Memburu jejak kehidupan di Planet Mars
Berangkat dari dugaan adanya kehidupan di planet Mars, sejumlah ilmuwan terus mengirimkan modul luar angkasa untuk menelliti planet Merah ini. Apakah benar ada jejak kehidupan di planet tersebut?
Apakah pernah ada kehidupan di planet Mars? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar bagi para peneliti untuk menyelidiki planet merah itu lebih dalam lagi. Ada banyak pesawat dan modul luar angkasa yang dikirim ke sana.
Sebagian bertugas menggali permukaan Mars, sementara yang lainnya menjelajah hampir tanpa henti di permukaan planet tersebut. Sisanya, mengamati dari atas. Semua itu dilakukan demi mendapatkan petunjuk jejak-jejak kehidupan di planet tersebut.
European Space Agency (ESA) tahun depan akan meluncurkan misi baru ke sana. Misi itu bernama ExoMArs 2020. Tujuannya masih sama, yakni mempelajari Mars dan mencari jejak kehidupan di sana lebih dalam lagi.
ExoMars 2020 merupakan bagian dari misi besar program ExoMars dari ESA dan Roscosmos. Program ini dilakukan dua kali. Yang pertama, meluncurkan Trace Gas Orbiter. Itu sudah dilakukan pada 2016 lalu. Hingga saat ini, Trace Gas Orbiter masih melayang-layang di atas Mars untuk meneliti kandungan atmosfer untuk melihat jejak gas seperti metana dan uap air. Keduanya merupakan bagian dari komponen utama pendukung kehidupan. Misi kali ini akan menggunakan rover buatan Eropa dan platform ilmiah Rusia.
Dilansir dari NewAtlas (16/11), Mars memiliki luas permukaan sekitar 145 juta kilometer persegi dan ada banyak tempat yang dapat dipilih sebagai lokasi pendaratan modul rover penjelajah Mars. Namun memilih lokasi itu tidak semudah membalik telapak tangan. Para peneliti itu harus memastikan tingkat keberhasilan yang tinggi dalam pemilihan lokasi. Setidaknya, lokasi itu harus memiliki bukti bahwa pernah terdapat air dan material kuno dengan usia lebih dari 3,6 miliar tahun. Untuk menghindari kecelakaan, modul pendaratan membutuhkan banyak atmosfer untuk mengurangi kecepatannya. Dengan kata lain, dataran rendah merupakan tempat paling ideal.