Vivo Apex 2019: Akankah jadi gambaran ponsel masa depan?

Vivo belum lama ini memamerkan Vivo Apex 2019. Ponsel ini merupakan gabungan inovasi yang dibuat Vivo untuk smartphonenya di masa depan.

Vivo Apex 2019: Akankah jadi gambaran ponsel masa depan? Source: Patardo/Tek.id

Suara cetar membahana

Teknologi lain yang dipamerkan adalah Body SoundCasting. Dari namanya, kita bisa disimpulkan kalau Vivo mengakali bodi Vivo Apex 2019 agar dapat menyalurkan suara dari ponsel. Untuk urusan telepon, suara disalurkan oleh bodi depan. Sebaliknya, untuk multimedia, bodi belakang akan menjadi sarana untuk menyalurkan suara dari ponsel.

Saya menjajal untuk memainkan sebuah lagu dari YouTube. Hasilnya mengejutkan. Suaranya yang dihasilkan terbilang nyaring, bahkan tidak kalah dengan produksi suara dari grill speaker. Model ini sebenarnya punya keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya, tidak ada grill speaker yang menjadi tempat bersarangnya debu. Kemudian dengan peletakan yang tepat, suaranya dapat disalurkan lebih besar lagi melalui material berbahan keras dan datar. Ini juga menjadi kelemahan. Jika diletakkan di atas material berbahan lembut, suaranya menjadi berkurang drastis.

Namun perlu diperhatikan, sejauh pengamatan saya, power yang dihasilkan memang kuat, namun detailnya tampak berkurang. Rupanya, frekuensi tinggi masih menjadi andalan untuk loudspeaker pada kebanyakan ponsel, termasuk juga di Vivo Apex 2019 ini. Saya sih lebih menyarankan untuk menggunakan headset bluetooth untuk mendapatkan detail musik yang lebih baik.

 

Siap-siap bawa charger kemana saja

Saya sudah bahas di atas, kalau bodi Vivo Apex 2019 benar-benar mulus. Tidak ada tonjolan atau lubang sama sekali. Artinya, port USB yang biasanya digunakan untuk charging tidak akan tersedia. Nah Vivo menggantikannya dengan pin konektor di bagian belakang.

Sekilas model ini mengingatkan saya pada Motorola Moto Z beberapa tahun silam. Kalau pada Motorola pin tersebut digunakan untuk mod tambahan, di Vivo Apex 2019, pin ini digunakan untuk charging. Konektornya akan diperkuat dengan magnet untuk menjaga agar perangkat charger tidak mudah lepas.

Kekuatan magnetnya membuat saya terkesima. Meski diangkat, charger tidak terlepas dari ponsel. Magnetnya memiliki kutub berlainan, sehingga saya tidak bisa memasang charger dengan posisi terbalik.

Konsepnya memang unik, tetapi membuat saya berpikir dua kali untuk menggunakannya. Pasalnya, kalau memang teknologi itu pasti hadir di perangkat komersial, artinya pengguna tidak akan mendapatkan back up charger dari perangkat lain dalam kondisi darurat. Alangkah bijaknya kalau Vivo mau juga menyematkan teknologi wireless charging sebagai alternatif charging di saat darurat. Kalau tidak...hmmm susah juga ya!

Terlepas bagaimana kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Vivo Apex 2019, perangkat ini sejatinya hanya sebuah purwarupa. Semua teknologi itu tidak akan langsung disertakan dalam satu perangkat saja. Itulah yang ditekankan oleh Hadie Mandala, Product Manager Vivo Indonesia. Namun pada intinya, kita patut acungkan jempol untuk Vivo yang berani bereksperimen dengan inovasi. Semoga saja, teknologi-teknologi di Vivo Apex 2019 bisa rilis pada produk komersial Vivo dalam waktu dekat.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: