Begini hasilnya ketika AI menulis buku

Kecerdasan buatan kembali mampu menunjukkan potensinya. Bahkan saat ini, sebuah buku yang ditulis oleh AI berhasil diterbitkan.

Begini hasilnya ketika AI menulis buku Sumber gambar: Pexel

Sebuah buku yang ditulis oleh AI diklaim telah terbit. Bukan sekadar buku biasa, ini merupakan sebuah buku penelitian dengan judul Lithium-Ion Batteries: A Machine-Generated Summary of Current Research.

Sesuai dengan namanya, buku ini sebenarnya bukan merupakan buku dengan konten terhubung pada setiap babnya. Isinya lebih merupakan rangkuman dari penelitian yang pernah terbit terkait baterai lithium-ion. Menariknya, buku dengan konsep e-book ini menyertakan sejumlah kutipan, tautan bahkan referensi dari topik terkait.


BACA JUGA

AI bisa deteksi deepfake hanya belajar dari foto

AI bisa pecahkan teka teki rubik dalam 1,2 detik

Elon Musk berencana implantasi sensor di otak manusia


TheVerge (12/4) mencatat bahwa isi buku ini memang tajam. Namun, fakta bahwa buku yang ditulis AI hadir justru menimbulkan dilema tersendiri. Henning Schoenenberger (yang ternyata seorang manusia) menyatakan bahwa buku tersebut memiliki potensi untuk memulai era baru dalam penerbitan ilmiah. Hal ini dilakukan dengan mengotomatisasi pekerjaan yang dinilai “membosankan”.

“Metode ini memungkinkan pembaca untuk  mempercepat proses pencernaan literatur dari bidang penelitian tertentu ketimbang harus membaca ratusan artikel. Pada saat yang sama, jika diperlukan, pembaca dapat mengidentifikasi dan mengakses sumber asli untuk menggali lebih dalam dan mengeksplorasi subjek lebih jauh lagi.” tulis Schoenenberger dalam kata pengantar buku itu.

Ia juga menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir saja, ada lebih dari 53.000 penelitian tentang lithium-ion yang berhasil diterbitkan. Langkah otomatisasi dengan AI ini akan menghemat waktu para peneliti untuk melanjutkan bidang penelitian yang dinilai penting.

Tulisan yang dibuat oleh AI sebenarnya bukan hal yang baru, namun hasilnya masih sangat terbatas. AI belum dapat bersaing dengan koherensi kalimat dan struktur panjang yang bisa dibuat penulis manusia. Sementara tulisan fiksi atau puisi yang pernah dibuat AI lebih merupakan permainan format ketimbang menciptakan bacaan yang menarik untuk dinikmati.

Di dunia Jurnalisme, metode ini sebenarnya sudah digunakan selama beberapa waktu. AI digunakan untuk menghasilkan ringkasan pertandingan sepak bola, gempa bumi dan berita keuangan yang sarat dengan data statistik.

Kendati begitu, Jeff Bigham, seorang profesor di Human-Computer Interaction Institute Carniage Mellon menyatakan hal ini bukanlah sebuah prestasi besar. Ia menekankan, asalkan teks inputnya bersifat koheren, ringkasan tersebut pun akan koheren. Mello menyatakan jauh lebih sulit menciptakan sesuatu yang dianggap berharga oleh pembaca manusia.

Meski masih terdapat beberapa kekurangan dalam buku tersebut, hal ini tetap menunjukkan potensi AI untuk mempermudah manusia di masa depan. Mungkin di masa depan, AI bakal bisa menulis buku sendiri, bukan sekadar merangkum ribuan hasil penelitian yang pernah terbit.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: