Kolaborasi Coda dan EKRAF Buka Jalan Pengembang Game Indonesia Tembus Pasar Global
Coda dan EKRAF berkolaborasi membuka akses pengembang game Indonesia ke pasar global melalui penguatan bisnis dan monetisasi.
Penandatanganan MoU antara Coda dan kementerian Ekonomi Kreatif. dok. Coda
Coda bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (EKRAF) resmi menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat kapasitas bisnis, monetisasi, dan akses pasar global bagi para kreator game Tanah Air.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang menjadi bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan ekosistem game nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan gim di kawasan.
Melalui kerja sama ini, Coda dan EKRAF akan membekali pengembang lokal dengan berbagai perangkat komersial, peningkatan kemampuan bisnis, serta jaringan internasional agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pemain di pasar global.
Kemitraan tersebut merupakan kelanjutan dari sejumlah program yang telah dijalankan kedua pihak, termasuk pelatihan bagi lebih dari 70 pengembang melalui Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta.
- Sambut Pesta Sepak Bola, Free Fire Hadirkan Event Fire Kickoff Mulai 5 Juni
- Point Blank Bagi-Bagi Senjata Gratis dan Diskon Item hingga 50 Persen, Troopers Baru Diuntungkan
- Indonesia Jadi Negara Pertama Peluncuran Akun Roblox Kids, Anak di Bawah 16 Tahun Kini Punya Pembatasan Konten
- Gamer Perlu Waspada, Duduk Terlalu Lama Bermain Game Berisiko Sebabkan Wasir
Selain itu, Coda juga memperluas peluang distribusi gim Indonesia melalui Codashop, sekaligus mendorong literasi digital dan keamanan bermain gim melalui kampanye Guard Your Game.
CEO Coda Shane Happach mengatakan Indonesia memiliki komunitas pengembang gim yang berkembang pesat, namun masih membutuhkan dukungan ekosistem agar mampu membangun bisnis yang kompetitif di tingkat global.
"Indonesia merupakan rumah bagi komunitas pengembang game yang dinamis dengan pertumbuhan yang luar biasa. Meskipun talenta kreatif tersedia secara melimpah, membangun bisnis gim yang sukses membutuhkan akses terhadap infrastruktur, jejaring, dan peluang komersial yang tepat. Melalui kemitraan dengan EKRAF, kami ingin mendampingi lebih banyak pengembang dalam perjalanan tersebut," ujarnya.
Menurut Shane, Coda yang didirikan di Indonesia tetap menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar strategis dan berkomitmen membantu lahirnya lebih banyak studio game lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Potensi industri game Indonesia sendiri terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan riset Niko Partners, nilai pasar game nasional mencapai lebih dari 1,1 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,5 miliar dolar AS pada 2030.
Perubahan perilaku konsumen juga membuka peluang baru. Di Asia Tenggara, sekitar 38 persen pendapatan game mobile kini berasal dari metode pembayaran di luar aplikasi (out-of-app), meningkat dari 21 persen dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, 55 persen pemain menggunakan dompet digital untuk bertransaksi, sementara hampir seperempat lainnya memanfaatkan pembayaran melalui operator seluler.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan kerja sama tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah bersama sektor swasta dalam membangun industri game Indonesia yang semakin kompetitif.
"Kolaborasi antara Coda, EKRAF, dan para pengembang game di Indonesia bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman di atas kertas. Tapi ini adalah langkah formal yang menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemerintah dan sektor industri seperti Coda," ujarnya.
Irene menambahkan Indonesia tidak hanya memiliki jumlah pemain gim yang besar, tetapi juga berpeluang menjadi kekuatan baru sebagai pencipta game di pasar global.
Ke depan, Coda dan EKRAF akan terus mengembangkan berbagai program untuk memperkuat daya saing industri game nasional melalui peningkatan kemampuan bisnis, perluasan jaringan internasional, serta akses terhadap infrastruktur perdagangan digital yang dibutuhkan para pengembang Indonesia untuk tumbuh di pasar global.









