Review Film

Gundala: lokomotif film pahlawan super Indonesia

Joko Anwar telah menyajikan film superhero asal Indonesia, Gundala dengan cukup apik meski masih terdapat kekurangan yang bisa dimaklumi. Ini adalah lokomotif yang akan membawa gerbong jagat sinema baru di industri film kita nanti.

Gundala: lokomotif film pahlawan super Indonesia Source: Twitter

Film Gundala garapan sutradara Joko Anwar telah diputar di bioskop seluruh Indonesia mulai Jumat (29/8). Film aksi pahlawan super ini cukup menarik antusias banyak penontonnya. Sampai Minggu (1/9), Gundala sudah meraih 705.117 penonton.

Gundala Putra Petir juga menjadi film pembuka bagi Jagat Sinema Bumilangit yang mengadaptasi kisah-kisah komik-komik Indonesia dengan menampilkan beragam superhero lokal. Kabarnya Jagat Sinema Bumilangit ini bakal menjadi franchise berkelanjutan seperti layaknya Marvel Cinematic Universe bikinan Marvel Studio.

Sebagai sebuah karya awal untuk membuka sebuah jagat sinema, Gundala Putra Petir menjadi film penting. Kalau kurang mampu memuaskan ekspektasi penonton, proyek besar di belakangnya akan jadi tidak menarik. Oleh karena itu saya mencoba menulis review jujur film Gundala kurang dan lebihnya.

Bagi saya alur kisah sebuah film, utamanya untuk pembuka sebuah jagat sinema (Cinematic Universe), adalah sangat penting. Karena alur kisah ini akan mejadi benang merah keseluruhan jagat sinema, yang biasanya memiliki judul-judul sendiri nantinya.

Alur kisah dalam Gundala ini memang fokus untuk mengembangkan karakter tokoh utama. Gundala bernama asli Sancaka, dalam film secara kronologis diceritakan mulai dari masa kecilnya. Ia lahir dari ayah seorang buruh pabrik, dan ibu seorang rumah tangga bisa. Ayahnya sejak kecil menanamkan kebaikan dan pentingnya membela kebenaran kepada Sancaka.

Kurang lebih, kutipan ayah Sancaka sebelum mati di awal-awal film ini adalah, saat manusia melihat ketidak adilan di depannya, harus berani membelanya. Akan tetapi Sancaka harus kehilangan ayahnya dalam sebuah tragedi. Nilai-nilai kesatria sang Ayah pun tidak sampai meresap terlalu dalam ketika Sancaka berkembang dewasa.

Ibu Sancaka yang menjadi tulang punggung keluarga setelahnya, pun menghilang tanpa kabar saat ke luar kota mencari kerja. Sejak saat itu Sancaka menggelandang untuk bertahan hidup, ia pun harus belajar nilai-nilai kehidupan jalanan yang lebih keras daripada di rumahnya.

Perubahan nilai dan sudut pandang hidup Sancaka mendapat pengaruh besar dari Awang. Anak gelandangan lain yang menyelamatkannya dan mengajarkannya bela diri. Pesan Awang sebelum berpisah dengan Sancaka adalah, jangan ikut campur masalah orang lain karena mengurus hidup sendiri saja sudah susah. Sejak saat itu Sancaka menjadi pria dewasa yang apatis dan hanya berguna bagi dirinya sendiri.

Ini adalah gambar Gundala Putera Petir

Source: Warnaplus.com

Membuka cerita dengan seperti itu, membuat bangunan konflik dalam tubuh cerita Gundala menjadi agak sedikit lambat. Kendati begitu, hal ini memberi ruang untuk memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Pengkor sang tokoh penjahat. Selain untuk memberikan ruang bagi karakter-karakter bermunculan, alur menuju konflik film pun diisi oleh penemuan kekuatan sejati Sancaka yang mampu menjadi manusia super ketika tersambar petir. Hal ini dianggap perlu agar logika cerita yang terjalin di dalam alur kisah tetap masuk di akal penonton. Tanpa latar belakang yang kuat, penonton bisa jadi tidak bisa menerima mentah-mentah seorang manusia biasa menjadi seorang pahwalan super. Di sini Sancaka digambarkan sudah memiliki kemampuan bawaan sejak kecil. Berbeda 180 derajat dari kisah asilnya dalam komik terbitan pertama (1969). 

Bat saya, meski alasannya bisa diterima, kemampuan Gundala dalam mengendalikan petir ini masih menyimpan rahasia. Pasalnya saat Sancaka tersambar petir untuk pertama kalinya di masa kecil, dia langsung mengeluarkan kekuatan yang cukup hebat. Hanya kemudian saat adegan Sancaka kecil dikepung oleh anak-anak jalanan, dia tidak mengeluarkan kekuatan apa pun bahkan tidak bisa melawan. Sampai dewasa, ia pun belum mampu menunjukkan kontrol terhadap kekuatannya secara penuh. Ia masih tergantung dengan datangnya hujan dan petir yang menyambarnya agar menjadi kuat. Namun hal tersebut masih bisa dimaklumi, karena Gundala masih menjadi film pembuka yang kemungkinan akan dilengkapi kekuatannya pada sekuel-sekuel selanjutnya.

Adegan demi adegan

Adegan-adegan film Gundala juga perlu saya diskusikan. Mengingat ini adalah pertama kalinya Joko Anwar meramu film aksi secara langsung, tentu spesialis film horor dan thriller ini patut dipertanyakan kemampuannya mengolah laga.

Benar saja, adegan-adegan sadis bisa tersampaikan dengan baik dalam film ini. Misalnya saja saat Sancaka kecil dikejar-kejar preman anak-anak, lalu tertangkap dan disiksa. Penyiksaannya sangat horor sekali bagi ukuran kekerasan yang dilakukan sekelompok anak-anak. Begitu pula penggambaran kesadisan Pengkor sewaktu ia menjadi otak pembunuhan saat ia kecil. Meski karakter Pengkor adalah mastermind, melalui adegan-adegan yang dibangun, penonton bisa menangkap pesan-pesan psikopat yang dimiliki karakter Pengkor.

Hanya saja, aksi-aksi bela diri di film ini masih kurang lues. Saat adegan berkelahi, utamanya saat harus menjatuhkan penjahat keroco, tidak semua stunt man mampu melakukannya dengan halus dan luwes. Ini tampak dalam sabetan pisau, balok kayu, tendangan, yang terlihat sekali pura-pura. Kalau kamu pernah menonton The Raid atau The Night Come For Us, keluesan koreografi kedua film tersebut lebih baik dan lebih beringas daripada koreografi pertarungan film Gundala. Ini pekerjaan rumah untuk sekuel Gundala dan universe-nya nanti.

Selain itu, film ini, terasa kurang lantang dalam menyampaikan dari mana jiwa heroik Gundala berasal. Pasalnya meski melawan kejahatan yang terjadi, namun Gundala ditampilkan masih cukup ragu-ragu untuk menjadi superhero. Tidak ada momentum yang memantik jiwa heroik Gundala keluar, seperti motif balas dendam atau melindungi orang yang dikasihinya misalnya.

 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: