sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id acer
Senin, 06 Jan 2020 13:12 WIB

Review Messiah, serial biasa yang bikin kecanduan

Bagaimana jika ada seseorang yang bisa berjalan di atas air, mengirimkan badai, membangkitkan orang mati, dan dipanggil Al-masih oleh para pengikutnya?

Review Messiah, serial biasa yang bikin kecanduan
Serial Messiah season 1 sudah tayang di Netflix.

Apa jadinya jika Lucifer, sang penguasa Neraka, bosan dengan pekerjaannya dan berkelana di Los Angeles? Anda yang mengikuti serial Lucifer di Netflix atau layanan rental video lainnya pasti sudah tahu jawabannya. Serial yang sudah memasuki musim ketiga itu menceritakan sosok Lucifer sebagai pembantu polisi untuk mengungkap kasus-kasus pembunuhan pelik. 

Tiap episode selalu ada kasus baru, ditambah bumbu konflik keluarga Lucifer. Konflik itu menghadirkan tokoh lain, yakni Amenadiel, saudaranya sekaligus malaikat kesayangan Tuhan, Tuhan yang dia sebut dengan "Ayahku", dan Ibunya. Ya, Tuhan ternyata menikah, dan punya banyak anak.

Nah, di Messiah, Netflix menawarkan imajinasi baru. Bagaimana jika ada seseorang yang bisa berjalan di atas air, mengirimkan badai, membangkitkan orang mati, dan dipanggil Al-masih oleh para pengikutnya?

Siapakah yang akan dengan cepat mempercayai bahwa dia adalah Isa Al-masih? Siapa yang akan justru curiga bahwa dia nabi palsu dan mulai menyelidikinya?

Ide ini tentu lebih dekat dengan miliaran manusia di Bumi karena cerita tentang kedatangan kedua Yesus Kristus atau Isa Al-Masih pada akhir zaman bukan hal asing, setidaknya bagi pengikut agama Kristen dan Islam.

Messiah menarik diikuti karena penulis cerita: Mark Burnett dan Roma Downey, secara cerdik menempatkan Al-masih dalam konteks geopolitik. Sang tokoh utama pertama kali hadir di Suriah, lalu memasuki wilayah Israel, sebelum akhirnya pindah ke Amerika Serikat. Dialog antar-tokoh berlangsung dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Inggris. Jika di Lucifer ada detektif Chloe Jane Decker, di Messiah ada agen CIA bernama Eva Geller. Sejak awal kemunculan Al-masih, Eva sudah mencurigainya sebagai agen yang dibiayai musuh untuk membuat kekacauan. Dan dalam perjalanannya, kita akan dibuat kian yakin bahwa Eva benar.

Messiah menyuguhkan cerita yang membuat kita selalu dan semakin penasaran akan apa yang terjadi selanjutnya. Penulis berhasil membuat penonton untuk di satu sisi percaya bahwa sang tokoh utama memang benar-benar Al-masih, tapi di sisi lain juga menguatkan teori Eva bahwa dia sebenarnya penipu. Ihwal berjalan di atas air, misalnya, dikaitkan dengan fakta bahwa sejak kecil Al-masih mendalami trik sulap. Eva juga berhasil menyusun kepingan puzzle mengenai identitas Al-masih, termasuk nama aslinya, asal-usulnya, tempatnya kuliah, mentornya, dan lain-lain.

Kepribadian Al-Masih yang diperankan secara baik oleh Mehdi Dehbi juga cukup menarik kita ikuti. Dia tak bertindak seperti yang diharapkan para pengikutnya. Seringkali, dia justru meninggalkan mereka di saat-saat krusial yang sekilas tampak dekat dengan kematian. Konsep ini seperti mencerminkan pengelolaan harapan kita akan Tuhan. Artinya, pertolongan seringkali bukan datang dari kekuatan luar, tetapi dari dalam diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita.

Selain Dehbi, tokoh lain yang juga berperan penting dalam cerita Messiah adalah Tomer Sisley (Aviram), Sayyid El Alami (Jibril) dan keluarga Iguero yang diperankan John Ortiz, Melinda Page Hamilton, dan Stefania LaVie Owen.

Keluarga Iguero menjadi jembatan pengantar mengenai kiprah Al-masih di Amerika Serikat. Tinggal di sebuah kota kecil di Texas dan nyaris putus asa, hidup keluarga ini berubah drastis sesudah kehadiran Al-masih. Felix Iguero, misalnya, pendeta yang nyaris kehilangan seluruh umat, mendadak terkenal, dan menemukan kembali imannya karena kehadiran Al-masih. Namun, saat keyakinan itu memuncak, dia kembali terhempas dengan satu pertanyaan dari sang Tuhan, "Well what do you think you should do?"

Secara pribadi, menurut saya ide cerita Messiah biasa saja. Seperti Lucifer, Messiah tak akan memuaskan hasrat kita untuk mengenal dan melihat lebih jauh tentang keajaiban-keajiban Tuhan di dunia. Daya tariknya justru pada pengandaian atau imajinasi bagaimana kira-kira reaksi masyarakat modern pada "Kedatangan Kedua" Yesus Kristus ke dunia. Di sebuah era di mana kita akrab dengan "fake news". Tentu saja, ada yang menjadi selebgram mendadak. Ada pula yang mendadak tobat. Apa lagi? Jika penasaran, Anda bisa menontonnya di Netflix sembari menunggu hujan reda.

 

Share
back to top