Berbincang dengan Galip Fu

Tentang pasar Asus yang kian tergerus

Galip Fu berbicara tentang tergerusnya pangsa pasar ponsel pintar Asus pada akhir 2017. Apa yang sebenarnya terjadi?

Beberapa waktu lalu, International Data Corporation (IDC) Indonesia mengeluarkan data pangsa pasar ponsel pintar di kuartal ketiga 2017. Asus yang sempat berada di posisi lima besar, tersingkir pada akhir 2017 ini. Secara mengejutkan, Vivo masuk lima besar dengan pangsa pasar sebesar 7,5 persen.


BACA JUGA

Asus resmi perkenalkan VivoBook Pro F570, Laptop Ryzen GPU Nvidia

Senja kala Asus Zenfone di Indonesia

Asus resmi boyong ROG G703GX ke Indonesia, seharga mobil!


Asus pernah menjadi penguasa pasar nomor dua di Indonesia, 2015 silam. Kendati begitu, pasar ponsel pintar di Indonesia sangat fluktuatif. Nyaris tidak ada yang mampu mempertahankan hegemoni mereka di pasar Indonesia, kecuali Samsung.

Kenapa Asus bisa keluar dari daftar lima besar?

Pada akhir 2017 lalu, saya berbincang dengan Country Marketing Manager Asus Indonesia, Galip Fu. Dia tampak tak risau dengan data IDC. Berdasarkan penjelasan Galip, penurunan pangsa pasar tersebut merupakan konsekuensi dari pergeseran strategi Asus di Indonesia. Awalnya, mereka fokus pada ponsel seharga Rp1,5 juta ke bawah,  samun setelah itu, Asus mulai mencoba untuk masuk ke pasar yang lebih ketat.

Akibatnya, harga ponsel Asus ZenFone merangkak naik.

“Memang, sejak 2016 sampai sekarang kami juga berpikir, bagaimana meningkatkan kualitas produk dan memberikan pengalaman yang lebih baik ke konsumen kami. Sedikit demi sedikit, kami melakukannya,” ujar Galip.

Ketika ditanyai soal pentingnya data pangsa pasar tersebut, Galip menegaskan, peningkatan kualitas produk dan pengalaman pengguna di produk ponsel Asus memang membawa konsekuensi tersendiri.

“Semua konsekuensi untuk naik tingkat ini tentunya membuat kami harus berjuang lebih keras lagi. Ini membuat harga produk kami sedikit lebih tinggi, mulai terasa pada ZenFone generasi kedua dan seterusnya. Tapi, kami berkomitmen untuk memberikan user experience terbaik kepada pengguna. Sementara di satu sisi, memang kami sadar, kami harus menjaga pangsa pasar kami. Namun sebenarnya, bila pangsa pasar kami sedikit turun demi naik kelas, untuk jangka waktu panjang, itu sehat. Kalau hanya memikirkan pangsa pasar saja, kapan saatnya kita tingkatkan kualitas produk?” ujarnya.

Galip pun mengatakan, tidak terlalu peduli dengan data pangsa pasar rilisan IDC itu. Pasalnya, ada banyak tolok ukur menilai kesuksesan sebuah perusahaan. Baik itu pendapatan maupun laba yang tentunya tidak mereka bagikan kepada IDC.

“Mereka tidak menghitung harga satuan produk. Mereka hanya menghitung berapa jumlah produk yang berhasil kami jual di pasar,” ujar Galip, sembari mengingatkan, pada semester kedua 2017, ZenFone 4 masih memiliki pangsa pasar yang baik dan terus bertumbuh.

Kini, Asus Indonesia memang tengah berkonsentrasi untuk menghadirkan ponsel pintar dengan rentang harga Rp2,5-Rp3 jutaan. Peralihan target konsumen pun mulai terasa di 2017 ini. Galip Fu mengatakan, produk mereka memang dibuat untuk kalangan muda-mudi generasi millennials.

“Itu alasannya kenapa kami pilih duta produk Asus Asia Pasifik itu Gong Yoo, artis penuh talenta dari Korea Selatan. Karena dari penelitian kami, wanita muda di Indonesia mayoritas penonton drama Korea,” ungkapnya.

Untuk menggaet target konsumen muda-mudi millennials lebih jauh lagi, mereka menunjuk beberapa talenta Indonesia yang bersinar seperti, Sheryl Sheinafia dan Rizky Febian. 

Demi menyasar target konsumen, pada Mei 2017, ZenFone Live di YouTube mulai tayang. Asus memunculkan Tatjana Saphira juga Sheryl, hingga proyek ini berlanjut dengan kolaborasi bersama 50 lebih influencer wanita di Instagram berusia tidak lebih dari 25 tahun.

“Hasilnya, dari 100 orang yang membeli ZenFone, 75 persennya adalah wanita. 40 sampai 50 persennya berusia di bawah 20 tahun. Sebelumnya, hanya 20 persen konsumen kami yang berusia di bawah 20 tahun,” ungkap Galip.

Dengan kata lain, turun posisi dari klasmen lima besar di pangsa pasar ponsel pintar Tanah Air, bukan berarti mengendurkan semangat Asus untuk mempertahankan pasar Indonesia. Bahkan, dia tidak mengharamkan media membandingkan produk Asus dengan kompetitornya, sejauh penilaian itu jujur dan adil. Dia menilai, komparasi produk demi memberi informasi kepada pengguna, mana produk terbaik di pasaran, adalah hal yang baik.

Justru, dia tidak ingin membentuk persepsi konsumen lewat “kekuatan uang”, karena yakin produk terbaik yang dibutuhkan konsumen, harus dijaga lewat uji produk secara jujur dan adil. Tanpa segan dia menyebut, Oppo dan Vivo terlalu mengandalkan uang untuk menciptakan persepsi lewat iklan televisi dan media. 

“Tentu, kita ingin membeli produk yang memang layak untuk kita beli. Bagaimana mungkin saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk omong kosong. Menaikkan 50 persen harga produknya karena mereka sudah investasi banyak di iklan televis. Saya tidak ingin membeli barang seperti itu. Dan hanya media yang jujur yang bisa memberi tahu konsumen, produk mana yang harusnya layak beli,” ungkapnya.

Melihat iklim kompetisi ponsel pintar kelas menengah di Indonesia belakangan ini, Asus berkomitmen untuk gigih mendahulukan nilai jual produk, ketimbang terjerembab menjual “gimmick”. Mengutip kata-kata Galip, dia tidak ingin orang-orang datang membeli Asus karena mereka tertarik dengan “Chelsea Islan” maupun “Agnes Mo” yang terpajang di papan iklan. Dia memprediksi, akan ada waktunya konsumen sadar soal itu.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: