Indonesia terbelakang soal pemanfaatan IoT di Asia Pasifik

IDC menyebut pada 2017 Indonesia berada di urutan ke-12 dari 13 negara di Asia Pasifik mengenai pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam negeri

Indonesia terbelakang soal pemanfaatan IoT di Asia Pasifik

IDC menyebut pada 2017 Indonesia berada di urutan ke-12 dari 13 negara di Asia Pasifik mengenai pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam negeri. Tentu saja, hasil ini bukan menjadi sesuatu yang membanggakan.

Associate Consultant IDC Indonesia, Muhammad Kamil Yunus mengatakan ada beberapa aspek mengapa Indonesia bisa ada di peringkat buncit dari kategori ini. 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Taksi Blue Bird kini dilengkapi perangkat IoT

Telkomsel terapkan solusi IoT di truk tangki Pertamina

Alibaba klaim prosesor barunya paling kuat


“Kita benchmark dari beberapa aspek, tidak hanya dari adopsi IoT saja. Dari dukungan pemerintah, kesiapan dari end user, serta dari kesiapan provider terkait untuk menjalankan sebuah IoT yang jadi bahan penentuan,” kata Kamil, di acara Virtus Showcase 2018, di Jakarta Rabu (5/9/2018).

Salah satu yang digarisbawahi oleh Kamil adalah masalah regulasi dari pemerintah. Dia menganggap, diantara sebelas negara lain yang ada dalam daftar ini, Indonesia cukup terlambat dalam melakukan regulasi.

“Negara lain sudah memiliki regulasi mengenai IoT. Indonesia kan baru bulan kemarin Kominfo membuat draft regulasi,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kapan paling cepat Indonesia dapat melakukan implementasi IoT, Kami menjawab jika banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah satunya adalah ketersediaan jaringan 5G di Indonesia.

“Kan teknologi 5G jadi salah satu hal yang menyokong IoT. Jadi jika belum ada jaringan 5G, maka IoT itu belum bisa diterapkan dengan baik. Di Indonesia kan 5G paling cepat 2020, jadi kita prediksi konsumer baru bisa merasakan 3-5 tahun (setelah implementasi 5G),” katanya melanjutkan. “Nah mengenai tren, di end user konsumen nanti adopsinya akan banyak di home solution, smart security juga besar.”

Berbeda dengan end user di kategori konsumen, end user di kategori industri saat ini sudah merasakan manfaat penggunaan IoT, meski belum menyeluruh. Dia menyebut jika 30 persen dari industri yang sudah memanfaatkan IoT, merasakan pengurangan cost produksi yang signifikan.

Sayangnya, dia juga menegaskan jika Indonesia kini masih menghadapi beberapa tantangan besar dalam mengembangan IoT di dalam negeri. Salah satunya adalah sulitnya membuat digital roadmap untuk perkembangan IoT. 

“Dengan hanya merubah management tidak efektif, jadi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk membuat roadmap IoT,” kata Kamil.

Terakhir, Kamil mengingatkan jika IoT bukan hanya benda yang bisa dibeli dari satu vendor saja. Melainkan ini merupakan salah satu bidang yang berkolaborasi antara satu bidang dan di bidang lain. “Tidak ada yang namanya all-in-one solution IoT,” katanya.

Sakadar informasi, setiap tahunnya Virtus menggelar konferensi dan pameran infrastruktur TI. Setiap tahun, mereka membawa topik yang sedang hangat di bidang TI. Pada tahun ini, mereka lebih memfokuskan diri untuk membicarakan masalah IoT.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: