Penemu baterai lithium-ion dapat hadiah Nobel

Baterai lithium-ion isi ulang dapat ditemukan di hampir semua perangkat mulai dari ponsel hingga kendaraan listrik, dan dapat menyimpan energi dalam jumlah besar dari tenaga surya dan angin.

Penemu baterai lithium-ion dapat hadiah Nobel Source: Pexels

Penghargaan Nobel Kimia tahun ini telah diberikan kepada tiga ilmuwan yang dikreditkan dengan penemuan baterai lithium-ion yang dapat diisi ulang. John B Goodenough dari University of Texas di Austin, M Stanley Whittingham dari Binghamton University dan Akira Yoshino dari Meijo University akan menerima hadiah sebesar USD905.000 (Rp12,8 miliar), yang diumumkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia di Stockholm.

Baterai lithium-ion isi ulang dapat ditemukan di hampir semua perangkat mulai dari ponsel hingga kendaraan listrik, dan dapat menyimpan energi dalam jumlah besar dari tenaga surya dan angin. Dilansir dari Engadget (9/10), mengingat kegunaannya yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari, dan fakta bahwa baterai tersebut pertama kali dikembangkan pada tahun 1970-an, banyak yang akan mengatakan penghargaan ini sudah lama tertunda.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Prolink PPB1005, dukung pengisian cepat dan nirkabel

Baterai mobil listrik terbaru bisa tahan jutaan km

Berkat nanochain, kapasitas baterai akan lebih besar


Stanley Whittingham pertama kali meletakkan fondasi untuk baterai lithium-ion selama krisis minyak pada 1970-an, ketika ia menciptakan katoda inovatif yang dapat menampung ion lithium. John Goodenough, membangun penelitian ini pada tahun 1980-an ketika ia menunjukkan bahwa baterai dapat diisi ulang dengan tegangan 4 volt. Akira Yoshio kemudian menciptakan baterai lithium-ion yang layak secara komersil pada tahun 1985.

Penghargaan ini datang setelah beberapa tahun antisipasi penuh harapan dari komunitas riset baterai, yang secara konsisten mengedepankan para ilmu untuk pekerjaan terobosan yang baru saja diakui Komite Nobel karena meletakkan “dasar-dasar perkumpulan nirkabel dan bahan bakar bebas fosil.

Profesor Yoshio mengatakan berita itu luar biasa dan mengejutkan, ia juga senang kontribusinya dapat membantu memerangi perubahan iklim, yang disebutnya sebagai “masalah serius bagi umat manusia.”

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: