Studi Kaspersky: 100% Perusahaan di Indonesia Siap Terapkan AI dalam Operasi Keamanan
Studi Kaspersky mengungkap 100% perusahaan di Indonesia siap adopsi AI di SOC, meski masih menghadapi tantangan data, talenta, dan biaya.
Ilustrasi keamanan siber. dok. Kaspersky
Seluruh perusahaan di Indonesia yang berencana membangun Pusat Operasi Keamanan atau Security Operation Centre (SOC) menyatakan kesiapan untuk memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam operasi keamanan mereka.
Temuan ini terungkap dalam studi global terbaru yang dilakukan Kaspersky, yang menyoroti prioritas, harapan, dan tantangan pemanfaatan AI dalam meningkatkan kinerja SOC.
Studi tersebut menunjukkan 99 persen responden di kawasan Asia Pasifik berencana mengadopsi AI dalam operasi keamanan, dengan Indonesia mencatat angka tertinggi yakni 100 persen.
Dari jumlah tersebut, 67 persen menyatakan kemungkinan besar akan mengimplementasikannya, sementara 32 persen menegaskan akan melakukannya secara pasti.
- Kaspersky Ungkap Modus Penipuan Baru Manfaatkan Undangan Tim OpenAI
- 58 Persen Perusahaan di Indonesia Bangun SOC, Keamanan Siber Tetap Bertumpu pada Keahlian Manusia
- Serangan Siber di 2026 Diprediksi Makin Kompleks dengan Libatkan Ancaman Berbasis AI
- Ancaman Kuantum hingga API AI Jadi Alarm Keamanan Siber Asia Pasifik di 2026
Temuan ini menegaskan persepsi luas bahwa AI dipandang sebagai komponen krusial untuk memperkuat deteksi ancaman, mempercepat proses investigasi, serta meningkatkan efisiensi operasional SOC.
Dalam praktiknya, perusahaan di Asia Pasifik berharap AI mampu memperkuat deteksi ancaman melalui analisis data otomatis untuk mengidentifikasi anomali dan aktivitas mencurigakan (60 persen).
Selain itu, AI juga diharapkan memfasilitasi otomatisasi respons insiden melalui skenario yang telah ditentukan sebelumnya (55 persen), sehingga mempercepat penanganan insiden keamanan.
Ekspektasi tersebut sejalan dengan motivasi utama adopsi AI di SOC, yakni meningkatkan efektivitas deteksi ancaman secara keseluruhan (55 persen), mengotomatiskan tugas rutin (47 persen), serta meningkatkan akurasi sekaligus menekan tingkat positif palsu (45 persen).
Secara global, perusahaan berskala besar dilaporkan memiliki rencana yang lebih luas dan ambisius dalam menerapkan AI di berbagai fungsi SOC.
“Di seluruh Asia Pasifik, organisasi mengambil pendekatan pragmatis terhadap AI pada SOC, memprioritaskan kasus penggunaan yang memberikan dampak operasional langsung,” ujar Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky.
Ia menambahkan fokus utama perusahaan di kawasan ini adalah meningkatkan efektivitas deteksi, mengurangi kelelahan akibat peringatan keamanan, serta membebaskan tim keamanan dari pekerjaan rutin sehari-hari.
Meski antusiasme terhadap AI sangat tinggi, studi ini juga menyoroti kesenjangan nyata dalam eksekusi. Tantangan terbesar yang dihadapi organisasi di Asia Pasifik adalah kurangnya data pelatihan berkualitas tinggi, yang disebutkan oleh 44 persen responden sebagai hambatan utama dalam menghasilkan model AI yang akurat dan relevan.
Kendala lain meliputi keterbatasan talenta AI internal (37 persen), munculnya ancaman dan kerentanan baru terkait penggunaan AI (34 persen), kompleksitas integrasi dan pengelolaan alat AI (34 persen), serta biaya tinggi pengembangan dan pemeliharaan solusi berbasis AI (33 persen).
“Organisasi jelas menyadari nilai AI bagi SOC, tetapi transisi dari tahap eksperimen ke dampak nyata masih menjadi tantangan,” kata Anton Ivanov, Chief Technology Officer Kaspersky.
Menurutnya, kelangkaan talenta keamanan siber dan AI membuat pengembangan kapabilitas AI internal sulit diwujudkan, sehingga vendor keamanan siber berinvestasi besar dalam menghadirkan fitur berbasis AI pada produk mereka.
Untuk membantu organisasi membangun dan mengoperasikan SOC yang andal, Kaspersky merekomendasikan pendekatan terstruktur melalui layanan konsultasi SOC, pemanfaatan solusi SIEM berbasis AI, perlindungan EDR dan XDR, serta penguatan intelijen ancaman yang didukung kemampuan AI.
Pendekatan ini dinilai dapat membantu perusahaan mengubah strategi AI menjadi kapabilitas operasional yang nyata dan berkelanjutan.









