BMKG: Super Blue Blood Moon berpotensi pengaruhi cuaca

Fenomena langka gerhana Super Blue Blood Moon akan berdampak pada keadaan alam sekitar

Gerhana langka “Super Blue Blood Moon” yang akan terjadi pada 31 Januari mendatang, turut membuat Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat berhati-hati karena pengaruh perubahan alam sekitar dari fenomena gerhana tersebut.

Source image by Medium.com

 

Fenomena Super Blue Blood Moon ini terjadi akibat posisi matahari, bumi, dan bulan yang berada pada satu garis. Selain itu, fenomena ini juga dipengaruhi akibat posisi bumi yang berada pada jarak terdekat dengan matahari. Tentu saja, fenomena ini termasuk dalam fenomena langka yang hanya terjadi setiap 152 tahun sekali.

“Kejadian ini sangat langka. Fenomena Super Blue Blood Moon ini hanya akan terulang lebih dari 100 tahun lagi. Hanya 152 tahun sekali,” kata juru bicara BMKG.

Lokasi yang ideal untuk dijadikan tempat pengamatan fenomena ini berada di Observatorium Bosscha Lembang, Pulau Seribu, Ancol, Planetarium, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Museum Fatahillah, Setu Babakan Kampung Betawi, dan di Bukit Tinggi.

Sementara, tempat yang ideal untuk melakukan observasi fenomena ini berada mulai dari daerah perbatasan Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga daerah yang berada di sebelah barat Sumatra. Bahkan, lokasi barat Sumatera menjadi zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung.

Sayangnya, fenomena langka ini juga berdampak pada perubahan alam sekitar. BMKG juga menghimbau masyarakat untuk mewaspadai tinggi pasang air maksimum yang bisa mencapai ketinggian 1,5 meter, dan juga surut minimum hingga 110 cm. Mereka mengklaim bahwa hal ini akan terjadi mulai 30 Januari hingga 1 Februari 2018 mendatang.

Bukan hanya itu, BMKG juga mengatakan bahwa fenomena ini terjadi bersamaan dengan fenomena angin dari arah Asia di sebelah barat Indonesia, yang bisa menimbulkan kecepatan Angin yang cukup tinggi, tinggi gelombang, dan hujan lebat.

Dari dua fenomena ini, BMKG menghimbau masyarakat agar waspada pada potensi genangan, banjir, dan longsor di daerah yang berpotensi hujan lebat. Jadi, kejadian alam ini akan berbahaya bagi kapal berukuran kecil atau pun bagi kapal-kapal logistik. Bahkan BMKG menghimbau untuk menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: