Bagaimana layanan GoFood dan GrabFood mengubah kebiasaan?

Selain memberi nilai tambah bagi merchant, terdapat data menarik akibat pergerakan pemesanan makanan yang mengubah pola kebiasaan masyarakat urban.

Bagaimana layanan GoFood dan GrabFood mengubah kebiasaan?

Dari tiga penjaja makanan yang kami temui di seputaran Jakarta dan Kabupaten Bogor, dua di antaranya menggunakan layanan GoFood, satu penjaja makanan menggunakan dua layanan, GoFood dan GrabFood.

Supri misalnya, penjaja nasigoreng yang biasanya mangkal di Jl. Raya Alternatif Transyogie, Kabupaten Bogor, telah menggunakan Gofood sejak dua tahun lalu. Ia sendiri berjualan sejak 2009 di lokasi tersebut.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Kuliah dengan beasiswa, pendaftaran ditutup hari ini

Sempat down, layanan Telkomsel dan Ovo normal lagi

Satelit Kacific hadirkan internet untuk daerah terpencil Indonesia


Setelah mencoba menjadi mitra merchant GoFood, omsetnya naik hingga 10%-30%. Sebelum bersama GoFood, ia biasa mengantongi omset Rp800 ribu per hari. Setelah menjadi mitra GoFood, omsetnya melejit menjadi Rp1,1 – Rp1,2 juta per hari. Saat ini, paling sepi ia bisa membawa pulang Rp1 juta sehari.

Pesanan online dari GoFood biasanya ramai diterima oleh Supri sehabis Isya. Karena belum menggunakan GrabFood, ia mengaku ditawari untuk bergabung. Hanya saja, Supri masih bimbang dan belum memutuskan bergabung sampai saat ini.

Setali tiga uang dengan Supri, pengusaha warung Mie Ayam Kota yang juga berjualan di Jl. Raya Alternatif Transyogie, Kabupaten Bogor, juga mengalami hal serupa. Karyawan warung, Wandi yang kami temui, mengaku warung tersebut telah menggunakan GoFood selama 5 bulan, sementara warung ini mulai buka awal 2019.

Wandi menyebut omset warungnya sebelum masuk GoFood sebesar Rp800 ribu per hari. Setelah bergabung sebagai merchant GoFood, warung tersebut menerima omset Rp1,3 juta sehari.

Syifa pemilik Warung Teras, di Jl. Bangka Raya, Jakarta Selatan, malah menggunakan dua layanan sekaligus, GoFood dan Grabfood. Syifa menuturkan performa pesanan dari GoFood 5 kali lebih tinggi dari GrabFood. Syifa sendiri menggunakan GoFood sudah tiga tahun lamanya, sementara ia baru menggunakan GrabFood selama setahun ini.

Sama seperti penjaja makanan lainnya, omset Warung Teras juga meningkat dari Rp700 ribu per hari menjadi Rp1 juta per hari, setelah menggunakan layanan pengantaran makanan.

Jumlah mitra merchant GoFood dan GrabFood memang punya gap yang besar. VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek, Rosel Lavina , mengumumkan telah memiliki 400 ribu mitra merchant di dalam platform mereka hingga Oktober 2019 ini. Sementara itu, Regional Head of GrabFood Kell Jay Lim, dilansir dari CNBC menyebutkan telah menggaet 200 ribu merchant hingga 2019 ini.

Mengubah pola kebiasaan masyarakat Urban

Ada temuan menarik dari Badan Pusat Statistik (BPS) di 2018 lalu. Dalam catatan mereka, terjadi perlambatan pertumbuhan komponen makanan dan minuman selain restoran dalam periode 2017-2018. Pada 2017 angka pertumbuhannya sebesar 5,36%, menjadi turun 4,81% pada 2018. Sebaliknya, komponen transportasi-komunikasi tumbuh dari 5,04% (2017) menjadi 6,14% (2018). Data restoran-hotel pun dicatat BPS mengalami kenaikan dari 5,31% (2017) menjadi 5,85% (2018).

Data tersebut memperkuat dugaan bahwa, terjadi perubahan pola hidup di masyarakat, yang biasanya memasak sendiri menjadi mengkonsumsi makanan jadi.

Berkaca pada data Nielsen periode Mei 2019 lalu, 95% masyarakat perkotaan Indonesia memesan makanan siap santap dalam tiga bulan terakhir. Survei ini dilakukan Nielsen di 7 kota besar Indonesai pada 1000 responden berbagai umur.

58% dari 95% pelanggan ini, membeli makanan mereka dengan cara memesan melalui aplikasi. Tren ini menjadi pilihan kedua setelah kebiasaan menyantap makanan di tempatnya langsung. 2,6 kali seminggu pelanggan memesan makanan menggunakan aplikasi.

Selain karena alasan menghemat waktu dan perjalanan, promosi jor-joran yang dilakukan penyedia layanan ini menjadi pendorong konsumen untuk membeli menggunakan aplikasi.

Survei singkat terhadap 23 rekan kerja di kantor tek.id, mengenai frekuensi layanan pemesanan online yang paling sering mereka gunakan, antara GrabFood dan GoFood, hasilnya cukup berimbang. 10 orang mengatakan sering menggunakan GrabFood, 11 orang lebih sering menggunakan GoFood, dan 3 orang menjawab sering menggunakan keduanya.

