sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id asus
Senin, 19 Jul 2021 09:02 WIB

Software ini diam-diam awasi aktivis dan jurnalis

Beberapa perusahaan media melakukan investigasi dan menemukan jika perangkat lunak bernama Pegasus, dari NSO Group telah digunakan oleh pemerintahan tertentu untuk mengawasi para aktivis dan jurnalis.

Software ini diam-diam awasi aktivis dan jurnalis
Credit: Unsplash

Baru-baru ini telah ditemukan jika beberapa negara kemungkinan besar menggunakan surveillance software (perangkat lunak untuk mengawasi aktivitas tertentu) ke beberapa kelompok masyarakat, secara diam-diam. Kabar ini mencuat setelah hasil investigasi yang dilakukan 17 perusahaan media yang menemukan jika perangkat lunak, Pegasus, digunakan dalam upaya peretasan pada 37 smartphone milik aktivis hak asasi manusia dan jurnalis. Dilansir dari The Verge (19/7), The Washington Post melaporkan apabila Hidden Stories (organisasi non profit jurnalis di Paris) dan Amnesty Internasional (organisasi hak asasi manusia) yang memberikan keterangan terkait peretasan pada smartphone tersebut.

Peretasan pada smartphone tersebut dilaporkan kemungkinan digunakan pada negara yang menjadi klien NSO Group untuk mengawasi para aktivis dan jurnalis. Spyware yang diproduksi oleh NSO Group ini memang secara sengaja dipasarkan perusahaan ke beberapa pemerintahan, yang bertujuan untuk melakukan tugas pengawasan pada seseorang dengan indikasi sebagai teroris dan penjahat. Pegasus dapat bekerja dengan cara mengekstrak semua data dari perangkat seluler, dan mengaktifkan mikrofon dari perangkat itu untuk menyadap percakapan.

Pengawasan menggunakan Pegasus yang dikabarkan sudah terjadi sejak 2016, telah meretas beberapa jurnalis yang mencakup beberapa perusahaan media antara lain, The Post, CNN, Associated Press, Voice of America, New York Times, Wall Street Journal, Bloomberg News, Le Monde, Financial Times, dan Al Jazeera. Tapi di sisi lain, perusahaan teknologi asal Israel ini membantah kabar terkait pengawasan yang dilakukan Pegasus pada para aktivis dan jurnalis. Perusahaan mengatakan apabila hasil investigasi yang dilakukan oleh sekelompok perusahaan media, penuh dengan asumsi yang salah dan dan menggunakan teori yang tidak sesuai.

Pihak NSO Group menjelaskan apabila hasil investigasi itu justru menimbulkan keraguan terkait kredibilitas sumber yang digunakan. Setelah perusahaan memeriksa klaim dari hasil investigasi itu, mereka dengan tegas menyangkal terkait laporan peretasan yang terjadi pada para aktivis dan jurnalis. Saat ini, NSO Group sedang mempertimbangkan gugatan pencemaran nama baik karena dinilai laporan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan bisa menjatuhkan perusahaan.

Sementara itu, kejadian ini bukan pertama kalinya Pegasus NSO dituduh telah menjadi bagian dari kampanye sistem pengawasan yang lebih besar. Pada rentang Juli dan Agustus 2020, lembaga riset, Citizen Lab, menemukan bahwa 36 smartphone milik jurnalis Al Jazeera telah diretas menggunakan teknologi Pegasus. Kemungkinan besar, peretasan itu pekerja untuk pemerintah di Timur Tengah. Sebelum itu juga pernah terjadi, WhatsApp menggugat NSO Group pada 2019 karena menilai jika Pegasus telah digunakan untuk meretas penggunanya.

Tag
Share
×
tekid
back to top