sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id samsung
  • partner tek.id telkomsel
  • partner tek.id poco
  • partner tek.id realme
Rabu, 24 Jan 2024 20:25 WIB

Kebutuhan listrik dunia kian meningkat, energi nuklir disebut jadi solusi

Energi nuklir disebut sebagai solusi terbaik untuk menjawab permasalahan terkait kebutuhan sumber daya listrik dunia yang terus meningkat.

Kebutuhan listrik dunia kian meningkat, energi nuklir disebut jadi solusi
Sumber: Pexels
Energi nuklir diprediksi akan menjadi sumber daya energi yang paling signifikan mulai 2025 mendatang. Itu lantaran kebutuhan listrik di dunia semakin meningkat setiap tahunnya, sehingga energi yang dihasilkan dari fosil dianggap tidak relevan untuk keperluan jangka panjang.
Dilansir dari The Guardian (24/1), energi fosil juga perlahan mulai ditinggalkan oleh negara-negara maju untuk saat ini lantaran dampaknya terhadap lingkungan begitu besar. Wajar bila sekarang energi nuklir mulai dilirik sehingga sejumlah negara seperti Jepang, China, India, Korea, sejumlah negara di Eropa sudah mulai membangun reaktor nuklir masing-masing.
Menurut data dari International Energy Agency (IEA) mayoritas negara maju di seluruh dunia memang sedang melakukan inovasi untuk memanfaatkan energi nuklir sebagai alternatif supaya bisa terlepas dari ketergantungan energi fosil. Hal ini juga sejalan dengan semakin banyaknya produk teknologi yang berbasis sumber daya energi listrik.
Alhasil, ini juga berimplikasi pada kebutuhan energi listrik yang terus meningkat pesat bahkan pada 2023 lalu terjadi peningkatan sebesar 2,2%. Sementara itu mulai 2024 hingga 2026 nanti, IEA memprediksi kebutuhan listrik dunia akan meningkat lebih tajam mencapai 3,4%.
Oleh karena itu, pengembangan energi nuklir sebagai sumber daya penghasil listrik alternatif dianggap sangat mendesak dewasa ini. Walau begitu upaya tersebut bukan tanpa tantangan, pasalnya untuk menciptakan sumber daya energi nuklir ternyata masih dibutuhkan biaya yang sangat mahal.
Artinya, mungkin saja proyek ini akan berjalan lancar hanya di negara-negara maju, sementara bagi negara-negara di Afrika kebutuhan terhadap energi listrik justru akan menambah kesenjangan sosial. Akibatnya, masyarakat kurang mampu kemudian terpaksa beralih lagi ke energi biomassa dan parafin.
Jelas bila sampai hal itu terjadi maka proyek global untuk beralih ke energi yang ramah lingkungan akan terhambat. Oleh karena itu, sejumlah negara maju mendesak komunitas internasional untuk menjawab permasalahan tersebut secara bersama-sama.
"Komunitas internasional harus membantu dan bekerja sama dengan pemerintah negara-negara di Afrika supaya bisa mempercepat proses perubahan energi (ke listrik) bila memang dibutuhkan," jelas Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
Share
×
tekid
back to top