Teknologi Layar Bioskop Terus Berevolusi, Apa yang Berubah?
Seiring perkembangan teknologi, layar bioskop ikut mengalami perubahan menghadirkan gambar yang lebih besar, tajam, terang, dan membuat penonton semakin larut dalam cerita.
Ilustrasi layar bioskop. dok. Magnific
Menonton film bukan lagi persoalan melihat gambar yang ditayangkan pada layar besar.
Seiring perkembangan teknologi, layar bioskop ikut mengalami perubahan menghadirkan gambar yang lebih besar, tajam, terang, dan membuat penonton semakin larut dalam cerita.
National Air and Space Museum mencatat Fox Grandeur sebagai format film 70mm pertama yang diperkenalkan pada 1929.
Kemudian, Cinerama hadir pada 1952 dengan menggunakan beberapa proyektor untuk menghasilkan tampilan layar yang lebih lebar.
Pada dekade 1950-an, CinemaScope dan VistaVision juga dikembangkan dengan memperlebar gambar dari format 35mm.
Perkembangan layar bioskop kemudian mengarah pada lahirnya IMAX. Teknologi ini berawal dari eksperimen pada Expo 67 di Montreal, Kanada, ketika dua film ditampilkan menggunakan beberapa layar dan proyektor secara bersamaan.
Eksperimen tersebut mendorong pengembangan sistem baru yang menggunakan satu kamera, satu proyektor, dan layar berukuran sangat besar.
IMAX akhirnya menggunakan film 70mm yang berjalan secara horizontal dengan 15 perforasi per frame.
Format tersebut menghasilkan area gambar sekitar sembilan kali lebih besar dibandingkan film 35mm konvensional.
Film IMAX pertama, Tiger Child, diputar pada Expo 70 di Osaka, Jepang. Setahun kemudian, sistem IMAX permanen pertama dipasang di Cinesphere Theater, Toronto. Teknologi tersebut kemudian berkembang ke layar berbentuk kubah dan format IMAX 3D.
Saat ini, IMAX pun tidak lagi hanya mengandalkan proyektor film. National Air and Space Museum menyebut sejumlah bioskop IMAX telah beralih ke proyektor laser, sementara format 70mm masih digunakan di sejumlah lokasi tertentu.
Menurut Samsung Business Insights, proyektor laser kini menjadi teknologi proyeksi yang dominan di banyak bioskop komersial.
Namun, perkembangan layar bioskop tidak berhenti di sana. Teknologi LED mulai digunakan sebagai alternatif baru untuk menampilkan gambar secara langsung pada permukaan layar.
Berbeda dengan proyektor yang memancarkan cahaya ke permukaan layar, panel LED menghasilkan cahaya dari layar itu sendiri.
Setiap piksel dapat dikontrol secara individual sehingga memungkinkan tingkat kontras yang lebih tinggi, termasuk menghasilkan warna hitam yang lebih pekat.
Samsung menyebut teknologi LED Cinema sebagai salah satu perkembangan yang mulai membentuk generasi baru pengalaman menonton di bioskop.
Samsung memasang layar Cinema LED pertamanya, Onyx Cinema LED, pada 2017 di Lotte Cinema World Tower, Seoul, Korea Selatan.
Kehadiran teknologi tersebut menjadi salah satu contoh pergeseran dari sistem proyeksi menuju layar yang menghasilkan gambar secara langsung.
Sementara itu, Dolby Cinema menggabungkan Dolby Vision dengan Dolby Atmos.
Dolby Vision menggunakan proyeksi laser untuk menghasilkan gambar dengan rentang kontras dan warna yang lebih luas, sedangkan Dolby Atmos menghadirkan sistem audio berbasis objek yang memungkinkan suara ditempatkan dalam ruang tiga dimensi.
Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana layar bioskop menghadirkan pengalaman visual yang lebih menarik.
Film yang pada awalnya hanya menggunakan lembaran film dan proyektor kini hadir melalui proyeksi laser serta layar LED yang menghasilkan cahaya langsung.









