Kenapa Apple Watch jadi smartwatch terbaik?

Tidak bisa ditampik, Apple Watch banyak menawarkan fitur yang tidak dimiliki smartwatch pada umumnya.

Kenapa Apple Watch jadi smartwatch terbaik? Source: YouTube

Beberapa waktu lalu, Strategy Analytics merilis laporan pengiriman smartwatch global pada kuartal ketiga tahun ini. Dalam laporan itu, Apple berhasil bercokol di puncak. Perusahaan yang berbasis di Cupertino ini berhasil mengirimkan 6,8 juta Apple Watch selama kuartal ketiga dari total 14,2 juta di industri ini. Pangsa pasarnya 47,9%. Angka ini jauh melampaui para kompetitornya, bahkan Samsung atau Fitbit. 

Pertumbuhan tahunan Apple Watch yang pesat cukup membuktikan bahwa perusahaan berhasil meracik jam tangan pintar dan digemari orang. Padahal, kalau mau ditarik ke masa lampau, Apple Watch bukanlah produk smartwatch pertama. Malahan, Apple Watch muncul setelah tren smartwatch mulai bangkit di kalangan vendor-vendor smartphone Android. 

 

Smartwatch di dunia

Smartwatch memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah itu dimulai sejak 1972 ketika Hamilton Watch Company membuat jam tangan digital pertama. Singkat cerita, smartwatch yang kita kenal saat ini sebenarnya baru mulai muncul pada 2012. 

Sony memulai tren smartwatch dengan sebuah smartwatch yang menjalankan sistem operasi Android yang sudah dimodifikasi. Tren itu semakin meluas kala Pebble mengkampanyekan proyek smartwatch di Kickstarter. Smartwatch Pebble itu digunakan untuk mengendalikan smartphone, bahkan terkoneksi ke kamera GoPro. Proyek ini pun menjadi populer. 

Google turut meramaikan tren ini dengan mengumumkan kehadiran Android Wear pada ajang Google I/O tahun 2013. Bersamaan dengan itu kolaborasi pertama Android Wear muncul, yakni Moto 360. 

Dua tahun sejak Android Wear dirilis, barulah Apple ikut terjun ke lini bisnis ini. Apple Watch resmi hadir bersamaan dengan dua perangkat iPhone baru. Nah, dari sini, tulisan ini akan lebih dalam mengulas, mengapa Apple Watch menjadi smartwatch terbaik, dan berhasil mendominasi pangsa pasar smartwatch di dunia. 

 

Apple Watch bukan kaleng-kaleng

Sekelumit kisah Apple Watch memang menarik untuk diikuti. Jony Ive, Senior Vice President Design Apple, kala itu, sudah bermimpi membuat sebuah jam tangan pintar, sesaat setelah kepergian Steve Jobs pada Oktober 2011. Ide dasarnya adalah pemakaian smartphone sudah semakin invasif. Orang cenderung tenggelam dengan ponsel mereka, bahkan ketika momen penting terjadi. Gambaran itu juga yang terjadi sampai saat ini. 

Inilah yang ingin dihilangkan Apple, dengan menawarkan tingkat engagement baru melalui Apple Watch. Untuk itu, sejumlah percobaan dilakukan. Itu pun tidak selalu berlangsung dengan mulus. Sikap perfeksionis Jony Ive membuat semuanya terkesan lambat. Walau begitu, karena sikap itulah, tercipta Apple Watch seperti yang kita kenal saat ini. 

Jony Ive tidak mau neko-neko. Purwarupa yang tidak sesuai dengan harapannya langsung ditolak. Tim kecil yang dibentuk untuk mengembangkan Apple Watch ini harus bekerja sangat keras. Bahkan, hanya untuk menentukan suara dan metode sentuhan di Apple Watch saja, butuh waktu satu tahun lamanya. SATU TAHUN!

Tidak terhitung ada berapa banyak purwarupa yang sudah diajukan dalam pengembangan perangkat ini. Saking banyak dan rumitnya, Wired (13/11) melaporkan, jumlahnya setara dengan 10.000 proyek inovasi yang ada di Kickstarter. 

“Beberapa terlalu menjengkelkan, terlalu halus atau bahkan terasa seperti serangga di pergelangan tangan Anda’ ungkap Kevin Lynch. Dia merupakan salah satu orang yang direkrut ketika Apple berencana mengembangkan jam tangan pintar tersebut. 

Pada 20014, mimpi Ive akhirnya menjadi kenyataan. Setelah melewati proses rumit dan melelahkan, Apple dengan bangga mempersembahkan Apple Watch.Tidak dapat dimungkiri, perangkat ini memang menarik minat banyak penggemar teknologi. Terlepas dari desainnya, baik fitur dan fungsionalitasnya bisa dibilang sudah lebih maju daripada semua smartwatch pada zamannya. Setidaknya, butuh waktu 18 bulan bagi tim kecil itu untuk menyelesaikan Apple Watch. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: