Sering melihat smartphone, kaum milenial berisiko tumbuhkan ‘tanduk’ di otak

Peneliti menyebut, tanduk yang tumbuh di pangkal tengkorak para kaum milenial disebabkan terlalu banyak menatap layar smartphone.

Sering melihat smartphone, kaum milenial berisiko tumbuhkan ‘tanduk’ di otak Ilustrasi Pengguna Smartphone (Pexels)

Teori evolusi manusia hingga saat ini masih banyak diperdebatkan. Banyak orang percaya, manusia yang ada saat ini adalah berkat hasil adaptasi manusia terhadap lingkungan dan bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Tampaknya, teori ini bisa dibilang benar terjadi. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan, yakni David Shahar dan Mark G. L. Sayer mengatakan, bahwa mereka menemukan sebuah hal yang menarik baru-baru ini.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Dibanding orang tua, remaja mampu ketik 40 kata per menit di smartphone

JNE dan tantangan pemenuhan pesanan di era digital

India sudah larang rokok elektrik


Dalam penelitian mereka, generasi milenial pada saat ini telah menumbuhkan sebuah ‘tanduk’ di pangkal tengkorak mereka. Ini adalah kondisi yang dikenal sebagai pembesaran oksipital eksternal yang membesar (EEOP), dan tampaknya sering terjadi pada mereka yang berusia 18-30 tahun.

Ubergizmo (24/6/2019) melaporkan, mereka mengatakan tidak ada yang menyeramkan terkait tanduk-tanduk ini. Tetapi tampaknya ini merupakan respons evolusioner terhadap kehidupan modern kita, dimana kita menghabiskan banyak waktu menatap ponsel kita, menyebabkan ketegangan pada leher kita.

Pertumbuhan tanduk-tanduk ini adalah cara kerangka untuk menghadapi ketegangan. “Kami berhipotesis EEOP dapat dikaitkan dengan postur menyimpang yang berkelanjutan terkait dengan kemunculan dan penggunaan luas teknologi kontemporer genggam, seperti smartphone dan tablet," kata David dan Mark.

Sementara tanduk ini tidak berbahaya, para peneliti mengatakan bahwa ini adalah tanda bahwa kepala dan leher  tidak dalam kondisi yang tepat dan itu bisa menjadi implikasi dari "sesuatu yang buruk terjadi di tempat lain". 

Ini bukan pertama kalinya kami mendengar tentang fenomena ini yang juga dikenal sebagai "SMS", meskipun ini adalah pertama kalinya kami benar-benar melihat bukti fisiknya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: