Laporkan iPhone diretas, Apple marah ke Google

Kini Apple angkat bicara atas laporan tersebut. Raksasa teknologi ini meradang karena Google memberikan kesan yang berlebihan.

Laporkan iPhone diretas, Apple marah ke Google (Foto: Pexels)

Belum lama ini Google melaporkan pelanggaran keamanan pada iOS. Laporan itu menyebutkan iPhone yang menjalankan iOS 10 hingga iOS 12 telah diretas melalui ekploitasi berbasis web. Akibatnya, data seperti pesan, gambar hingga data lokasi terekspos. Apple angkat bicara atas laporan tersebut. Raksasa teknologi ini meradang karena Google memberikan kesan yang berlebihan.

"Posting-an Google dikeluarkan enam bulan setelah tambahan iOS dirilis, menciptakan kesan keliru tentang 'eksploitasi massal' untuk 'memantau aktivitas pribadi semua populasi secara real-time' memicu kekhawatiran di antara semua pengguna iPhone bahwa perangkat mereka telah dikompromikan... Ini tak pernah terjadi," kata Apple melalui siaran persnya.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

LG bakal pasok sensor ToF untuk iPad Pro 2020

iPhone 11 punya 6GB RAM?

Apple bakal patenkan istilah Slofie


Menurut Apple, pelanggaran itu mempengaruhi kurang dari selusin situs web dan secara khusus memfokuskan komunitas Uighur. Dengan demikian, mayoritas pengguna tidak terdampak. Namun Apple mengatakan eksploitasi itu hanya beroperasi sekitar dua bulan dan bukan dua tahun sebagaimana klaim Google melalui postingannya.

Apple pun menegaskan masalah itu diselesaikan perusahaan 10 hari sejak pertama kali mengetahuinya. Masalah ini kemudian diperbaiki melalui pembaruan iOS 12.1.4, yang dirilis pada Februari lalu.Perusahaan menyatakan hanya 12% pengguna iPhone yang menjalankan sistem operasi yang lebih lawas dari iOS 12.

"Project Zero mem-posting riset teknis yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman tentang kerentanan keamanan, yang mengarah pada strategi pertahanan lebih baik. Kami mendukung penelitian mendalam kami yang ditulis untuk fokus pada aspek teknis dari kerentanan ini," kata juru bicara Google kepada Digital Trends.

"Kami akan terus bekerja dengan Apple dan perusahaan terkemuka lainnya untuk membantu menjaga orang-orang tetap aman saat online."

Untuk diketahui, eksploitasi ini terkait dengan adanya celah di Safari. Peretas memanfaatkan celah itu untuk memuat malware ke iPhone. Dengan hanya berkunjung ke situs web yang terpengaruh, perangkat dapat terinfeksi sehingga peretas bisa mengakses berbagai informasi termasuk pesan dari WhatsApp, data lokasi dan lainnya. Salinan email pun bahkan bisa diambil tanpa sepengetahuan pengguna.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: