Cerita Mitologi Nusantara Bakal Diangkat Jadi Film Berbasis AI, Bidik Penonton Dunia
Collective Studios, Galleri5, dan KEK Singhasari berkolaborasi mengembangkan film dan serial berbasis AI dari cerita mitologi Nusantara untuk pasar global.
Cerita nusantara akan diangkat menjadi film berbasis AI. dok. Ist
Kekayaan cerita rakyat, mitologi, dan sejarah Indonesia berpeluang diangkat menjadi film serta serial untuk pasar internasional.
Peluang tersebut terbuka melalui kolaborasi Collective Studios, perusahaan teknologi AI Galleri5, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari.
Kerja sama ini menggabungkan kreativitas dan kekayaan budaya Indonesia dengan pengalaman industri hiburan India serta teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses produksi audiovisual.
Salah satu proyek yang mulai dibahas adalah Echoes of Nusantara, judul sementara untuk karya bergenre petualangan dan mitologi yang terinspirasi dari cerita-cerita Nusantara.
Proyek tersebut masih berada pada tahap pengembangan konsep. Namun, kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi kreator Indonesia untuk menghasilkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) orisinal yang mampu menjangkau penonton global.
Kemitraan Collective Studios, Galleri5, dan KEK Singhasari diumumkan dalam forum Indonesia–India Creative-Tech Corridor di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.
Forum tersebut diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kedutaan Besar India di Jakarta, dengan KEK Singhasari sebagai mitra pelaksana.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan penggunaan AI dalam industri kreatif harus memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran para pekerja kreatif.
"Kecerdasan artifisial harus memberdayakan kreator, bukan menggantikan mereka," tegas Airlangga dalam forum tersebut.
Pemerintah juga mendorong agar kerja sama internasional di bidang teknologi kreatif tetap melibatkan talenta lokal serta memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual Indonesia.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan kolaborasi ini berangkat dari peluang mempertemukan kekayaan budaya Indonesia dengan kemampuan teknologi dan produksi audiovisual India.
"Melalui berbagai diskusi, kami melihat peluang untuk menghubungkan kekayaan cerita budaya dan talenta kreatif Indonesia dengan kemampuan India yang maju dalam bidang teknologi dan produksi audiovisual," ujar Teuku Riefky.
Menurutnya, Indonesia–India Creative-Tech Corridor dan pengembangan Creative-Tech Sandbox diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi bagi kreator maupun pelaku industri.
Dalam kerja sama tersebut, Collective Studios melalui lini pengembangan IP orisinalnya, Historyverse, akan memimpin pengembangan kreatif, produksi studio, dan penyiapan proyek untuk ditawarkan kepada calon mitra pendanaan serta distribusi internasional.
Sementara itu, Galleri5 menyediakan teknologi produksi berbasis AI melalui platform G5 AI Studio.
Platform tersebut mengintegrasikan lebih dari 200 model AI dengan alur kerja yang dirancang untuk kebutuhan industri audiovisual, mulai dari pembuatan storyboard, desain karakter, pembangunan dunia cerita, animasi, efek visual, hingga produksi video sinematik.
Menurut Galleri5, teknologi yang dikembangkannya telah digunakan untuk memproduksi lebih dari 10.000 iklan dan video.
Pengalaman perusahaan di India juga mencakup keterlibatan dalam serial Mahabharat: Ek Dharmayudh, yang diluncurkan oleh JioStar dan Collective Media Network untuk Star Plus serta JioHotstar.
Dalam proyek tersebut, Galleri5 mengembangkan teknologi dan alur kerja produksi film berbasis AI.
Perusahaan juga tengah mengembangkan teknologi untuk sejumlah proyek layar lebar dalam portofolio Historyverse, termasuk Chiranjeevi Hanuman – The Eternal dan Krishna.
Founder dan Group CEO Collective Artists Network Vijay Subramaniam menilai Indonesia memiliki kekayaan cerita yang berpotensi dikembangkan menjadi karya hiburan berskala internasional.
"Waralaba hiburan global berikutnya tidak semuanya akan lahir dari Hollywood. Setiap negara memiliki cerita yang layak menjangkau audiens lebih luas, dan Indonesia memiliki kekayaan cerita yang luar biasa," kata Vijay.
Melalui Historyverse, Collective Studios berencana bekerja sama dengan kreator Indonesia untuk mengembangkan cerita lokal menjadi film, serial, dan karya hiburan lainnya.
Adapun KEK Singhasari akan berperan menghubungkan mitra teknologi dan studio dengan kreator, investor, distributor, serta institusi ekonomi kreatif di Indonesia.
Berlokasi di Malang, Jawa Timur, KEK Singhasari mengembangkan ekosistem yang menghubungkan pendidikan, talenta digital, riset, teknologi, industri kreatif, dan investasi.
Melalui PT Lokanima Kreatif Nusantara, KEK Singhasari juga mengembangkan Lokanima 2.0 dan Singhasari Creative-Tech Sandbox untuk mendukung produksi konten berbasis teknologi.
Direktur Utama KEK Singhasari David Santoso mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun daya saing baru Indonesia dalam industri teknologi dan konten digital.
"Tujuan kita adalah membangun daya saing baru Indonesia di subsektor Teknologi Baru dan Konten Digital, dengan talenta dan kekayaan intelektual Indonesia sebagai intinya," ujar David.
Pendekatan ini diharapkan mendorong industri kreatif Indonesia tidak hanya menjadi penyedia jasa produksi, tetapi juga mengembangkan dan memiliki IP orisinal yang mempunyai nilai ekonomi jangka panjang.
Kerja sama tersebut sejalan dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 yang mencakup 21 subsektor, termasuk Teknologi Baru dan Konten Digital.
Pemerintah juga mendorong agar kemitraan ini menghasilkan proyek konkret, bukan berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman.
Hasil awal kolaborasi ditargetkan dapat ditampilkan pada World Audio Visual & Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India.









