×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Indonesia Masuk 5 Besar Pengguna ChatGPT untuk Codex dan Analisis Data

Oleh: Tek ID - Jumat, 04 September 2026 15:15

Penggunaan AI Indonesia masih timpang. Kelompok teratas memakai 11 kali lebih banyak token penalaran, meski adopsi ChatGPT sudah tinggi.

Indonesia 5 Besar Pengguna ChatGPT untuk Codex dan Analisis Penggunaan ChatGPT. dok. freepik.com

Adopsi kecerdasan buatan intelligence (AI) di Indonesia terus berkembang, tetapi pemanfaatannya untuk pekerjaan tingkat lanjut masih terkonsentrasi pada sebagian kecil pengguna.

Analisis OpenAI menunjukkan kelompok pengguna ChatGPT di Indonesia pada persentil ke-95 menggunakan lebih dari 11 kali lipat token penalaran dibandingkan pengguna median.

Temuan tersebut dimuat dalam white paper Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) bertajuk Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis pada 3 September 2026. 

Penelitian dilakukan SEAPPI dengan dukungan OpenAI dan bekerja sama dengan Vriens & Partners.

Token penalaran dalam analisis tersebut tidak digunakan untuk mengukur kemampuan maupun produktivitas seseorang. Namun, metrik itu dapat memberikan gambaran mengenai kompleksitas tugas yang diberikan kepada AI karena pekerjaan yang lebih rumit umumnya membutuhkan proses penalaran model yang lebih besar.

Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan teknologi AI yang tersedia dengan cara sebagian besar pengguna dan organisasi di Indonesia memanfaatkannya.

Di sisi lain, Indonesia menunjukkan tingkat pemanfaatan AI untuk sejumlah pekerjaan tingkat lanjut yang cukup tinggi.

Berdasarkan data OpenAI yang dikutip dalam white paper, Indonesia masuk lima besar negara di dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analisis data.

Posisi tersebut menunjukkan sebagian pengguna di Indonesia telah memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks, termasuk pemrograman dan tugas analitis.

Namun, kemampuan tersebut belum tersebar merata. SEAPPI menyebut tantangan berikutnya bukan hanya memperluas akses terhadap AI, tetapi mendorong lebih banyak pengguna memanfaatkannya untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan tingkat lanjut.

“Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI. Tahap berikutnya adalah membantu lebih banyak orang dan organisasi memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks. Hal ini membutuhkan keterampilan praktis, panduan yang jelas bagi sektor dengan regulasi ketat, serta koordinasi yang lebih erat di lintas instansi pemerintah,” ujar Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper, Ed Ratcliffe.

Kesenjangan pemanfaatan AI tidak hanya terjadi pada tingkat individu.

Riset AWS yang dikutip dalam white paper menunjukkan hanya 10 persen perusahaan yang telah mengadopsi AI di Indonesia telah menggunakan teknologi tersebut untuk mentransformasi bisnis mereka.

Sebanyak 57 persen perusahaan juga menyebut keterbatasan keterampilan digital sebagai salah satu kendala utama dalam pemanfaatan AI.

Temuan itu memperlihatkan memberikan akses terhadap teknologi AI belum tentu secara otomatis menghasilkan perubahan produktivitas pada tingkat organisasi.

Perusahaan juga perlu menentukan perangkat AI yang akan digunakan, meningkatkan kemampuan karyawan, serta merancang ulang proses kerja agar pemanfaatan AI oleh individu dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi organisasi.

“Data kami menunjukkan bahwa pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut, termasuk pemrograman dan analisis data. Namun, penggunaan tingkat lanjut ini masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil. Peluang berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut dapat diakses oleh lebih banyak orang dan organisasi,” ujar Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI Sandy Kunvatanagarn.

Menurut Sandy, pemimpin bisnis dapat berperan dengan memberikan akses kepada karyawan terhadap perangkat AI perusahaan yang telah disetujui, berinvestasi pada keterampilan praktis, serta menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan AI diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

SEAPPI mengidentifikasi empat sektor yang dapat menjadi titik awal untuk memperluas pemanfaatan AI di Indonesia, yakni sektor publik, pendidikan, kesehatan, dan jasa keuangan.

Pada sektor publik, akses institusi terhadap perangkat AI dinilai perlu dibarengi panduan bersama, mekanisme pengadaan yang jelas, serta arahan pimpinan agar penerapannya lebih konsisten di berbagai lembaga.

Sektor pendidikan juga dinilai memiliki peluang besar. White paper mengutip laporan Microsoft yang menyebut tutor AI di Universitas Terbuka telah digunakan dalam sekitar 500 kelas dan menjangkau lebih dari 100.000 mahasiswa.

Pengembangan lebih lanjut dinilai membutuhkan pelatihan tenaga pendidik, panduan berdasarkan usia pengguna, serta perluasan akses bagi masyarakat di wilayah terpencil dan komunitas yang belum terlayani secara optimal.

Di sektor kesehatan, Indonesia telah menggunakan analisis rontgen dada berbantuan AI untuk membantu proses skrining tuberkulosis (TBC). 

Teknologi AI selanjutnya dinilai berpotensi digunakan untuk mendukung tenaga kesehatan, mengurangi pekerjaan administratif, dan memperkuat pelayanan kesehatan primer.

Sementara di sektor jasa keuangan, pedoman Artificial Intelligence Governance for Indonesian Banks dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut dapat menjadi salah satu fondasi penggunaan AI secara bertanggung jawab di industri perbankan.

SEAPPI melihat peluang memperluas pemanfaatan tersebut ke bank dan lembaga keuangan skala menengah maupun kecil, termasuk institusi yang beroperasi di luar kawasan perkotaan.

Secara keseluruhan, white paper mengidentifikasi empat kondisi yang dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan kemampuan AI di Indonesia, yakni fondasi digital, keterampilan dan talenta, kapasitas inovasi, serta kejelasan regulasi dan koordinasi.

Rekomendasinya mencakup perluasan akses perusahaan dan institusi terhadap perangkat AI, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dukungan transformasi digital UMKM, serta penyusunan panduan yang lebih jelas sesuai karakteristik masing-masing sektor.

Untuk pemerintah, SEAPPI juga mendorong penyusunan panduan bersama mengenai pengadaan dan penggunaan AI agar teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih konsisten di berbagai instansi.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengatakan temuan tersebut dapat menjadi salah satu rujukan untuk melihat kesiapan Indonesia bergerak dari tahap adopsi menuju pemanfaatan AI yang lebih mendalam.

“Hal ini tentunya sejalan dengan prioritas Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pusat aplikasi AI di ASEAN, yang perlu didukung dengan penguatan kapabilitas komputasi, transfer dan pengembangan teknologi bersama, serta akses terhadap investasi dan pasar yang memberikan manfaat timbal balik,” ujar Edwin.

Menurut dia, pemanfaatan AI pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

×
back to top