Jobstreet by SEEK Perkenalkan Agentic AI untuk Percepat Proses Rekrutmen
Dengan dukungan AI dan otomatisasi, perekrut dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencari pekerja
Jobstreet by SEEK perkenalkan inovasi agentic AI dalam proses perekrutan. dok. Jobstreet by SEEK
Jobstreet by SEEK memperkenalkan dua inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI), yakni Personalized Targeting dan Assist, untuk membantu perusahaan mempercepat dan mengintegrasikan proses rekrutmen dalam satu platform.
Kedua inovasi tersebut dirancang untuk membantu perusahaan menemukan kandidat yang dinilai sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sekaligus mengurangi proses administratif yang selama ini dilakukan secara manual.
Dengan dukungan AI dan otomatisasi, perekrut dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencari pekerja
Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK Wisnu Dharmawan mengatakan, rekrutmen tidak hanya berfokus pada menemukan kandidat, tetapi juga membangun koneksi dan mengambil keputusan yang tepat.
- Hypernet Luncurkan TokenKu.ai, Satu Pintu Akses Lebih dari 120 Model AI
- AI Ready ASEAN Targetkan 1,7 Juta Siswa dan Pendidik Kuasai Keterampilan AI
- Mantan Atlet Nasional Glenn Victor Pakai ChatGPT untuk Jaga Rutinitas Olahraga, Begini Caranya
- Alita-Fujitsu Bawa AI Analisis Gerak ke Indonesia, Cukup Pakai Kamera Tanpa Sensor
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di atas kendali perekrut.
“Rekrutmen bukan hanya tentang menemukan kandidat, tetapi juga tentang membangun koneksi dan mengambil keputusan yang tepat. Dengan Personalised Targeting dan Assist, kami mengintegrasikan penargetan kandidat, pengelolaan proses, dan otomatisasi ke dalam satu platform. AI membantu menangani pekerjaan rutin dan memberikan rekomendasi langkah berikutnya, sementara perekrut tetap memegang kendali atas keputusan,” ujar Wisnu di Jakarta, Jumat (18/9).
Wisnu menjelaskan, Personalised Targeting menggunakan AI untuk mempelajari kebutuhan dan pola rekrutmen setiap perusahaan.
AI tersebut dapat mempertimbangkan informasi seperti preferensi, kriteria kandidat, aktivitas pencarian, hingga riwayat perekrutan untuk memahami kandidat yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Personalized Targeting juga dapat mempertimbangkan minat kandidat terhadap suatu lowongan.
Kandidat yang berulang kali melihat, membaca, atau menyimpan iklan lowongan dapat diidentifikasi memiliki ketertarikan terhadap posisi tersebut.
Kandidat tersebut kemudian dapat dihubungi dan diundang untuk melamar meski sebelumnya belum melamar.
Sementara itu, Assist menggunakan pendekatan agentic AI yang dirancang untuk menjadi asisten bagi perekrut selama proses rekrutmen.
Assist dapat memberikan rekomendasi tindakan, seperti memasukkan kandidat ke dalam shortlist, memperbaiki bagian tertentu dari iklan lowongan, atau memulai pemeriksaan referensi.
Selain itu, Assist juga terintegrasi dengan proses pemeriksaan kandidat.
Saat kandidat memasuki tahap akhir rekrutmen, sistem dapat menghubungi kandidat atas nama perusahaan, mengumpulkan masukan, dan menyajikan ringkasannya kepada perekrut.
Assist juga menyediakan fitur AI Voice Pre-screen untuk melakukan wawancara awal berbasis suara.
Kandidat dapat menjawab pertanyaan mengenai pengalaman, motivasi, ketersediaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan posisi yang dilamar.
Jawaban kandidat kemudian dirangkum oleh AI untuk ditinjau oleh perekrut.
Menurut Wisnu, integrasi tersebut memungkinkan perekrut menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pekerjaan administratif dan lebih banyak waktu untuk memahami kandidat, membangun hubungan, serta mengambil keputusan yang membutuhkan interaksi manusia.
"Dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan administratif dan repetitif, tim rekrutmen dapat kembali berfokus pada hal yang paling penting: memahami kandidat, membangun hubungan, dan menghadirkan pengalaman rekrutmen yang lebih manusiawi," pungkas Wisnu.









