sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id praxis
Senin, 10 Mei 2021 22:31 WIB

Samsung ungkap teknologi di balik keberhasilan film Konfabulasi

Film pendek Konfabulasi berhasil digarap sutradara Angga Dwimas Sasongko berkat teknologi nona-binning yang ada di lensa kamera Galaxy S21 Ultra 5G.

Samsung ungkap teknologi di balik keberhasilan film Konfabulasi

Konfabulasi merupakan film pendek besutan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang proses syutingnya digarap dengan smartphone Samsung Galaxy S21 Ultra 5G. Meski dibuat dengan kamera smartphone, tidak mengurangi kualitas film ini dari segi pengambilan gambar ataupun penyampaian ceritanya.

Menurut Angga, ia sangat dimudahkan syuting menggunakan Galaxy S21 Ultra 5G. Selain lebih ringkas, langkah-langkah yang seharusnya dilakukan dengan kamera profesional, dapat dilewati bila menggunakan smartphone ini. 

Set up lokasi juga tidak serumit biasanya. Ini dikarenakan kemampuan perangkat yang andal mengambil adegan dalam kondisi low light. Angga mengaku, tidak banyak menggunakan lampu tambahan di lokasi dan hanya memanfaatkan cahaya yang ada atau seminimal mungkin menggunakan satu pencahayaan.

“Adegan penembakan di opening itu sebenarnya kalau kita lihat, lampunya hanya dari luar. Jadi kita sama sekali tidak memakai lampu di dalam ruangan,” kata Angga dalam workshop behind the scene Konfabulasi (10/5). “Kita berusaha bagaimana caranya walaupun dengan Galaxy S21, kita bisa eksplor sejauh mana sinematografi itu bisa jadi sangat progresif.”

Menurut Taufiq Furqon, Product Marketing Manager Samsung Mobile, Samsung Electronics Indonesia, kemampuan tersebut dapat dilakukan berkat disematkannya teknologi nona-binning pada lensa utama Galaxy S21 Ultra 5G, di mana mampu menggabungkan 9 piksel menjadi satu, sehingga gambar di area low light dapat lebih terang.

“Dia (teknologi nona-binnning) menggabungkan 9 piksel menjadi 1 piksel. Jadi seakan-akan, yang aslinya sensor hanya 0,8 mm atau 0,3 mm, dia menjadi 2,7 mm. Jadi sensornya seakan-akan lebih besar. Sehingga, impact-nya adalah ketika kita mengambil gambar di low light, itu gambarnya akan menjadi jauh lebih terang. Bahkan jika di keadaan biasa-biasa saja, itu akan jauh lebih tajam,” jelas Taufiq.

Share
×
tekid
back to top