MIT tenagai sensor bawah laut menggunakan gelombang

Oleh: Erlanmart - Jumat, 30 Agst 2019 16:47 WIB

Sinyal tersebut sebenarnya terdiri dari beberapa gelombang akustik, dan beberapa celah di antaranya di mana tidak ada gelombang yang dipantulkan.

Source: MIT via New Atlas

Beberapa cara untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi air laut adalah menggunakan sensor yang akan mengirimkan data dari dasar laut. Tetapi sayangnya mengganti baterai sensor tersebut bisa menjadi pekerjaan yang sulit dan berisiko tinggi. Kabar baiknya, Massachusetts Institute of Technology (MIT) merancang sistem baru demi menanggulangi batasan tersebut.

Proyek yang dipimpin oleh Professor Fadel Adib ini terdiri dari dua bagian utama: sensor dasar laut tanpa baterai, dan pemancar/penerima yang terletak di permukaan. Untuk sensor pemancar/penerima, beroperasi dengan menggunakan tenaga baterai yang bisa diletakkan di atas kapal, pelampung, atau pantai.

Secara berkala, pemancar mengirimkan gelombang akustik ke sensor di bawah melalui air. Gelombang itu menyebabkan bahan piezoelektrik di dalam sensor bergetar, menghasilkan arus listrik. Kemudian sensor memanfaatkan arus itu untuk memantulkan sinyal akustik yang dimodifikasi kembali ke penerima, mirip dengan cara sistem radio RFID.

Sinyal tersebut sebenarnya terdiri dari beberapa gelombang akustik, dan beberapa celah di antaranya di mana tidak ada gelombang yang dipantulkan. Karena penerima menginterpretasikan gelombang dan celah sebagai angka 1 dan 0, dengan demikian sensor dapat mengirimkan data oseanografi dalam bentuk bilangan biner.

Dalam tes tangki air, “Piezo-Acoustic Backscatter System” telah berhasil digunakan untuk mengirim data sebesar tiga kilobyte per detik secara akurat, dari dua sensor secara bersamaan pada jarak 10 meter antara sensor dan penerima. Data itu sendiri terdiri dari suhu air dan tekanan air.