Harga iPhone Duo Diprediksi Tembus Rp35 Juta, Strategi Apple Jadi Sorotan
iPhone Duo dinilai menjadi bagian strategi Apple menaikkan harga jual rata-rata iPhone dan mendorong konsumen ke perangkat yang lebih premium.
iPhone Duo. dok. Apple
Peluncuran iPhone Duo memicu perdebatan mengenai arah strategi harga Apple. Kehadiran iPhone lipat tersebut dinilai sejumlah influencer dan pengamat industri bukan hanya sebagai ekspansi ke kategori baru, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen Apple untuk mendorong konsumen ke segmen iPhone yang semakin premium.
Analisis GlobalData terhadap percakapan influencer di platform X menunjukkan perhatian tidak hanya tertuju pada perkiraan harga iPhone Duo, tetapi juga kenaikan harga sejumlah model iPhone lama dan lini utama Apple.
Sejumlah influencer yang dipantau GlobalData menilai kombinasi tersebut mengindikasikan Apple tengah mengatur ulang struktur harga portofolio iPhone untuk meningkatkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), menjaga margin, dan mendorong lebih banyak konsumen memilih perangkat bernilai lebih tinggi.
Social Media Analyst GlobalData Shreyasee Majumder mengatakan respons influencer cenderung melihat kebijakan harga Apple sebagai strategi pada tingkat portofolio, bukan sekadar keputusan harga untuk satu produk.
- Apple Perkenalkan iPhone Duo, iPhone Lipat Pertama dengan Layar 7,6 Inci
- Sebelum Beli Mac Baru, Kenali Dulu Bedanya Mac mini dan Mac Studio
- Jangan Sembarangan Matikan Find My iPhone, Ini Waktu yang Tepat dan Caranya
- Apple Perkenalkan Siri AI di WWDC 2026, Hadir dengan Kemampuan Percakapan Lebih Canggih
“Reaksi tersebut menunjukkan banyak yang meyakini Apple menggunakan iPhone Duo untuk memperluas harga premium di seluruh lini, meningkatkan harga jual rata-rata, dan mendapatkan nilai lebih besar dari pelanggan yang ada ketimbang mengejar pertumbuhan volume di segmen bawah,” kata Majumder.
Salah satu perhatian terbesar tertuju pada potensi harga iPhone Duo. Apple belum mengumumkan harga perangkat tersebut dalam bahan yang dianalisis GlobalData, tetapi sejumlah influencer memperkirakan banderolnya akan menembus 2.000 atau sekitar Rp35 juta.
Managing Partner Deepwater Asset Management Gene Munster, misalnya, memperkirakan harga iPhone Duo akan berada di atas 2.000 dolar AS.
Meski harga menjadi persoalan, Munster justru menaikkan ekspektasinya terhadap kontribusi perangkat tersebut setelah melihat produknya.
“iPhone Duo lipat baru ini keren. Tanpa lipatan. Sangat tipis. Layarnya 50% lebih besar dari Pro Max,” ujar Munster.
Sebelum melihat perangkat tersebut, Munster memperkirakan iPhone Duo hanya akan menyumbang sekitar 5% terhadap pendapatan iPhone pada tahun fiskal 2027.
Setelah melihat produk, ia menaikkan perkiraannya menjadi sekitar 10%.
“Masalahnya adalah harga. Kita belum mengetahuinya, tetapi kemungkinan akan di atas 2.000 dolar AS,” katanya.
Pandangan lebih skeptis datang dari pengamat finansial Finance Lancelot. Ia memperkirakan iPhone Duo akan dibanderol lebih dari 1.900 dolar AS atau sekitar Rp33,5 juta dan menilai strategi tersebut berisiko membuat produk hanya menjangkau ceruk pasar tertentu.
“Apple melakukan kesalahan yang sama seperti yang mereka lakukan dengan Vision Pro. Duo menargetkan ceruk pasar ponsel lipat dan mengenakan harga yang sangat tinggi, lebih dari 1.900 dolar AS,” katanya.
CEO dan CIO Gerber Kawasaki Ross Gerber juga menyoroti kemungkinan harga sekitar 2.000 dolar AS.
“Saya menyukai ponsel barunya, tetapi apakah ‘2.000 dolar AS adalah 1.000 yang baru dolar AS?’” ujar Gerber.
Sementara itu, peneliti dan konsultan industri teknologi AI Gul Vasikova melihat perangkat lipat premium sebagai salah satu cara Apple meningkatkan harga jual rata-rata tanpa harus menaikkan harga setiap model dalam besaran yang sama.
Ia memperkirakan perangkat tersebut berpotensi berada pada kisaran 2.200 dolar AS hingga 2.500 dolar AS, setara sekitar Rp38,7 juta hingga Rp44 juta.
Namun, menurut Vasikova, strategi tersebut akan bergantung pada kemampuan Apple meyakinkan konsumen bahwa perangkat lipat menawarkan pengalaman yang benar-benar berbeda.
“Jika perangkat lipat terasa seperti generasi baru iPhone yang sesungguhnya, Apple mungkin memiliki kategori premium besar lainnya. Jika lebih terasa seperti gimmick mahal, pasar bisa dengan cepat memberikan perlawanan,” ujarnya.
GlobalData melihat diskusi mengenai biaya memori yang lebih tinggi, perlindungan margin, dan upaya mengarahkan pembeli ke perangkat kelas Pro memperkuat persepsi bahwa strategi Apple memiliki dimensi finansial selain pengembangan produk.
Namun, strategi mendorong harga lebih tinggi juga membawa risiko, terutama di negara dengan konsumen yang lebih sensitif terhadap harga.
Majumder mengatakan kenaikan harga yang terlalu agresif dapat membuat konsumen mempertahankan iPhone mereka lebih lama sebelum melakukan penggantian perangkat.
“Jika perusahaan mendorongnya terlalu jauh, terutama di pasar yang sensitif terhadap harga, hal tersebut dapat memperpanjang siklus penggantian atau membuat Duo lebih menjadi produk halo ketimbang pendorong volume penjualan,” ujarnya.
Kekhawatiran mengenai kenaikan harga juga muncul di India. Founding Member AccordWorks Ramakrushna Mohapatra menyoroti harga iPhone 17 256 GB yang menurutnya naik dari 82.900 rupee menjadi 99.900 rupee atau setara dengan kenaikan dari sekitar Rp15,3 juta menjadi Rp18,4 juta
Mohapatra menyebut kenaikan juga terjadi pada beberapa model lain setelah peluncuran iPhone terbaru.