Uniknya, pengguna layanan perempuan yang lebih sering melihat promo sebagai alasan utama dalam memilih layanan pemesanan makan online.

“Kalau saya sih memang pengguna dua-duanya, lebih sering melihat promonya sih,” ujar Fahrul Haqi, CTO tek.id.

Persepsi pengguna layanan

Masih dalam catatan Nielsen (2019) GoFood memang diasosiasikan sebagai layanan pemesanan makanan online terbaik di Indonesia saat ini. Data Nielsen menyebut, persepsi konsumen terhadap layanan ini melebihi persepsi rata-rata industri di Indonesia, yang sejatinya terisi tiga kompetitor lain seperti GrabFood, Berry Kitchen (Yummybox), dan Kulineran.

Di antara masyarakat yang menggunakan lebih dari satu aplikasi pemesanan makanan di smartphone mereka, GoFood secara signifikan memimpin di sektor operasional. Menurut persepsi masyarakat, atribut layanan pemesanan makanan online yang menjadi pusat perhatian mereka adalah, ketepatan waktu, keramahan driver, pilihan restoran, pilihan masakan, pilihan menu, inovasi, hingga kecepatan memberikan resolusi keluhan pelanggan.

Terkait kemudahan penggunaan aplikasi, GoFood juga mendapat respon di atas rata-rata oleh pengguna lebih dari satu aplikasi. Hal ini berkaitan dengan metode top-up pembayaran, tampilan yang ramah dan mudah digunakan, personalisasi menu makanan di smartphone pengguna, pilihan menu dan merchant, GoFood masih di atas rata-rata industri.

Hanya saja, klaim tidak berhenti dari pihak GoFood, GrabFood Maret 2019 lalu pun mengklaim telah merambah 178 kota di Indonesia. Volume pengataran makanannya meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam periode 2017-2018. Durasi rata-rata pengantaran makanan yang dilakukan Grabfood mencapai 29 menit.

Menggunakan data Kantar, Grab menyebut GrabFood jadi layanan pemesanan makanan yang paling sering digunakan pengguna dibanding pesaingnya di Industri. Dalam data itu menyebutkan, GrabFood memiliki pangsa pasar sebesar 57% di Indonesia pada periode April-Juni 2019.

Strategi Cloud Kitchen

Jaringan pujasara, mulai diawali GoFood pada April 2018 di bilangan Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Sampai 2019, GoFood Festival telah membuka 30 titik di 16 Kota di Seluruh Indonesia. Konsep ini pun diikuti oleh GrabFood dengan menghadirkan GrabKitchen pada September 2018.

Konsep GrabKitchen merupakan dapur satelit untuk mendekatkan pelanggan dengan merchant favorit di aplikasi GrabFood. Analisa Grab menyebutkan, pengantaran makanan dan minuman lewat GrabKitchen di wilayah Kedoya, Jakarta Barat lebih cepat 20% dari biasanya. Fokus pengembangan bisnis pujasara ala GoFood dan GrabFood pun mulai tampak. GoFood Festival lebih mengedepankan konsep Pujasera untuk mempertemukan penjual dan pembeli di satu loksai sembari memperbesar basis komunitas. Sementara GrabKitchen lebih mengutamakan percepatan pengantaran pemesanan online lewat konsep cloud kitchen.

Ongki Kurniawan, Executive Director Grab Indonesia, menyampaikan pada tek.id, Sampai akhir tahun 2019 nanti mereka akan meluncurkan 50 GrabKitchen.

“Kenapa kita mengeluarkan GrabKitchen ini, intinya kita mau membantu dua hal, membantu menyesuaikan permintaan. Artinya kita bekerjasama dengan pemilik lahan, kita undang merchant yang untuk buka gerai di tempat tersebut. Jadi menggunakan analisa data, kita mendekatkan konsumen dengan merchant yang paling cocok di daerah tersebut,”

Mengandalkan data, jumlah pemesanan GrabFood mencapai lebih dari 20 juta pesanan perbulannya. Oleh karena itu Food Delivery menjadi layanan andalan Grab di Indonesia. Ongki mengakui pesanan makanan di beberapa wilayah di Indonesia malah lebih tinggi daripada pemesanan transportasi di aplikasi Grab.

Chief Food Officer Gojek Grup, Catherine Hindra Sutjahyo, melihat kompetesi di antara kedua layanan ini justru membangun industri lebih cepat. Hanya saja ia masih percaya, konsumen masih memilih GoFood sebagai pilihan utamanya.

“Konsumen masih memilih kita. Gofood yang paling friendly. Produknya paling bagus, drivernya paling ramah,” ujarnya saat ditemui di Jakarta.

Bagi merchant, hadirnya layanan pemesanan online seperti GoFood dan GrabFood menambah pundi-pundi rezeki mereka. Bagi pelanggan, kehadiran layanan ini mendekatkan mereka dengan makanan siap saji dimanapun dan kapanpun. Hal ini diperkuat pula oleh pernyataan Rudy Salahuddin, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kemenko Bidang Perekonomian.

“Di dalam GoFood dan GrabFood derifativ ke mereka (merchant) sebenarnya sama. (Tantangannya) misalnya bagaimana kita bisa menciptakan bahan baku makanan, kalau bisa dari petani bisa langsung ke merchant. Itu yang dinamakan transformasi ekonomi. Jadi barangnya yang bergerak, dan ini yang nantinya akan menumbuhkan pedesaan,” ujarnya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: