sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id realme
  • partner tek.id samsung
  • partner tek.id telkomsel
  • partner tek.id poco
  • partner tek.id acer
Kamis, 30 Mar 2023 14:36 WIB

Sony luncurkan kamera vlogging full frame ZV-E1 dengan teknologi Auto Framing

Sony telah secara resmi merilis kamera mirrorless untuk vlogging full-frame. Kamera ini adalah ZV-E1 dengan fitur Auto Framing berbasis AI.

Sony luncurkan kamera vlogging full frame ZV-E1 dengan teknologi Auto Framing

Sony telah meluncurkan kamera vlogging terbarunya lewat ZV-E1. Mirrorless ini dilengkapi dengan sensor full-frame 12 MP berbasis teknologi backside-illuminated (BSI) yang sama seperti A7S III. Dengan demikian, menjanjikan performa low-light yang luar biasa, 4K hingga 120p dan sejumlah fitur kecerdasan buatan (AI) baru seperti Auto Framing.

Harga dari Sony ZV-E1 adalah USD2.200 (Rp33 juta), yang menjadikannya menarik bagi para vlogger karena menawarkan aneka fitur yang terdapat di A7S III yang dijual dengan banderol USD3.500 (Rp52,6 juta) Artinya, ZV-E1 hadir dengan harga yang jauh lebih murah.

Sensor full-frame kamera tersebut memungkinkan pengguna menampilkan bokeh latar belakang secara signifikan sehingga subjek lebih menonjol daripada kamera yang menggunakan sensor APS-C atau Micro Four Thirds. Seperti A7S III, ZV-E1 menawarkan 4K pada 24/30/60/120 fps, menggunakan pembacaan piksel penuh tanpa binning di semua mode. Ini juga menawarkan perekaman video dalam mode All-I yang mudah diedit dengan kecepatan data hingga 600 Mbps.

Perekaman 10-bit 4:2:2 tersedia dengan mode log S-Log-3/S-Gamut3, yang menghadirkan dynamic range hingga 15 stop. Sensor BSI 12 MP kamera itu memiliki rentang ISO hingga 409.600 (80-102400 dalam mode normal), ini adalah performa ISO tinggi terbaik di seri Alpha. ISO ini membuka banyak peluang kreatif yang menarik, karena pengguna dapat memotret dalam kondisi hampir gelap gulita. Namun belum diketahui bagaimana kamera menangani gangguan noise pada ISO tinggi.

Dilansir dari Engadget (30/3), Sony ZV-E1 adalah kamera full-frame pertama Sony dengan bodi bergaya vlogging, sehingga tidak memiliki grip besar dan kontrol besar yang terlihat pada model seri Alpha lainnya. Sebagai gantinya, ini jauh lebih kecil dan lebih ringan dari model full frame Sony, dengan berat hanya 483 gram, dibandingkan dengan 699 gram untuk A7S III.

Mirrorless ini bahkan lebih ringan dan lebih kecil daripada A7C, tetapi menggunakan baterai Z yang sama dengan model Sony yang lebih besar, memungkinkan pengguna memotret hingga 570 foto atau merekam video 4K 60p selama 95 menit. Namun, 4K 60p dibatasi hingga sekitar 30 menit demi menjaga suhu tidak naik.

Untuk pengaturan dan fungsi seperti fokus, pengguna harus menggunakan layar sentuh. Untungnya ini adalah layar yang menggunakan engsel fleksibel sehingga memungkinkan pengambilan gambar sendiri (selfie) atau framing sudut tinggi / rendah dengan mudah. Tidak ada electronic viewfinder (EVF) pada ZV-E1, jadi satu-satunya cara untuk melihat subjek adalah melalui layar sentuh di belakang kamera atau monitor eksternal.

Sebaliknya, ZV-E1 sebenarnya menambahkan beberapa fitur yang tidak ditemukan pada kamera Sony lainnya. Pertama-tama, ia Sony membekali ZV-E1 dengan in-body stabilization (IBIS) 5 arah, dengan mode optik "Active" baru yang seharusnya meningkatkan pengurangan guncangan saat berjalan. Dan jika itu tidak cukup, mode "Dynamic Active" menambahkan stabilisasi ekstra untuk gerakan cepat dengan metode crop sensor.

Fitur baru lainnya adalah mode Auto Framing berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sangat berguna bagi konten kreator solo. Menggunakan teknologi subject recognition, mode itu secara otomatis memotong (cropping) frame untuk menjaga subjek tetap dalam posisi yang jelas, meskipun kamera sedang dipasang pada tripod. Metode Ia bahkan dapat merekam dua jenis gambar sekaligus, menangkap gambar penuh ke output HDMI dan versi yang di-crop ke kartu memori internal.

Penggunaan AI lainnya termasuk Framing Stabilizer yang menggunakan teknologi subject recognition untuk melakukan cropping subjek dan menjaganya tetap stabil saat pengguna berjalan di sampingnya. "Multiple face recognition" secara otomatis mengurangi bokeh saat wajah kedua terdeteksi sehingga kedua subjek tetap fokus. Dan seperti model vlogging Sony lainnya, ia memiliki tombol bokeh yang secara otomatis mengaburkan latar belakang, bersama dengan tombol "product showcase" yang memungkinkan kamera langsung fokus pada objek yang diletakkan di depan kamera.

Seperti model Sony terbaru lainnya, ZV-E1 memiliki berbagai mode subject recognition selain manusia, termasuk hewan, burung, mobil/kereta, pesawat terbang, dan serangga. Ini termasuk fitur kompensasi focus breathing yang pertama kali terlihat pada A7 IV yang secara digital mengkompensasi zoom apa pun saat fokus berubah dari satu subjek ke subjek lainnya. Kamera ini juga menawarkan focus map dan AF assist yang terlihat pada model terbaru, bersama dengan penyesuaian untuk kecepatan transisi AF.

Pada bagian audio, ZV-E1 memiliki 3 mikrofon terintegrasi yang dapat mengubah arah tergantung pada situasinya. Misalnya, jika subjek manusia dikenali, mode arah mikrofon berubah menjadi "front", tetapi jika tidak ada subjek, setelan defaultnya adalah "all direction".

Fitur lainnya termasuk kemampuan webcam UVC/UAC, dengan dukungan hingga video 4K 30p, mengungguli sebagian besar model Sony lainnya. ZV-E1 juga dilengkapi dengan port headphone, satu slot kartu SD UHS-II, output microHDMI dan USB-C. Terakhir, ini juga merupakan kamera foto yang dapat diandalkan, mampu memotret foto RAW 12 MP hingga 10fps, tetapi tentu saja tidak ada shutter mekanis.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Sony ZV-E1 dibanderol dengan harga USD2.200 (Rp33 juta) untuk kelengkapan bodi saja. Jika membelinya dengan lensa kit SEL 28-60mm, maka harganya menjadi USD2.500 (Rp37,6 juta).

Share
×
tekid
back to top