Purwarupa pesawat Airbus terinspirasi dari burung

Dengan menggunakan teknologi yang saat ini sedang dikembangkan, Bird of Prey dapat mengurangi 30-50 persen dalam penggunaan bahan bakar dibandingkan dengan pesawat sejenis.

Purwarupa pesawat Airbus terinspirasi dari burung

Airbus mengenalkan pesawat konsep baru yang disebut “Bird of Prey”. Dari namanya sudah dapat ditebak bahwa pesawat didesain mirip burung dengan menampilkan beberapa baling-baling, sayap belakang dengan logo Union Jack dan tampilan sayap menyerupai bulu.

Dilansir dari The Verge (19/7), perusahaan asal Perancis ini meluncurkan konsep di pertunjukan udara pada Royal International Air Tatoo di Inggris.


BACA JUGA

NASA waspada, asteroid besar mendekati bumi

Ilmuwan kembangkan cara untuk ukur tekanan darah lewat selfie

Saking panasnya, logam berat menguap di planet ini


Salah satu hal yang menjadikannya lebih menarik adalah sistem propulsi yang hadir berkat ekperimen fantastik. Dengan menggunakan teknologi yang saat ini sedang dikembangkan, Bird of Prey dapat mengurangi 30-50 persen dalam penggunaan bahan bakar dibandingkan dengan pesawat sejenis.

“Salah satu prioritas untuk seluruh industri adalah bagaimana membuat penerbangan lebih berkelanjutan, menjadikan penerbangan lebih bersih, lebih hijau dan lebih tenang daripada sebelumnya. Kami tahu dari pekerjaan kami pada jet penumpang A350 XWB bahwa melalui biomimikri, alam memiliki beberapa pelajaran terbaik yang dapat kita pelajari tentang desain,” kata manajer sebior di Airbus, Martin Aston.

Terbang membutuhkan energi yang sangat besar, saat ini baterai terlalu berat dan terlalu mahal untuk dapat digunakan lepas landas. Kepadatan energi (jumlah energi yang disimpan dalam sistem yang diberikan) adalah masalah utama, baterai tidak mengandung energi yang cukup untuk membuat sebagian besar pesawat agar dapat terbang.

Sebagai perbandingan, bahan bakar jet memberikan 43 kali lebih banyak dibandingkan dengan baterai yang beratnya sama. Oleh karena itu Bird of Prey hanya mengandalkan teknologi tenaga hibrida.

Gagasan biomimikri Airbus, yang didefinisikan sebagai “desain dan produksi bahan, struktur dan sistem yang terinpirasi dari alam” tentu saja menarik. Airbus tidak sendirian dalam berpikir bahwa sayap pesawat terbang, secara tradisional tebal dan kokoh, dapat mengalami pembaruan.

Tim peneliti NASA sedang mengerjakan jenis sayap baru fleksibel yang berubah ketika terbang. Berukuran 4 meter, sayap tipe baru ini dibuat dari ribuan unit polyetherimide yang dicetak secara 3D sehingga diklaim mirip cara sayap burung ketika terbang.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: