Penggunaan AI Google sekarang bakal diawasi dewan penasehat

Google baru saja membentuk dewan penasehat untuk memantau penggunaan teknologi AI. Hal ini bertujuan agar AI tidak digunakan untuk proyek yang berlawanan dengan norma.

Penggunaan AI Google sekarang bakal diawasi dewan penasehat Source: Google

Google mengumumkan hadirnya dewan penasehat untuk urusan penggunaan teknologi artificial intelligence. Dewan ini sendiri nantinya akan berada di luar Google. Tugasnya adalah memantau penggunaan artificial intelligence buatan Google agar sesuai dengan prinsip etik yang belum lama ini dibuat perusahaan tersebut.

Tak tanggung-tanggung Google sampai merekrut ahli matematika, ilmu komputer, teknik, filsafat, hukum, psikologi dan hukum internasional. Grup tersebut akan disebut Advanced Technology External Advisory Council. Google sendiri ingin menjadikan kelompok ini sebagai dewan yang bergerak secara independen. Dewan tersebut akan mengawasi penggunaan AI di sektor pengenalan wajah dan bias dalam metode latihan machine learning.


BACA JUGA

Facebook bakal hadirkan asisten pintar sendiri

Saking pintarnya, AI bisa bikin olahraga baru

Pemegang saham tolak penjualan Rekognition Amazon


Dilansir dari TheVerge (27/3), tahun lalu Google terlibat sebuah proyek drone Departemen Pertahanan AS bernama Project Maven. Keterlibatan ini sendiri memicu kontroversi. Pasalnya Google menempatkan karyawannya pada sebuah proyek AI yang mungkin melibatkan pengambilan nyawa manusia. Akhirnya Google mengakhiri keterlibatannya setelah kontrak tersebut berakhir.

Tak hanya itu, Google pun menyusun sebuah pedoman baru yang diberi nama AI Principles. Secara umum, pedoman ini melarang Google untuk bekerja pada suatu produk atau teknologi yang melanggar norma yang diterima secara internasional, atau prinsip yang diterima secara luas dari hukum internasional dan hak asasi manusia.

“Kami menyadari bahwa teknologi yang kuat seperti itu menimbulkan pertanyaan yang sama kuatnya dengan penggunaannya. Bagaimana AI dikembangkan dan digunakan akan memiliki dampak signifikan pada masyarakat selama bertahun-tahun yang akan datang. Sebagai pemimpin di AI, kami merasakan tanggung jawab yang mendalam untuk mendapatkan hak ini.” tulis CEO Google, Sundar Pichai kala itu.

Keputusan itu akhirnya membuat Google berkomitmen tidak lagi terlibat kontrak dengan pemerintah untuk proyek yang kemungkinan bakal melanggar hak asasi manusia. Namun di sisi lain, hal ini akhirnya berdampak pada keputusan Google untuk melanjutkan Proyek Dragonfly di China. Proyek tersebut bakal menggunakan beberapa penerapan AI di negara yang berniat menggunakan teknologi tersebut untuk memantau dan melacak warganya.

Janji Google tersebut justru bertolak belakang dengan apa yan dilakukan Microsoft dan Amazon. Microsoft sudah menandatangi kontrak senilai USD480 juta untuk menyediakan HoloLens ke Pentagon, sementara Amazon kembali menjual software Rekognition ke beberapa beberapa lembaga penegak hukum.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: