Interview Mark Trundle

Kiprah Nokia di Indonesia, kembalinya si anak hilang

Kalau Nokia serius menggarap pasar ponsel pintar, bisa jadi pelanggan lama dan baru kembali kepadanya suatu saat nanti.

Kiprah Nokia di Indonesia, kembalinya si anak hilang

Nokia pernah mendominasi pasar ponsel global. Kendati begitu, pangsa pasarnya terus tergerus dari 2009 sampai sempat “tiarap” pada 2012. Problemnya tak lain adalah kemunculan tren baru di pasar ponsel. Pesaingnya, Apple, tidak disangka-sangka, menciptakan ponsel pintar. Zaman berubah. Era smartphone tiba.

 

Pada 2014, Nokia diakuisi Microsoft. Akan tetapi, Nokia masih belum mampu bersinar di bawah Microsoft. Pangsa pasar Nokia tidak pernah mencapai 10 persen sejak 2011.

Microsoft mengakuisisi Nokia demi memperluas penetrasi sistem operasi Windows Mobile mereka. Kala itu, hegemoni iOS dan Android sangat kuat. Samsung menjadi pemimpin di pasar ponsel pintar berbasis Android. Sementara Apple percaya diri dengan perangkat iPhone berbasis iOS mereka. Masuk akal jika Microsoft membutuhkan hardware ponsel pintar yang kuat untuk masuk ke pasar mobile. Kendati strateginya tidak mulus.

Pada 2013, diam-diam Nokia menguji coba Android di perangkat Nokia X. Dalam interview bersama Forbes, mantan CEO HMD, Arto Nummela, menyebutkan bahwa Nokia X secara mengejutkan ternyata popular di antara pengguna ponsel pintar kelas premium, seperti Samsung dan Apple. Padahal, ia merupakan model ponsel pintar menengah ke bawah.

HMD Global Oy, atau HMD merupakan perusahaan Finlandia yang kembali menghidupkan brand Nokia. Beroperasi sejak 2016, HMD mengembangkan bisnis ponsel (feature phone) dan ponsel pintar Nokia di pasar global, termasuk Indonesia. Pada September 2017, ponsel pintar Nokia kembali masuk ke Indonesia, yakni seri Nokia 3,5, dan 6 sekaligus.

Nokia 8 merupakan jawaban yang dinanti-nanti semua kalangan. Baik awak media, industri, dan konsumen. Pasalnya, Nokia tanpa produk flagship, bisa dikatakan setengah hati. Secara mengejutkan, Nokia 8 meluncur sebagai ponsel premium dengan harga terjangkau.

Mengguncang pasar ponsel premium?

“Pertanyaan yang selalu keluar adalah kapan Anda keluarkan perangkat high-end. Tentu saja Nokia 8 merupakan portofolio Android kami yang paling kuat saat ini,” ujar Mark Trundle, Country Manager HMD Indonesia, selepas peluncuran Nokia 8, 13 Februari lalu.

Pria yang sudah tiga tahun lebih menggarap pasar perangkat ponsel di kawasan Asia Pasifik ini menjelaskan, ketika meluncurkan seri Nokia 8, mereka tahu kompetisi pasar ponsel pintar kelas premium di Indonesia bukan pasar yang mudah.

“Kompetisi selalu memberikan pilihan bagi konsumen dan itu bagus. Akan tetapi, kami masih memiliki kekuatan partnership yang sangat kuat,” ujar Mark.

Nokia 8 hadir dengan kerja sama antara Nokia dan Qualcomm serta produsen lensa kamera Carl Zeiss. Dengan begitu, perangkat Nokia 8 ini menggunakan chipset Snapdragon 835 dari Qualcomm. Sementara Carl Zeiss memberikan fitur bothie: kemampuan untuk mengaktifkan kamera depan dan belakang sekaligus.

“Kami bergerak lebih jauh dari sekadar foto selfie dan menghadirkan fitur bothie. Memang, area ini sangat kompetitif, tapi kami yakin kami membawa sesuatu yang unik. Termasuk OS Android asli yang aman. Kami memperbarui sistem keamanannya tiap bulan di perangkat Nokia,” ujarnya.

Perlu diketahui, HMD merupakan salah satu mitra strategis Google. Alhasil, sistem operasi Android di ponsel Nokia minim perubahan. Mengutip pilihan kata Mark, mereka menghadirkan OS Android murni. Oleh karena itu pula, update Android di ponsel pintar Nokia termasuk yang terdepan.

Nokia dahulu terkenal sebagai brand ponsel dengan kualitas produk kelas atas. HMD tidak ingin menghilangkan ciri khas ini. Mark mengakui, Nokia telah melakukan studi di Indonesia.

“98 persen orang sadar soal brand Nokia. Brand ini sudah milik semua orang. Apa yang ingin kami lakukan sekarang adalah orang-orang mulai berpikir Nokia adalah brand yang sangat kompetitif dan hadir di smartphone juga ekosistem Android,” ujarnya.

Salah satu strategi mereka adalah dengan menghadirkan produk unggulan berharga terjangkau.

“Kami ingin berpikir dengan cara yang berbeda, tapi tentunya juga ingin membangun bisnisnya. Bicara soal Nokia 8, Anda mungkin akan sulit mencari perangkat dengan spesifikasi serupa di harga yang sama,” ujarnya.

“Ketika kami melihat persaingan di pasar ponsel pintar flagship Indonesia. Persepsi flagship seharusnya ada di harga lebih dari Rp10 juta. Kami ingin mematahkan hal itu,” tegas Mark.

Ambisi Nokia tidak tanggung-tanggung. Ketika melihat pasar (ponsel) global, Nokia sadar akan kekuatan brand Samsung, Apple, dan Xiaomi. Jadi, Nokia tidak serampangan dan sudah memetakan kompetisi ini dengan cukup jelas.

“Kami juga melihat masih ada celah pada segmen harga di Indonesia. Lebih dari 60 persen perangkat yang terjual di Indonesia seharga kurang dari Rp3,5 juta. Kami juga memiliki portfolio yang kuat di segmen tersebut,” ujar Mark.

Aktivitas pemasaran pun terus digenjot Nokia. Mereka kembali menghidupkan jalur-jalur distribusi di Indonesia, sembari mendekati jalur-jalur distribusi baru untuk menggapai konsumen anyar.

“Semua jalur yang kami miliki, retail, online, media sosial, bahkan dalam aktivitas Above The Line. Kami benar-benar harus berinvestasi untuk memenangkan kembali brand ini di hati pengguna,” ujar Mark.

Merebut hati millenials

“Saya bukan (generasi) millennials tapi saya mempelajarinya,” kata Mark.

Menurut Mark, generasi yang sangat intens dengan teknologi dan media sosial ini merupakan pengguna sekaligus pencipta konten. Di mata Mark, konsumen millennials sudah tidak mau lagi membuat selfie yang statik. Mereka ingin menciptakan konten baru.

“Lihat saja Instagram, Key Opinion Leader (KOL) di Instagram mulai menciptakan foto dan video yang berbeda. Jadi, mereka membutuhkan bukan hanya perangkat yang bisa berjalan dengan baik dan bisa mengunduh aplikasi dan gim semata. Itu normal. Oleh karena itu, kami memiliki ponsel pintar berfitur kamera yang mampu aktif dua-duanya (depan dan belakang),” ujar Mark.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan millenials membeli produk, yakni harga, brand, dan sistem operasi. Oleh karena itu, Nokia membuat ponsel pintar mereka terjangkau oleh semua kalangan.

“Kami tidak membatasi diri kami di satu segmen semata. Kami mendengar umpan balik konsumen kami. Mereka butuh baterai besar, kami baru saja meluncurkan Nokia 2. Mereka butuh layar lebar suara yang besar, kami punya Nokia 6. Kemudian Nokia 8 kami hadirkan untuk memberikan pengalaman fotografi dan audio kelas atas.”

Secara fundamental, pasar Indonesia berevolusi. Di mata Nokia, konsumen Indonesia kini memiliki beragam pilihan perangkat serta harga. Harga sangat vital. Oleh karena itu, Nokia menyediakan produk dari harga kurang dari Rp300 ribu (feature phone), sampai di harga tertinggi Rp6,5 juta (Nokia 8).

“Kami sadar kami pemain baru di ekosistem smartphone di Indonesia. Perjalanan kami masih panjang. Dengan semua umpan balik yang diberikan pengguna, kami menciptakan perangkat dengan harga yang sangat menarik dikombinasikan dengan fitur-fitur terbaik, kami pikir itulah cara agar pengguna kembali jatuh cinta pada brand Nokia. Itulah fokus kami di 2018 ini,” ujar Mark.

Dari perkembangan dan komitmennya, Nokia terlihat serius dan konsisten menggarap pasar ponsel pintar global dan di Indonesia. Hati-hati CLBK.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: