Sony a6400 sudah sampai di Indonesia

Mirrorless a6400 memiliki titik AF hingga 425 poin yang mencakup 84 persen area gambar. Sony mengklaim sistem AF tersebut mampu menentukan titik fokus dalam waktu hanya 0,02 detik.

Sony a6400 sudah sampai di Indonesia Source: Patardo/Tek.id

Pertengahan Januari 2019 lalu Sony secara resmi mengumumkan kamera mirrorless terbaru mereka, a6400. Hari ini (15/3), kamera tersebut hadir secara resmi di Indonesia. Sony a6400 memiliki ukuran sensor APS-C (23,5 x 15,6 mm) berjenis Exmor CMOS. Sony juga membekali kamera tersebut dengan prosesor eksklusif Bionz X yang menjanjikan mampu menangani gangguan bintik noise, ketika memotret menggunakan ISO tinggi dalam kondisi cahaya remang.

Berbicara seputar ISO, kamera yang memiliki resolusi pemotretan hingga 24,2 MP ini mengantungi kepekaan sensor hingga ISO 32000. Tetapi kamu juga dapat meningkatkan sensitivitas sensor hingga ISO 102400. Oleh karena itu a6400 menjanjikan keleluasaan memotret di dalam kondisi cahaya apapun.

Salah satu keunggulan kamera baru tersebut adalah kemampuan AF yang dimilikinya. a6400 memiliki titik AF hingga 425 poin yang bencakup 84 persen area gambar. Sony mengklaim sistem AF tersebut mampu menentukan titik fokus dalam waktu hanya 0,02 detik.

Jika kamu mengaktifkan mode AF dalam seluruh mode di dalam kamera, a6400 secara otomatis mendeteksi mata subjek dan mengaktifkan Eye AF dengan menekan setengah tombol shutter. Ketika menggunakan mode tersebut, mata kiri atau mata kanan subjek dapat dipilih sebagai titik fokus.

Eye AF memiliki pilihan yang mencakup Auto, Right Eye, Left Eye, dan Switch Right / Left Eye. Titik fokus yang berpusat ke arah mata membantu hasil foto tetap tajam di pusat wajah. Seperti yang diketahui, pusat wajah adalah mata. Oleh karena itu kamera tidak ingin berfokus ke bagian wajah lain, apalagi ketika menggunakan lensa dengan aperture besar.

Selain memotret menggunakan aspect ratio 3:2 dan 16:9, Sony a6400 juga menawarkan format aspect ratio 1:1. Nah, jika kamu salah satu orang yang gemar berbagi foto di Instagram, aspect ratio 1:1 sangat cocok sehingga kamu tidak perlu melakukan cropping sebelum mengunggahnya. Dengan demikian kamu sudah dapat melakukan komposisi yang pas saat memotret.

Tetapi hal yang agak kurang sreg adalah layar LCD di belakang kamera a6400 memiliki aspect ratio 16:9. Format ini agar kurang optimal ketika digunakan memotret aspect ratio 3:2 atau 1:1. Saya sendiri lebih sering menggunakan aspect ratio 3:2 ketika memotret. Saya merasa aspect ratio 16:9 lebih cocok ketika merekam video.

Resolusi video maksimal ketika sedang merekam adalah 4K (3.840 x 2.160 piksel) dengan 30 fps. Kamu juga dapat merekam video pada 120 fps dengan resolusi Full HD (1.920 x 1.080 piksel). Fitur video lainnya adalah profil gambar HLG untuk alur kerja Instant HDR, integrasi intervalometer untuk kebutuhan time-lapse, AE tracking, dan Gamma Display.

Untuk melakukan komposisi ketika memotret maupun merekam video, kamu dapat menggunakan layar LCD berukuran 3 inci beresolusi 921,6 ribu dot. Tidak ketinggalan pula engsel yang memungkinkan layar tersebut dapat dilipat hingga 180 derajat agar lebih mudah ketika ber-selfie. Selain LCD, ada pula Electronic Viewfinder (EVF) berteknologi OLED dengan resolusi 2,36 juta dot. Oleh karenanya, EVF a6400 mampu menampilkan detil lebih tinggi dibandingkan dengan layar LCD.

Sony a6400 akan tersedia pada bulan April 2019, dengan harga Rp12.999.000 untuk bodi saja, sementara jika dijual dengan lensa SELP1650 harganya menjadi Rp14.999.000. Sony akan menggelar masa pre-order dari 15 hingga 31 Maret 2019. Selama pemesanan pada masa pre-order tersedia bonus berupa tas kamera, screen protector, leather strap dan kartu memori Sony 64 GB. Tak cuma itu, Sony juga menawarkan beberapa promo menarik pada masa pre-order tersebut.


BACA JUGA

5 kamera ini cocok buat rayain Lebaran

Canon EOS R versi baru beresolusi 63 MP

Ini harga Panasonic Lumix S1R dan S1 di Indonesia


Saya sendiri berkesempatan untuk menjajal Sony a6400 ini. Bobotnya terbilang cukup ringan bagi saya. Tak hanya itu, posisi pegangannya membuat Sony a6400 bercokol mantap di genggaman saya. Layarnya mendukung layar sentuh, yang cukup responsif ketika saya mau menentukan titik fokus. Penempatan sejumlah tombolnya membuat saya hanya perlu menggerakkan jari tanpa kesulitan.

Beralih ke kemampuan yang ditawarkan Sony a6400. Saatnya saya sedikit menjajal AF yang begitu digaungkan Sony kali ini. Tak diragukan lagi, autofocus-nya bisa menangkap fokus dengan sangat cepat, pun ketika saya mengganti objek secara tiba-tiba. Hasilnya akan lebih impresif ketika saya mengarahkan kamera ke manusia. Gerakan cepat tak membuat autofocus Sony a6400 kedodoran. Fokusnya sanggup mengikuti pergerakan objek dengan cemerlang karena adanya fitur Real-time tracking.

Buat saya, Sony tampaknya mulai serius menggarap segmen mirrorless APS-C setelah sekian lama tidak menghadirkan kamera di segmen ini. Sony bahkan menyatakan semakin berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi segmen ini, di samping kamera fullframe besutannya. Bagi Sony, kamera mirrorless APS-C sama pentingnya dengan kamera fullframe di Indonesia.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: