Tren smartphone di 2019, apa saja yang menarik?

Tren di 2018 ternyata dimulai oleh Apple, yang mengaplikasikan AI di sistem keamanan mereka, yakni Face ID. Kemudian, menyebar dan digunakan di hampir semua perangkat Android.

Tren smartphone di 2019, apa saja yang menarik? Ilustrasi AI (Pixabay)

Tahun 2019 sudah di depan mata. Padahal, masih jelas di ingatan, tepat di hari pertama tahun 2018, saya bangun dan membuka smartphone menggunakan jari. Dan saat ini, di penghujung 2018, saya tinggal menatap layar untuk melakukan hal yang sama.

Itu semua berkat kecerdasan buatan (AI). Tahun 2018 menandai babak baru AI di ponsel pintar. Setelah asisten pribadi virtual, vendor menghadirkan AI untuk beragam kebutuhan: dari fotografi, penerjemah, sampai keamanan seperti pemindai wajah. Tren pemindai wajah dimulai Apple pada 2017 melalui iPhone X. Penggemar teknologi, termasuk saya, langsung jatuh cinta melihat teknologi ini.


BACA JUGA

AI di masa depan bakal punya kepribadian

Facial Recognition resmi dilarang di San Francisco

Facial Recognition resmi dilarang di San Francisco


Ada perbedaan mendasar antara teknologi yang diusung Apple dan vendor Android. Jika Apple sudah menggunakan perpaduan antara peranti lunak dan peranti keras, Android hanya mengandalkan peranti lunak saja.

Tak heran, ada perbedaan yang sangat jauh antara penggunaan teknologi tersebut di iPhone dan Android. Hal ini dikarenakan penggunaan AI di sisi peranti lunak saja akan menghadapi hambatan dalam penggunaan sehari-hari.

Senior Manager Marketing Qualcomm Indonesia, Dominikus Susanto menjelaskan, AI di dalam prosesor cukup penting untuk meningkatkan kemampuan sebuah ponsel pintar.

“Secara umum smartphone modern sudah dapat memiliki kemampuan AI melalui software. Bedanya, saat menggunakan prosesor yang sudah memiliki AI, proses akan lebih cepat,” kata Dominikus saat ditemui tim Tek.id, awal Desember lalu.

Maka tak heran, sepanjang 2019, semua pengembang prosesor mobile berbondong-bondong meluncurkan prosesor dengan kemampuan AI. Mulai dari Samsung, Qualcomm, MediaTek, Huawei, dan tentunya Apple masing-masing memiliki paling tidak satu prosesor dengan AI.

Dimulai dari Samsung dengan Exynos 9810. Samsung menyatakan, mereka menyematkan AI melalui deep learning berbasis teknologi neural network. Menarik bukan?

Berbeda lagi dengan Huawei dengan jajaran prosesor Kirin. Mereka menamainya Neural Processing Unit alias NPU. Begitu juga dengan MediaTek yang menyebutnya NeuroPilot.

Bagaimana dengan Qualcomm? Mereka menamakannya Hexagon 685 DSP. Adapun Apple memilih istilah Neural Engine.

Meski memiliki nama yang berbeda-beda, mereka memiliki tugas yang relatif sama, yakni meningkatkan pemrosesan AI saat digunakan pengguna. Seperti yang sudah kami sebutkan di atas, perpaduan antara peranti lunak dan peranti keras sangat penting dalam ranah ini.

Lantas, apa saja yang bisa dikerjakan AI ini dalam ponsel kita? 

Salah satu contohnya adalah untuk membuka perangkat. Dan inilah yang kita lakukan saat ini, membuka perangkat menggunakan wajah kita.

Tapi, apakah kekuatan AI ini hanya berhenti di situ saja? Ternyata tidak. Salah satu pionir penggunaan AI untuk kebutuhan kita sehari-hari adalah Google. Melalui Google Pixel, mereka dapat memberikan pengalaman lebih saat menggunakan ponsel.

Sebelum melanjutkan topik ini, saya ingin bertanya. Apakah Anda masih ingat pada saat ingin memotret makanan, kita harus masuk ke fitur kamera untuk makanan? Atau saat ingin memotret pemandangan, kita harus masuk ke fitur kamera untuk pemandangan? Jujur, saya sudah lupa.

Sejak Pixel 2, Google telah menggabungkan AI ke kamera. Dengan menggunakan AI, Pixel 2 dapat memilih kategori apa yang kita foto secara otomatis, meski dalam jumlah terbatas. Dan pada saat Pixel 3 keluar, menggunakan Snapdragon 845, yang memiliki prosesor AI lebih canggih, bisa mendeteksi puluhan objek berbeda.

Dan beberapa bulan terakhir ini, para vendor lain juga sudah dapat memberikan pengalaman ini ke penggunanya. Tentunya, berkat kemampuan AI yang ada di dalam prosesor.

Tak berhenti sampai di situ saja, satu aplikasi yang menggabungkan AI dengan kamera adalah Google Lens. Aplikasi ini dapat mengenali objek yang dilihat kamera, kemudian mengolah informasi tersebut. Lagi-lagi, ini berkat bantuan antara peranti lunak dan peranti keras.

Oh iya, masih berbicara AI di kamera, ada satu kemampuan yang kini jadi tren di kalangan anak muda, yaitu emoji yang bisa menirukan mimik wajah kita. Kalau di Apple, namanya adalah Animoji.

Ada lagi kemampuan yang bisa diaktifkan dengan kehadiran AI? Tentu saja ada. Bixby contohnya, asisten digital Samsung ini sudah bisa melakukan translasi dari satu bahasa ke bahasa lain secara real-time.

Tapi, sekali lagi saya harus tekankan, teknologi ini semula dikembangkan Google. Meski begitu, Samsung berhasil melakukan pendekatan yang lebih baik dan lebih dahulu dibandingkan dengan Google.

Nah, berbicara mengenai asisten digital, berkat AI, kemampuan mereka juga meningkat drastis. Dari semula hanya bisa mengerti beberapa instruksi sederhana, kini mereka bisa memahami instruksi yang lebih kompleks. Canggih bukan?

Terlepas dari semua hal di atas, menurut saya, yang paling mengesankan dari perkembangan AI ini adalah efisiensi penggunaan daya yang ada di sebuah ponsel. Menggunakan AI yang ada di prosesor, semua pasokan daya akan diatur secara otomatis, sehingga penggunaan baterai perangkat jadi jauh lebih optimal.

Begitu juga dengan peningkatan performa. Dengan bantuan AI, secara otomatis prosesor akan mengetahui apakah aplikasi yang dibuka pengguna harus menggunakan daya yang lebih besar atau tidak. Jadi, saat membuka game berat, AI dengan otomatis melakukan penambahan kemampuan di lini tertentu.

Sayang, fitur yang satu ini masih merupakan gimmick belaka. Para pengembang masih harus mengembangkan fitur ini lebih jauh lagi, untuk memberikan pengalaman terbaik bagi para penggunanya.

Di luar itu, satu lagi yang menonjol pada tahun 2018 adalah dimulainya persaingan produksi prosesor dengan teknologi 7nm. Dan lagi-lagi, semua ini dimulai pada saat Huawei memperkenalkan prosesor Kirin 980 pada 31 Agustus. Ini merupakan prosesor mobile pertama yang menggunakan teknologi fabrikasi tersebut.

Tapi, Apple menyalip Huawei dalam masalah produksi. Bisa dibilang, iPhone XS, XS Max, dan XR menjadi perangkat pertama yang menggunakan prosesor dengan teknologi fabrikasi 7nm. Ketiga perangkat tersebut diluncurkan pada 19 September.

Sementara Huawei baru memperkenalkan ponsel pertama pertama mereka yang menggunakan Kirin 980 pada Oktober, yakni seri Mate 20.

Kalau Anda bertanya, apa yang didapatkan pengguna dengan perkembangan teknologi fabrikasi ini, jawabannya mudah. Anda akan mendapatkan efisiensi daya yang lebih baik, serta kemampuan prosesor yang lebih mantap.

Jadi, bagaimana dengan 2019? Jika melihat apa yang terjadi selama 2018 ini, maka peperangan produsen prosesor smartphone akan kembali berkutat di AI dan teknologi fabrikasi 7nm.

Ini berarti, ponsel pintar di 2018 akan menjadi semakin pintar, bertenaga, namun semakin irit daya. Dan tentunya, semua ini akan memberikan kita perangkat yang lebih nyaman untuk digunakan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: