JBL Masuki Era Baru di Usia 80 Tahun lewat “Made to be Heard”
JBL memperkenalkan identitas global “Made to be Heard” di Asia Pasifik saat berusia 80 tahun, dengan fokus pada kreator dan ekspresi diri.
Identitas global baru JBL "Made To Be Heard". dok. JBL
JBL memperkenalkan identitas merek global terbarunya, “Made to be Heard”, di kawasan Asia Pasifik.
Perubahan tersebut bertepatan dengan perayaan 80 tahun JBL sekaligus menandai pergeseran pendekatan perusahaan dari kampanye “Dare to Listen” yang digunakan sebelumnya.
Melalui identitas baru tersebut, JBL tidak hanya menempatkan konsumen sebagai pendengar, tetapi memperluas fokusnya kepada kreator dan komunitas yang menggunakan audio sebagai medium untuk berkarya dan mengekspresikan diri.
“Made to be Heard” menggantikan pendekatan “Dare to Listen” yang digunakan JBL selama periode 2017–2024.
Kampanye sebelumnya berfokus pada keberanian konsumen untuk melampaui batas dan ekspektasi, sedangkan identitas baru diarahkan pada keberagaman suara, kreativitas, serta hubungan antara audio dan identitas penggunanya.
JBL menyebut identitas tersebut dikembangkan berdasarkan riset konsumen global.
General Manager and Vice President Consumer Audio Harman Asia Pacific Grace Koh mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian dari evolusi JBL dalam merespons cara konsumen menggunakan audio.
“'Made to Be Heard' mewakili evolusi JBL selanjutnya sebagai sebuah merek yang dibangun di atas ide-ide berani, kreativitas tanpa batas, dan ekspresi diri yang autentik,” ujar Grace Koh.
Menurut dia, perubahan perilaku juga terlihat di kawasan Asia Pasifik, ketika konsumen menggunakan berbagai medium baru untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi melalui audio.
“'Made to Be Heard' adalah komitmen kami untuk menginspirasi rasa percaya diri, merayakan orisinalitas, sekaligus menghadirkan inovasi dan performa yang selalu diharapkan dari JBL,” katanya.
Grace mengatakan JBL ingin setiap interaksi dengan produknya dapat memberikan ruang bagi pengguna untuk menunjukkan identitas mereka karena, menurut JBL, “setiap suara berhak untuk didengar”.
Perubahan identitas tersebut juga mencerminkan strategi JBL untuk mendekatkan mereknya dengan berbagai komunitas di Asia Pasifik.
Perusahaan melihat musik, pembuatan konten, gaming, dan olahraga jalanan sebagai sejumlah ruang yang semakin banyak menggunakan audio untuk mendukung aktivitas maupun ekspresi penggunanya.
Karena itu, “Made to be Heard” tidak hanya ditempatkan sebagai pesan mengenai kemampuan perangkat menghasilkan suara.
JBL mencoba memperluas maknanya menjadi hubungan antara teknologi audio, kreativitas, dan budaya penggunanya.
Strategi tersebut juga berjalan beriringan dengan pengembangan perangkat audio yang semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Salah satunya adalah mikrofon JBL EasySing yang dibekali teknologi AI untuk menghilangkan vokal secara real-time.
JBL juga memiliki seri smart amplifier BandBox dengan kemampuan stem isolation untuk memisahkan instrumen dan vokal langsung melalui perangkat.
Peluncuran “Made to be Heard” bertepatan dengan delapan dekade perjalanan JBL. Perusahaan audio tersebut didirikan pada 1946 dan pada 2026 memasuki usia ke-80.
Dalam perkembangannya, JBL membangun portofolio yang mencakup berbagai kategori perangkat audio, mulai dari speaker portabel, headphone hingga soundbar.
JBL juga membawa pendekatan berbasis komunitas melalui JBL Music Academy.
Program tersebut memberikan akses terhadap perangkat, teknologi, dan bimbingan kepada musisi, produser serta pencipta lagu pendatang baru.









