PLTN terapung milik Rusia siap beroperasi

Oleh: Erlan - Sabtu, 26 Mei 2018 10:12

Tujuan PLTN terapung tersebut adalah untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara dan PLTN yang sudah tua di Bilibino, Rusia

Pada awal Mei 2018, Rusia meluncurkan fasilitas nuklir terapung yang diberi nama Akademik Lomonosov. Unit PLTN terapung ini dibuat dan dikembangkan oleh BUMN nuklir Rusia, Rosatom. Saat ini, unit Adamik Loonosov sedang ditambatkan di Murmansk untuk pengisian bahan bakar. Setelah diisi, Akademik Lomonosov akan dipindahkan ke Kota Pevek, Rusia Timur, untuk disambungkan ke jaringan listrik dan siap beroperasi sebagai satu-satunya PLTN terapung di dunia.

Rosatom menyatakan tujuan PLTN terapung tersebut adalah untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara dan PLTN yang sudah tua di Bilibino. Tenaga yang dihasilkan dapat memasok listrik untuk lebih dari 50.000 penduduk dan mengurangi puluhan ribu ton emisi CO2 setiap tahunnya. Dalam perjalanannya ke Murmansk, Akademik Lomonosov menempuh jarak 4.000 kilometer dan mengarungi Laut Baltik, Laut Utara, Laut Norwegia, dan Laut Barents. Kapal berhenti di tepi Barat Norwegia, dimana Lomonosov menerima kunjungan dari media dan ahli lingkungan Norwegia.

“Sejauh ini proses pengoperasian Akademik Lomonosov berjalan dengan sukses. Kami berhasil membawanya ke Murmansk untuk pengisian bahan bakar sekaligus untuk meluncurkan proyek ini,” kata Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachey. “Akademik Lomonosov adalah hasil kerjasama dari berbagai perusahaan dan bukti kekuatan sains yang kuat dari para ilmuwan Rusia. Sebagai PLTN terapung pertama di dunia, proyek ini akan menjadi referensi untuk negara-negara lain yang hendak mengembangkan PLTN, terutama negara-negara kepulauan yang mungkin kesulitan untuk membangun infrastruktur dalam skala besar,” lanjut Likhachey.

PLTN terapung ini mendapatkan banyak respon positif dari para ahli lingkungan dan gerakan ramah-lingkungan. Memanfaatkan tenaga nuklir adalah salah satu cara yang paling memungkinkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar batu bara, serta mengurangi jutaan ton emisi CO2 dan polusi yang mengakibatkan kehancuran ekosistem.

“Ekosistem di Artik merupakan salah satu yang rentan terkena dampak dari perubahan iklim. PLTN ini bisa menggantikan pembangkit listrik batu bara dan menyuplai listrik untuk 50.000 orang, sehingga menjadi jawaban yang tepat karena belum ada sumber daya terbarukan yang bisa menggantikannya,” kata Executive Director, New World Organization, Ben Heard.