Kemana perginya air di Mars?

Mars merupakan salah satu planet yang paling banyak diteliti hingga saat ini. Zaman dahulu, planet ini diperkirakan memiliki air. Namun kemana air di planet merah itu saat ini?

Kemana perginya air di Mars? Source: Google

Selama 14 tahun, armada Opportunity menjejalah Mars sejak tahun 2004. Hingga saat itu, para ilmuwan tak pernah berpikir bahwa Opportunity harus berakhir dengan cara yang lumayan menyedihkan. Ia mesti mengakhiri misinya kala panel suryanya tertutup debu yang dibawa dalam badai.

Bukan sekali saja badai pasir terjadi di planet merah itu. Karena hal itu pulalah ilmuwan berpikir bahwa badai yang sama bisa saja mengakhiri eksistensi air di planet tersebut. Badai pasir itu melepaskan air dari permukaan Mars untuk selamanya.


BACA JUGA

NASA waspada, asteroid besar mendekati bumi

Ilmuwan kembangkan cara untuk ukur tekanan darah lewat selfie

Saking panasnya, logam berat menguap di planet ini


Dilansir dari Engadget (6/5), pada satu titik, Mars memiliki atmosfer yang tebal. Setidaknya pada masa itu, sebanyak 20 persen permukaan Mars ditutupi oleh air. Namun sekitar 4 miliar tahun yang lalu, Mars kehilangan medan magnetnya. Karena itu, Mars tidak memiliki perlindungan dari terpaan angin matahari yang bersifat merusak.

Kehilangan atmosfer karena terpaan angin matahari tersebut membuat eksistensi air di permukaan Mars menjadi sangat rentan. Menurut pengamatan ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO), badai pasir dan debu di sana berperan penting dalam menghilangnya lautan dan danau di Mars. Hipotesa mengenai menghilangnya air tersebut diperkuat setelah badai yang menyapu Opportunity mengangkat molekul air setinggi 80 km di atas permukaan tanah.

Di ketinggian itu, atmosfer Mars sudah sangat tipis. Akibatnya, air itu dipecah oleh matahari menjadi hidrogen dan oksigen. Sebagaimana diungkapkan oleh Geronimo Villanueva, seorang peneliti NASA, air pada ketinggian seperti itu sangat mudah dihempaskan dan dipecah.

Untuk diketahui, para ilmuwan mempelajari badai debu di Mars karena badai ini memberikan pengaruh yang besar pada kelangsungan misi di planet itu. Untungnya, Curiosity yang notabene berbahan bakar nuklir mampu bertahan dan mengirimkan data mengenai badai itu ke Bumi.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: