Pakai Charger 100W tapi Baterai Tetap Lama Terisi? Ini Penyebabnya
Charger 100W belum tentu membuat baterai HP lebih cepat penuh. Kecepatan charging ditentukan HP, kabel dan standar fast charging.
Charger Smartphone. dok. Magnific
Angka 100W yang tertera pada charger tidak otomatis membuat baterai smartphone terisi dengan daya sebesar 100W.
Kecepatan pengisian sebenarnya ditentukan oleh kombinasi kemampuan ponsel, charger, kabel, hingga standar fast charging yang digunakan.
Artinya, smartphone yang hanya mendukung pengisian maksimal 20W tidak akan tiba-tiba mengisi daya lima kali lebih cepat ketika dipasangkan dengan charger 100W.
Perangkat akan membatasi daya yang diterima sesuai kemampuan dan sistem pengisian baterainya.
- POCO C81 Pro Tawarkan Performa Stabil untuk Gaming dan Multitasking
- POCO Tebar Promo Akhir Bulan, C81 Pro dan F7 Ultra Dijual dengan Harga Lebih Murah
- Paket Lengkap Infinix HOT 70: Desain Tipis, Gaming Lancar, Baterai Tahan Lama
- POCO C81 Pro Rilis di Indonesia, Hape Rp1 Jutaan dengan Baterai Besar dan Layar Lebar
Karena itu, angka watt besar pada charger sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ketika pengguna menginginkan pengisian baterai yang lebih cepat.
Hal pertama yang perlu diperiksa justru spesifikasi smartphone. Angka watt pengisian pada ponsel menunjukkan batas maksimal daya yang dapat diterima perangkat dalam kondisi tertentu.
Charger kemudian harus mampu menyediakan daya sekaligus mendukung standar pengisian yang kompatibel dengan smartphone.
Salah satu standar yang banyak digunakan adalah USB Power Delivery atau USB PD, yang dapat ditemukan pada smartphone, tablet hingga laptop.
Namun, tidak semua produsen menggunakan sistem yang sama. Oppo dan OnePlus, misalnya, menggunakan teknologi fast charging SuperVOOC pada perangkat tertentu. Xiaomi juga memiliki teknologi HyperCharge.
Perbedaan standar tersebut membuat charger dengan kapasitas daya besar belum tentu mampu mengaktifkan kecepatan pengisian maksimal pada semua smartphone.
Charger 100W dari satu ekosistem, misalnya, belum tentu membuat ponsel dari produsen lain menerima daya 100W.
Selain ponsel dan charger, kabel berperan penting dalam menentukan besarnya daya yang dapat disalurkan.
Kabel yang tidak dirancang untuk menangani daya sesuai kebutuhan perangkat dapat menjadi pembatas meskipun smartphone dan charger sama-sama mendukung pengisian berdaya tinggi.
Dengan demikian, menggunakan charger 100W tetapi memasangkannya dengan kabel yang kemampuan penghantaran dayanya lebih rendah dapat membuat pengguna tidak memperoleh kecepatan pengisian yang diharapkan.
Kompatibilitas protokol juga perlu diperhatikan. Samsung dan Google, misalnya, menggunakan sistem pengisian berbasis USB PD dengan dukungan Programmable Power Supply (PPS) pada sejumlah perangkat.
PPS memungkinkan smartphone meminta perubahan tegangan dan arus secara lebih presisi selama proses pengisian.
Mekanisme tersebut membantu meningkatkan efisiensi sekaligus mengendalikan panas yang dihasilkan.
Ada faktor lain yang membuat angka watt pada spesifikasi tidak dapat diterjemahkan langsung menjadi kecepatan pengisian dari 0 hingga 100 persen.
Smartphone tidak selalu menarik daya maksimal sepanjang proses pengisian. Sistem manajemen baterai umumnya akan menyesuaikan daya berdasarkan sejumlah kondisi, termasuk kapasitas dan temperatur baterai.
Ketika baterai semakin mendekati kapasitas penuh, daya pengisian biasanya akan diturunkan. Karena itu, proses pengisian pada persentase akhir dapat terasa lebih lambat dibandingkan ketika baterai masih berada pada tingkat rendah.
Pengaturan tersebut dibutuhkan untuk mengendalikan temperatur sekaligus membantu menjaga kesehatan baterai dalam penggunaan jangka panjang.
Dengan demikian, label pengisian 100W bukan berarti smartphone terus-menerus menerima daya 100W dari baterai kosong hingga penuh.
Sumber listrik rumah pada dasarnya juga bukan faktor utama selama mampu memasok kebutuhan charger secara normal.
Charger bertugas mengonversi dan mengatur listrik dari sumber agar dapat digunakan perangkat.
Bagi pengguna yang membutuhkan satu charger untuk beberapa perangkat, charger USB-C dengan USB Power Delivery dan PPS dapat menjadi pilihan karena memiliki kompatibilitas luas. Kapasitas dayanya dapat disesuaikan dengan perangkat yang memiliki kebutuhan paling tinggi.
Namun, pengguna tetap perlu memeriksa kompatibilitas perangkat. Charger USB PD berdaya tinggi belum tentu dapat mengaktifkan kecepatan tertinggi smartphone yang bergantung pada teknologi fast charging khusus seperti SuperVOOC atau HyperCharge.
Jadi, ketika memilih charger, jangan hanya tergiur angka 65W, 100W, atau bahkan lebih tinggi. Smartphone, charger, kabel, dan protokol pengisian harus sama-sama kompatibel agar perangkat dapat memperoleh kecepatan pengisian optimal.









