifikasi dan mengirim pesan palsu dalam aplikasi WhatsApp. 

Checkpoint mengatakan kerentanan itu memberikan peretas kemungkinan untuk mencegah dan memanipulasi pesan yang dikirim oleh orang-orang dalam grup WhatsApp atau obrolan pribadi. Tak hanya itu, kerentanan ini juga bisa memungkinkan peretas membuat dan menyebarkan informasi yang salah.


BACA JUGA

Fitur Picture in Picture WhatsApp sudah bisa digunakan

Bos bisnis WhatsApp mundur dari perusahaan

WhatsApp gandeng Disney hadirkan stiker Ralph Breaks the Internet


Laporan kerentanan itu muncul karena whatsApp menjadi sorotan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi yang salah karena popularitasnya dan kenyamanannya untuk meneruskan pesan ke grup-grup lain. 

Sebagaimana diketahui, WhatsApp menjadi aplikasi yang mengguncang masyarakat India. Belum lama ini 20 warga India dibantai oleh massa yang mengamuk, dituduh menculik anak dan tuduhan kejahatan lain akibat pesan-pesan yang tersebar di WhatsApp. 

"Kami meninjau dengan seksama masalah ini dan itu sama dengan mengubah email agar terlihat seperti sesuatu yang tidak pernah ditulis oleh seseorang," kata WhatsApp melalui sebuah pernyataan.

Terkait kerentanan yang dituduhkan pada platform-nya, pihak WhatsApp mengatakan "Klaim ini tidak ada hubungannya dengan keamanan enkripsi end-to-end, yang memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca pesan yang dikirim di WahtsApp". 

Atas insiden di India sendiri, WhatsApp telah membatasi opsi pesan terusan (forwarding) serta menambahkan label pada pesan terusan tersebut. Selain itu, WhatsApp juga membuat serangkain perubahan pada obrolan grup guna meminimalisir misinformasi. Demikian dilansir Phys (9/8).

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: