Asus ZenBook S UX391

Review Asus ZenBook S UX391, si mungil yang tahan banting

Dihargai setara dengan motor matic premium, Asus ZenBook S UX391 menargetkan laptop ini untuk para eksekutif.

Review Asus ZenBook S UX391, si mungil yang tahan banting Asus ZenBook S UX391 (Tek.id/chandra)

Asus semakin berani menawarkan laptop premium untuk pasar Indonesia. Hal ini dikarenakan mereka mulai melihat pasar laptop premium di Indonesia sebagai pasar yang menggiurkan.

Kali ini, mereka membawa ZenBook S UX391. Dalam acara peluncurannya, Asus menargetkan laptop ini bagi eksekutif yang memperhatikan gaya mereka. Meski begitu, perusahaan teknologi asal Taiwan tersebut tetap membenamkan performa yang sangat baik dalam laptop tersebut.

Beruntung, Tek.id berkesempatan untuk mencoba laptop seharga motor matic premium tersebut. Lalu, bagaimana pengalaman saya saat menggunakan laptop ini selama beberapa minggu terakhir? Nah, jika penasaran, silahkan simak ulasannya berikut ini.

Desain elegan, daya tahan sekelas militer

Saat pertama kali melihat box dari laptop ini, kesan pertama yang saya dapatkan adalah elegan. Dibalut dengan warna hitam dan dipadukan dengan sedikit warna emas, seperti ingin memperlihatkan kemewahan yang ditawarkan Asus pada laptop ZenBook S UX391.

Setelah box dibuka, saya disambut dengan logo Asus yang dibalut warna Rose Gold. Hal ini membuat kesan pertama yang muncul di pikiran saya adalah desainnya yang sangat elegan. Asus pun menawarkan dua varian warna di laptop, yakni Deep Dive Blue dan Burgundy Red yang merupakan warna spesial. Saat itu, saya mendapat versi Deep Dive Blue.

Saat diangkat, laptop berjenis ultrabook ini sangat tipis dan sangat ringan. Memiliki ketebalan yang hanya 12,9 mm, UX391 ini punya bobot 1Kg saja. Ya, laptop ini sangat cocok bagi para perempuan yang tidak ingin memiliki laptop yang berat.

Kembali ke desain, saya semakin mendapatkan aura elegan melalui adanya sebuah garis tipis di bagian body perangkat yang berwarna sama dengan logo Asus di bagian depan, yakni Rose Gold. Perpaduan kedua warna ini sangatlah cocok, sehingga bagi mereka yang memperhatikan gaya, ultrabook ini akan sangat mudah masuk ke produk fashion yang mereka kenakan.

Meski masuk ke kategori ultrabook 13 inci, namun saya tidak merasa laptop ini memiliki ukuran tersebut. Hal ini dapat tercapai dengan bezel layar yang sangat tipis. Asus mengklaim rasio layar ke badan yang mencapai 85 persen.

Saya dapat dengan mudah memasukkan UX391 ke dalam tas kerja istri saya, yang memang berukuran cukup kecil. Sayang, saat saya mencoba memasukannya kedalam salah satu slingbag yang berukuran cukup besar, ultrabook ini tidak dapat masuk.

Oh iya, bila Anda memiliki pemikiran laptop ini akan ringkih, maka Anda salah. Terbuat dari unibody berbahan metal, Asus memberikan jaminan Military Grade untuk laptop ini. Mereka mengklaim bahwa meski terjatuh atau ada di dalam kondisi ekstrem baik di suhu yang sangat tinggi ataupun sangat rendah, UX391 akan dapat bertahan dengan baik.

Selain memiliki daya tahan yang baik, Asus pun menggunakan cat untuk metal. Jadi, tak heran bilamana ultrabook ini sangat mengkilap dan menarik perhatian.

Berbicara mengenai keamanan, UX391 juga memiliki pemindai sidik jari. Sepertinya, fitur ini sudah menjadi sebuah fitur yang wajib ada di setiap ultrabook premium zaman sekarang.

Sayang, meski memiliki tampilan yang cantik, ada beberapa pengorbanan yang harus dibayar oleh para penggunanya. Hal tersebut adalah port koneksi yang total sebanyak tiga buah merupakan USB Type-C.

Satu port di sebelah kiri biasanya saya gunakan sebagai tempat pengisian daya. Sedangkan salah satu dari dua slot lain yang berada di sebelah kanan saya pergunakan untuk adaptor yang memungkinkan saya mengkoneksikannya dengan mouse atau penyimpanan yang masih menggunakan port USB Type-A.

Perlu diketahui, kedua port USB-Type C yang ada di sebelah kanan sudah menggunakan teknologi Thunderbolt 3. Maka saat kita berbicara mengenai kecepatan transfer data, tidak diragukan lagi kecepatannya.

Peletakan port audio 3,5mm pun sangat unik. Bukan menyatu dengan body utama, Asus memilih untuk memindahkannya ke bagian layar. Meski aneh dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri, setidaknya saya sangat bersyukur masih dapat menemukan fitur ini di UX391.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: