Jakarta Smart City buktikan manfaat IoT dalam skala besar

Berkat sistem IoT yang ditanamkan oleh Jakarta Smart City, Pemprov DKI bisa menghemat anggaran hingga Rp200 triliun

Jakarta Smart City buktikan manfaat IoT dalam skala besar

Jakarta Smart City merupakan salah satu bukti pemanfaatan IoT skala besar yang dilakukan oleh Pemerintah Jakarta. Dimulai pada 2015 silam, kini Jakarta Smart City sudah berkembang menjadi sebuah sistem yang cukup besar.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jakarta Smart City, Setiaji menyebut jika Smart City kini tidak hanya meliputi pemasangan CCTV saja. Melainkan, kini implementasi yang dilakukan sudah merambah ke berbagai sektor.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Taksi Blue Bird kini dilengkapi perangkat IoT

Telkomsel terapkan solusi IoT di truk tangki Pertamina

Alibaba klaim prosesor barunya paling kuat


Salah satu contohnya adalah di bidang transportasi. Saat ini, pihak Jakarta Smart City telah meletakkan ribuan sensor yang ditempatkan di dalam Trans Jakarta. “Kita bisa memonitor lokasi Trans Jakarta secara realtime. Kita juga buka API tersebut untuk digunakan oleh pihak lain,” kata Setiaji saat menjadi pembicara di acara Virtus Showcase 2018 di Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Ada juga pemanfaatan lain seperti dibidang penerangan jalan. etiaji juga mengatakan pihaknya sudah memasang sekitar 200 ribu lampu dengan sensor di seluruh Jakarta.

Lantas, apa yang mereka dapatkan dari penerapan Jakarta Smart City? Dan ternyata, dari sektor penerapan sensor lampu saja Pemerintah Jakarta sudah mampu memperhemat penggunaan listrik untuk penerangan sebesar 40 persen.

“Dengan adanya IoT dapat lebih efisien. Terakhir kita hitung, penghematan ini sudah mencapai Rp200 triliun,” tegasnya.

Tak sampai disitu, Setiaji pun menyebut jika mereka akan meluncurkan sebuah pengembangan baru. Disebutkan, pengembangan ini akan diwujudkan melalui masterplan Jakarta Safe City, yang akan diperkenalkan pada akhir September. 

Tujuannya dari masterplan ini adalah untuk menekan angka kriminalitas di Jakarta. Selain itu, diharapkan juga kedepannya masterplan ini akan memberikan rasa aman kepada seluruh penduduk di Jakarta.

"Saat ini Jakarta memiliki peringkat keamanan posisi ke-57 dari 60 kota. Dengan masterplan ini kami berharap Jakarta bisa masuk ranking 30 besar," jelas Setiaji.

Diketahui, masterplan ini akan mengungkap teknologi yang akan digunakan dalam Safe City yang terdiri dari CCTV, konektivitas, keamanan, hingga sensor akan dipergunakan dalam mendukung program tersebut.

Tak ketinggalan, dia juga memiliki rancangan yang juga akan membahas mengenai model integrasi antar lembaga dalam menjalankan Safe City ini.

"Kelembagaannya mau bentuknya seperti apa, karena kalau bicara soal Safe City harus berhubungan dengan kepolisian, sementara kepolisian ada di pemerintah pusat. Apakah perlu membentuk lembaga baru, itu ada di sana (masterplan)," paparnya.

Beberapa sektor yang dirasa perlu digandeng untuk mensukseskan masterplan. Semisal pada saat ada tindakan darurat seperti kebakaran, yang membutuhkan koordinasi dari berbagai pihak, seperti Dinas Perhubungan dan PLN.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: