×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

AI Masuk Proses Kreatif Film, CapCut Dorong Kreator Indonesia Naik ke Layar Lebar

Oleh: Tek ID - Sabtu, 12 September 2026 10:18

CapCut AI Content Fest 2026 membawa 10 karya kreator Indonesia ke layar lebar dan menyoroti peran AI sebagai alat bantu proses kreatif film.

CapCut Dorong Kreator Indonesia Naik ke Layar Lebar Para pemenang CapCut AI Content Fest 2026. dok. CapCut

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai semakin masuk ke proses kreatif film, mulai dari pengembangan ide, eksplorasi visual, hingga produksi. 

Namun, teknologi tersebut dinilai tetap berfungsi sebagai alat bantu, sementara arah kreatif dan keputusan akhir berada di tangan manusia.

Gambaran tersebut mengemuka dalam puncak AI Content Fest 2026 yang digelar CapCut di Jakarta, Kamis (11/9/2026). Festival tersebut menampilkan 10 film pendek terpilih dari kreator berbagai daerah di Indonesia di layar lebar.

Mengusung tema “Small Stories. Big Screen. One Nation”, festival ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81. 

Para peserta membawa beragam cerita mengenai identitas, budaya, kehidupan sehari-hari, hingga harapan terhadap Indonesia.

Dalam proses pengembangannya, para finalis menggunakan sejumlah solusi di CapCut, termasuk CapCut Video Studio serta berbagai fitur kreatif berbasis AI untuk mengeksplorasi ide dan visual.

Head of Content Operations CapCut Indonesia Jessica Wowor mengatakan festival tersebut diarahkan untuk membuka panggung yang lebih luas bagi kreator lokal.

“Indonesia punya begitu banyak cerita dan talenta kreatif yang layak mendapatkan panggung lebih besar. Melalui AI Content Fest 2026, kami ingin membantu kreator membawa perspektif mereka ke layar lebar dan membuka lebih banyak kesempatan agar karya lokal dapat dikenal dan diapresiasi lebih luas,” ujar Jessica.

Isu mengenai peran AI dalam industri kreatif menjadi salah satu pembahasan utama dalam festival tersebut. 

Aktor Lukman Sardi, sineas Mouly Surya, dan kreator Gustav Anandhita menilai teknologi dapat mempercepat sejumlah tahapan kerja, tetapi tidak menggantikan kreativitas manusia.

Lukman melihat teknologi dapat membantu aktor memperluas referensi sebelum memasuki proses penghayatan karakter.

“Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan,” ujar Lukman.

Dengan proses persiapan yang lebih efisien, menurut dia, aktor dapat memiliki ruang lebih besar untuk berfokus pada interpretasi dan pengembangan karakter.

Dari sisi penyutradaraan, Mouly Surya menilai AI dapat membantu eksplorasi sejak tahap awal, termasuk mencari referensi dan memvisualisasikan konsep sebelum produksi dimulai.

“Teknologi bisa membantu kita mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan sebuah konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi,” kata Mouly.

Ia menambahkan, ketika sejumlah proses teknis dapat dipercepat, tim kreatif memiliki lebih banyak waktu untuk berfokus pada visi besar karya dan keputusan kreatif yang menentukan hasil akhir.

Gustav Anandhita juga menilai AI memberi kreator ruang lebih luas untuk bereksperimen.

“AI memberi kreator lebih banyak ruang untuk bereksperimen—mulai dari mengembangkan ide, mencoba berbagai pendekatan visual, hingga melakukan iterasi dengan lebih cepat,” katanya.

Menurut Gustav, efisiensi tersebut memungkinkan kreator mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan tanpa kehilangan arah kreatif yang ingin dibangun.

Sebanyak 10 karya terpilih pada AI Content Fest 2026 diputar secara bergiliran di layar lebar. Para finalis sebelumnya diperkenalkan melalui kampanye daring #CapCutFilmNaikLayar.

Setiap karya kemudian mendapatkan penilaian dan tanggapan langsung dari lima pelaku industri kreatif, yakni Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita.

Melalui sesi tersebut, finalis tidak hanya memperoleh kesempatan menampilkan karya kepada audiens yang lebih luas, tetapi juga menerima masukan mengenai ide, visual, hingga cara penyampaian cerita.

“Kami ingin kreator melihat CapCut bukan sekadar sebagai alat untuk menyunting video, tetapi sebagai ruang untuk mengeksplorasi ide dan membawa kreativitas mereka lebih jauh,” ujar Jessica.

Ia mengatakan fitur kreatif, termasuk AI, diharapkan dapat membantu kreator mencoba format, visual, dan teknik penceritaan yang sebelumnya sulit diwujudkan.

Festival juga memberikan penghargaan dalam delapan kategori, yakni Student Awards, Most Popular AI Microfilm, Special Selection Award, Best Story, Best Visual, Jury's Special Mention, Next Icon Award, dan Best AI Micro Film.

Pemanfaatan AI dalam proses produksi juga diperlihatkan melalui kolaborasi CapCut bersama musisi Raim Laode dalam pembuatan video musik untuk single terbarunya, “Dunia Yang Nanti”.

Video musik tersebut ditayangkan perdana dalam AI Content Fest 2026, dilanjutkan dengan sesi berbagi mengenai proses kreatif di balik produksinya.

Pengunjung juga dapat mencoba CapCut Poster Lab untuk membuat poster film bergaya sinematik berdasarkan pilihan genre dan suasana, mulai dari horor, romansa, aksi, fiksi ilmiah hingga dokumenter.

Di luar festival, CapCut menawarkan berbagai fitur penyuntingan mulai dari video, audio, teks, dan visual. 

Sejumlah fitur berbasis AI digunakan untuk membantu pengembangan ide, pembuatan storyboard, eksplorasi visual, hingga penyempurnaan hasil akhir.

CapCut juga menyebut telah menerapkan langkah transparansi seperti invisible watermark dan Content Credentials dari C2PA untuk mendukung penggunaan konten berbasis AI secara lebih bertanggung jawab.

CapCut turut menjalankan sejumlah program bagi kreator Indonesia, antara lain CapCut Gala, Creator Lab, dan CapCut Creative Partner untuk pengembangan kemampuan, pertukaran pengetahuan, serta perluasan jangkauan karya.

Tag

Tagar Terkait

×
back to top