×
Kanal
    • partner tek.id realme
    • partner tek.id samsung
    • partner tek.id acer
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd
    • partner tek.id wd

Laporan ESG Xiaomi Ungkap Kolaborasi Pengembangan Teknologi dan Energi Hijau

Oleh: Tek ID - Rabu, 13 Mei 2026 10:05

Xiaomi memperkuat strategi ESG lewat AI, energi hijau, dan daur ulang lebih dari 2 juta smartphone sepanjang 2025.

Laporan ESG Xiaomi Ungkap Kolaborasi Pengembangan Teknologi Fasilitas milik Xiaomi

Xiaomi Corporation memperkuat strategi keberlanjutan perusahaan melalui pengembangan kecerdasan buatan (AI), energi hijau, dan ekonomi sirkular yang terintegrasi dalam ekosistem pintar “Human × Car × Home”. 

Komitmen tersebut tertuang dalam laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) 2025 yang baru dirilis Xiaomi.

Dalam laporan ESG kedelapannya itu, Xiaomi menyoroti teknologi kini tidak hanya menjadi fondasi pertumbuhan bisnis, tetapi juga bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan asal China tersebut.

Sepanjang 2025, Xiaomi mengalokasikan investasi riset dan pengembangan (R&D) sebesar 33,1 miliar yuan dengan dukungan lebih dari 25 ribu personel R&D atau sekitar 45 persen dari total tenaga kerja perusahaan. 

Fokus utama pengembangan diarahkan pada AI, keamanan data, efisiensi energi, hingga teknologi rendah karbon.

Xiaomi juga memperkenalkan tiga model bahasa besar (LLM) terbaru untuk era agentic AI, yakni Xiaomi MiMo-V2-Pro, Xiaomi MiMo-V2-Omni, dan Xiaomi MiMo-V2-TTS. 

Salah satu model andalannya, MiMo-V2-Pro, disebut berhasil menjadi model dengan volume permintaan mingguan tertinggi di platform API global OpenRouter hanya dalam sepekan setelah diluncurkan.

Selain memperkuat AI, Xiaomi menegaskan pendekatan “Trustworthy AI” yang mengacu pada pedoman Ethical Guidelines for Trustworthy Artificial Intelligence dari Uni Eropa. Pendekatan tersebut diterapkan untuk memastikan sistem AI perusahaan tetap adil, aman, dan mengedepankan perlindungan privasi pengguna.

Di sektor keamanan data, Xiaomi menyebut seluruh fasilitas operasi teknisnya kini telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi dan ISO 27701 untuk manajemen informasi privasi.

Xiaomi juga mengembangkan sistem keamanan perangkat MiTEE yang bekerja dalam lingkungan terisolasi untuk melindungi data sensitif seperti facial templates, kredensial pembayaran, hingga kunci digital kendaraan agar tidak keluar dari perangkat pengguna.

Tak hanya berfokus pada AI, Xiaomi juga memperluas strategi ekonomi sirkular melalui penggunaan material daur ulang di berbagai lini produk. 

Smartphone Xiaomi 15T Series dan REDMI K90 kini menggunakan mid-plate berbahan 100 persen aluminium daur ulang, sementara rumah charger smartphone mengandung 30 persen plastik hasil daur ulang pascakonsumsi.

Komitmen tersebut juga diterapkan pada lini kendaraan listrik Xiaomi. Rasio penggunaan aluminium daur ulang tercatat mencapai 14,2 persen pada Xiaomi YU7 Series dan 19 persen untuk Xiaomi SU7 Series.

Dalam mendukung ekonomi sirkular, Xiaomi mengungkap telah mendaur ulang lebih dari dua juta smartphone bekas melalui program trade-in sepanjang 2025. Program tersebut kini telah diperluas ke 24 negara dan wilayah, termasuk mencakup produk elektronik lain seperti TV, smartwatch, hingga skuter elektrik.

Di sisi lingkungan, Xiaomi juga mulai mempercepat transisi energi hijau dan efisiensi energi di fasilitas produksinya. Pada 2025, perusahaan mengalokasikan lebih dari 40 juta kWh listrik hijau atau meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Melalui teknologi Ultra-Low Standby Power Consumption untuk charger 100W, Xiaomi mengklaim dapat menghemat ratusan juta kilowatt-jam konsumsi listrik standby setiap tahun. 

Sementara di Xiaomi EV Factory, penerapan sistem regenerative thermal oxidizer (RTO) disebut mampu memulihkan panas tahunan hingga 38.333 GJ dan menghemat sekitar 1,82 juta kWh listrik per tahun.

Xiaomi juga menargetkan penggunaan listrik dari panel surya di fasilitas produksinya dapat memenuhi sekitar 15 persen kebutuhan energi tahunan mulai 2026.

×
back to top