Istilah New Normal sudah dipakai sejak resesi tahun 2007

Oleh: Zhafira Chlistina - Selasa, 26 Mei 2020 17:53 WIB

Indonesia akan terapkan fase new normal untuk pulihkan ekonomi negara dengan protokol kesehatan sesuai WHO.

Source: Pexels

Beberapa waktu lalu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa Indonesia akan memasuki tatanan baru kehidupan atau yang disebut dengan istilah new normal. Hari ini pun, Presiden meninjau lokasi-lokasi yang akan dipulihkan kembali setelah fase new normal diterapkan. Lalu, apa sebenarnya arti dari new normal?

Menurut Ceramah Per Jacobsson 2010 yang disampaikan oleh kepala PIMCO, Mohamed A. El-Erian, berjudul "Navigating the New Normal in Industrial Countries," new normal merupakan istilah yang muncul dari konteks peringatan oleh kepercayaan para ekonom dan pembuat kebijakan bahwa ekonomi industri akan kembali pulih dengan cara terbaru. Istilah ini pertama kali digunakan setelah krisis keuangan pada tahun 2007-2008.

Pada konteks pandemi Covid-19 ini, frasa new normal lebih merujuk pada perubahan perilaku manusia setelah pandemi. Namun sama halnya dengan resesi tahun 2007, new normal di Indonesia ini ditujukan untuk mengembalikan kondisi ekonomi yang sempat anjlok di kuartal pertama 2020. Menurut para dokter di University of Kansas Health System, mereka mengantisipasi Covid-19 akan mengubah kehidupan sehari-hari bagi kebayakan orang. Ini termasuk membatasi kontak dari orang ke orang, menggunakan masker, dan kebiasaan mencuci tangan.

Presiden Jokowi dalam pidatonya mengatakan agar Indonesia hidup berdampingan dengan Covid-19. "Berdampingan itu justru kita tak menyerah, tetapi menyesuaikan diri (dengan bahaya Covid-19). Kita lawan Covid-19 dengan kedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan ketat," kata Jokowi.

Adapun protokol tersebut telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Ini juga berdasarkan protokol kesehatan yang dianjurkan WHO untuk diterapkan setiap negara.