×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Krisis Chip Bikin Smartphone Makin Mahal, Era Ponsel Murah Mulai Berakhir

Oleh: Tek ID - Minggu, 06 September 2026 19:15

Krisis memori membuat harga smartphone melonjak pada 2026. Konsumen kini perlu mengutamakan baterai, durability, dan umur pakai.

Krisis Chip Bikin Smartphone Makin Mahal Ilustrasi kelangkaan RAM. dok. Ist

Membeli smartphone murah dengan spesifikasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun bakal semakin sulit. 

Krisis pasokan memori global sepanjang 2026 telah membuat biaya produksi ponsel melonjak, mendorong harga naik dan memaksa produsen menyesuaikan spesifikasi perangkat.

International Data Corporation (IDC) memproyeksikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) smartphone global naik 27,6% pada 2026 menjadi 581 dolar AS atau sekitar Rp10,24 juta. 

Angka tersebut meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar 523 dolar AS atau sekitar Rp9,22 juta.

Pada saat yang sama, pengiriman smartphone global diperkirakan merosot 16,7% menjadi sedikit di atas 1 miliar unit sepanjang 2026. 

Jika terealisasi, penurunan tersebut menjadi kontraksi tahunan terdalam yang pernah dialami industri smartphone.

Tekanan terutama datang dari lonjakan harga DRAM dan NAND Flash. Counterpoint Research mencatat harga DRAM global naik lebih dari 50% secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, sedangkan NAND Flash melonjak lebih dari 90%.

IDC bahkan mencatat biaya memori pada kuartal kedua 2026 hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya. 

Pada smartphone kelas bawah, komponen memori kini dapat menyumbang lebih dari 65% terhadap bill of materials (BOM), sehingga produsen memiliki ruang yang semakin sempit untuk mempertahankan harga murah.

Senior Director Data & Analytics IDC Nabila Popal menilai perubahan struktur biaya tersebut akan membawa industri smartphone memasuki era baru.

“Era smartphone ultramurah telah berakhir,” ujar Popal.

Kondisi itu membuat produsen menghadapi pilihan sulit: menaikkan harga jual, mengurangi spesifikasi tertentu, atau menggeser fokus ke segmen dengan margin lebih tinggi.

Counterpoint Research menemukan sejumlah produsen mulai menyesuaikan kapasitas penyimpanan, konfigurasi kamera, hingga komponen lainnya untuk mengendalikan biaya.

Research Director Counterpoint Research Tarun Pathak mengatakan lonjakan biaya memori telah mengubah struktur biaya smartphone dan menyisakan sedikit ruang bagi produsen untuk menanggung kenaikan tersebut sendiri.

Dampaknya sudah terlihat pada harga jual. Secara global, harga smartphone yang sudah beredar meningkat rata-rata sekitar 15% sepanjang 2026, sedangkan produk baru diluncurkan dengan harga rata-rata sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan generasi tahun sebelumnya.

Indonesia termasuk pasar yang rentan terhadap kondisi tersebut karena sebagian besar volume penjualan masih berasal dari segmen entry-level dan menengah.

Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Kenaikan harga pada sejumlah model, baik produk lama maupun baru, berkisar 7%-45%.

“Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” ujar Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain.

Segmen smartphone berharga di bawah 150 dolar AS atau sekitar Rp2,64 juta turun 19% secara tahunan di Indonesia. 

Sebaliknya, smartphone premium di atas 600 dolar AS atau sekitar Rp10,58 juta justru mencapai kontribusi tertinggi sepanjang sejarah, sebesar 8,3% dari total pengiriman dan tumbuh 30% secara tahunan.

Perubahan tersebut menunjukkan tekanan biaya komponen tidak dirasakan secara merata. 

Smartphone murah memiliki margin yang lebih tipis sehingga kenaikan harga memori memberikan dampak lebih besar dibandingkan pada perangkat premium.

Secara global, IDC memperkirakan tekanan paling besar akan terjadi pada smartphone di bawah 200 dolar AS atau sekitar Rp3,53 juta. 

Segmen dengan harga di bawah 100 dolar AS atau sekitar Rp1,76 juta bahkan semakin sulit dipertahankan.

Kondisi tersebut juga mengubah cara konsumen perlu menilai sebuah smartphone.

Jika sebelumnya peningkatan kapasitas RAM, penyimpanan, atau chipset kerap menjadi daya tarik utama ketika mengganti perangkat, konsumen kini perlu mempertimbangkan berapa lama ponsel dapat digunakan secara nyaman.

Daya tahan baterai menjadi salah satu faktor penting. Kapasitas besar di atas kertas tidak otomatis menjamin penggunaan yang panjang apabila konsumsi daya perangkat tidak efisien atau kondisi baterainya cepat menurun setelah beberapa tahun.

Konsistensi performa juga perlu diperhatikan. Smartphone yang tetap responsif setelah digunakan satu hingga dua tahun dapat menawarkan nilai lebih baik dibandingkan perangkat dengan spesifikasi tinggi yang cepat mengalami penurunan performa.

Selain itu, konsumen perlu mempertimbangkan masa dukungan pembaruan sistem operasi dan keamanan, ketahanan fisik perangkat, kemudahan perbaikan, serta ketersediaan suku cadang.

Pertimbangan tersebut menjadi semakin relevan ketika harga perangkat meningkat dan konsumen memilih memperpanjang siklus penggunaan smartphone.

Tekanan biaya tidak hanya membuat harga naik. Sejumlah produsen mulai mengoptimalkan konfigurasi perangkat agar tetap dapat menjangkau target harga tertentu.

Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai mengatakan penyesuaian dapat menyentuh berbagai komponen.

“Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” ujarnya.

Penyesuaian serupa juga dapat terjadi pada layar, audio, memori, maupun kapasitas penyimpanan. 

Karena itu, konsumen perlu lebih teliti membandingkan spesifikasi antara satu generasi dan generasi berikutnya meski nama produknya terlihat serupa.

Transparansi konfigurasi menjadi semakin penting agar konsumen mengetahui perubahan apa saja yang dilakukan produsen untuk mempertahankan harga.

Pada saat bersamaan, optimalisasi perangkat lunak akan memainkan peranan lebih besar. Ketika peningkatan perangkat keras tidak lagi semudah sebelumnya, kemampuan produsen menjaga efisiensi, kestabilan performa, dan masa dukungan perangkat dapat menjadi pembeda.

×
back to top