Sleep Tracker buat insomnia penggunanya lebih parah

Para peneliti mengatakan, para pengidap insomnia akan mengalami gejala yang lebih parah karena terlalu percaya dengan hasil pemantauan alat sleep tracker mereka.

Sleep Tracker buat insomnia penggunanya lebih parah Ilustrasi Sulit Tidur (Pexels)

Penggunaan perangkat sleep tracker atau pelacakan kualitas tidur saat ini semakin banyak digunakan. Para pengguna berharap, dengan menggunakan alat ini, mereka dapat melihat seberapa efektifnya tidur mereka.

Namun, belakangan ini para peneliti menemukan sebuah fakta baru. Setelah melakukan berbagai penelitian, mereka mengatakan bahwa para pengguna teknologi wearable ini bukan membuat pengguna lebih nyaman dalam tidur, namun membuat insomnia pengguna lebih parah.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Menkeu Sri Mulyani jadi figur inspiratif versi LinkedIn

Profil Johnny G. Plate, Menkominfo kabinet Indonesia Maju

Dibanding orang tua, remaja mampu ketik 40 kata per menit di smartphone


Para ilmuwan mengatakan, hal ini dikarenakan beberapa hal. Salah satunya adalah aplikasi dan perangkat pelacak tidur dapat memperburuk insomnia baik melalui data yang tidak akurat dan dengan membuat kecemasan penggunanya jauh lebih buruk, seperti dikutip dari laman EngagetĀ (17/9/2019).

Dalam sebuah penelitian, perangkatĀ itu menyebabkan orang menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat tidur. Mereka melakukan hal ini untuk meningkatkan statistik tidur mereka dan justru mendapatkan hasil yang tidak alami.

Tapi, hal ini tidak berarti alat pelacak tidur cenderung tidak dapat diandalkan. Beberapa vendor terkenal mengatakan bahwa mereka memiliki akurasi yang cukup baik, namun kondisi yang dimiliki pengguna juga akan mempengaruhi hasil.

Salah satunya seperti Fitbit melalui Dr. Conor Heneghan mengklaim bahwa beberapa pengguna berurusan dengan kecemasan tidur yang serius akan mempengaruhi hasil pembacaan waktu tidur mereka.

Pelacakan waktu tidur dapat menurunkan efek dari jadwal tidur yang konsisten dan kebiasaan berbahaya. Mereka juga dapat menentukan detak jantung dan gerakan yang terkait dengan berbagai tahapan tidur.

Namun, pihak Fitbit mengatakan, aplikasi dan peralatan yang mereka buat masih tidak seakurat manusia. Dalam sebuah studi yang dilakukan Fitbit sendiri menunjukkan kecocokan antara pelacak dan peralatan medis hanya 70 persen dari waktu dibandingkan 90 persen untuk manusia.

Dan tanpa peraturan atau standar, hasil yang pengguna dapatkan dapat bervariasi dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Meskipun data masih bisa berguna, pengguna mungkin ingin harus lebih berhati-hati dalam mempercayai data yang dihasilkan peralatan mereka.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini:
Tags :
Wearable