Kecerdasan buatan, selamatkan kehamilan di Uganda dan Afrika

Inisiatif penggunaan teknologi kecerdasan buatan ini berasal dari Yayasan Rockefeller. Laporan The Next Web (4/11), pada tahap awal, skema ini akan diujicobakan di Uganda dan India hingga 2022 mendatang.

Kecerdasan buatan, selamatkan kehamilan di Uganda dan Afrika

Inisiatif penggunaan teknologi kecerdasan buatan kerap dibuat untuk membantu manusia di bidang medis. Teknologi ini diprediksi akan membantu menyelamatkan nyawa setidaknya enam juta anak-anak dan wanita di sepuluh negara pada tahun 2030 mendatang. Proyek ini bernama Precision Public Health.

Inisiatif penggunaan teknologi kecerdasan buatan ini berasal dari Yayasan Rockefeller. Laporan The Next Web (4/11), pada tahap awal, skema ini akan diujicobakan di Uganda dan India hingga 2022 mendatang. Setelah itu, rencananya akan diperluas ke delapan negara lain pada tahun 2030. Utamanya ujicoba akan dilakukan di daerah-daerah dengan kebutuhan yang tinggi atau yang memiliki insiden kematian ibu yang tinggi.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

AI bisa hasilkan rekam medis dari percakapan pasien dan dokter

Australia manfaatkan AI untuk deteksi pengendara yang gunakan ponsel di mobil

Legoland bisa ubah orang jadi figur Lego berkat AI


Uji coba awal sudah dilakukan di Uganda, Afrika. Inisiatif ini mulai digalakan 25 September lalu. Kesuksesannya di Ugandan, berpotensi meluas ke berbagai negara di Afrika Timur dan Selatan.
 
Tujuan proyek ini adalah menggunakan data demi memberikan pelayanan kesehatan efektif, terutama bagi para ibu.

Cara ini dikatakan efektif untuk menghubungkan wanita hamil dengan petugas kesehatan dan mendekatkan fasilitas kesehatan ke tempat tinggal penduduk. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kelahiran di rumah sakit atau dibantu oleh dokter dan perawat.
 
Manisha Bhinge, Associate Director dari Yayasan Rockefeller, mengatakan “Tujuan terbesar kami adalah untuk mengakhiri kematian karena penyakit yang dapat dicegah seperti malaria, diare, radang paru-paru pada anak kecil, infeksi wabah penyakit dan memastikan akses ke layanan kesehatan primer yang kritis. Kami tahu bahwa intervensi berbasis masyarakat sangat penting,” ujarnya.

Perlakuan seperti deteksi dini wabah penyakit, tambahnya, akan memastikan bahwa krisis kesehatan seperti wabah kolera akan berkurang, sebelum menjadi masalah serius seperti virus Ebola di Republik Demokratik Kongo.
 
Rockefeller Foundation akan bermitra dengan organisasi-organisasi seperti WHO, UNICEF, dan pemerintah untuk melaksanakan proyek ini. 

WHO sendiri melaporkan, pada 2017 sekitar 295.000 perempuan meninggal karena kehamilan dan persalinan. 94 persen kematian terjadi di daerah yang memiliki dukungan sumber daya rendah.
 
Menurut Rockefeller Foundation, sebagian besar negara-negara berkembang tidak memiliki ilmu data ini. Inilah yang melebarkan jarak pelayanan kesehatan negara-negara tersebut dengan negara maju.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: