Indonesia hadapi tantangan keamanan yang semakin meningkat

DigiCert memaparkan bahwa ada 58 persen lalu lintas web di Indonesia belum terenkripsi dengan baik. Untuk itu, pihaknya memandang perlunya mengadopsi keamanan digital.

Indonesia hadapi tantangan keamanan yang semakin meningkat Source: Patardo/ Tek.id

DigiCert, perusahaan penyedia TLS/SSL, menyerukan agar perusahaan-perusahaan dan individu mengurangi kerentanan mereka terhadap ancaman keamanan digital. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadopsi layanan keamanan digital yang dikelola dengan baik. Pasalnya, menurut Ray Garnie, Senior Vice President DigiCert untuk Asia Pasifik, dunia sedang mengalami transformasi digital yang masif dan ada banyak tantangan dalam keamanan digital. 

Sebagaimana diungkapkan dalam riset Digital Research 2019, pengguna internet di Indonesia mencapai 150 juta pengguna. Jumlah itu lebih dari setengah dari populasi di Indonesia. Sementara hampir 80 persen pengguna mengakses internet dari smartphone dan laptop mereka. 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Bug di LastPass bisa ungkap informasi password pengguna

Hindari berbagi boarding pass di media sosial

Polisi London uji coba sensor pengenal wajah


Berkaitan dengan itu, Badan Siber dan Sandi Negara mencatat bahwa pada tahun 2018, Indonesia mengidentifikasi lebih dari 230 juta upaya serangan di dunia maya yang menargetkan konsumen di Indonesia. Untuk itulah DigiCert memandang bahwa perusahaan di Indonesia harus mengamankan layanan mereka dengan keamanan digital. 

Tak hanya itu, masalah keamanan ini nyatanya juga mengancam perangkat IoT. laporan Symantec Security Threat Report 2019 menunjukkan bahwa router dan kamera yang saling terhubung adalah sumber utama serangan IoT selama 2018. 

“Bayangkan ada orang lain yang mengakses kamera di rumah Anda. Mereka bisa melihat kondisi rumah Anda, kemudian masuk dan mencuri atau melakukan apa pun yang mereka mau.” ujar Ray Gernie. 

Ia juga melanjutkan bahwa fakta-fakta tersebut menunjuk pada kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk melangkah ke pendekatan yang lebih luas tentang bagaimana mengatasi masalah keamanan digital. 

Tak hanya itu, Garnie juga menyebut bahwa teknologi komputer kuantum dapat memecahkan enkripsi standar lebih cepat dari yang diperkirakan. Dalam paparannya, komputer kuantum bisa memecahkan 2048 bit enkripsi RSA dalam waktu kurang lebih delapan jam saja. Namun, teknologi ini, sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan. Garnie menduga, dalam lima tahun ke depan, teknologi tersebut akan siap digunakan. 

Secara khusus, Garnie menyebut ada sebanyak 58 persen lalu lintas web di Indonesia belum dienkripsi. Hal ini menimbulkan potensi pencurian data selama informasi dikirimkan. Laporan yang dirilis Juli lalu ini berlaku untuk website-website umum, bukan website perusahaan resmi. 

DigiCert sendiri memaparkan bahwa pihaknya sudah mengamankan lebih dari 26 miliar koneksi web setiap hari, termasuk di Indonesia. Beberapa perusahaan pun kabarnya sudah menjalin kerjasama dengan DigiCert untuk mengamankan layanan mereka. 

Garner menyebut ada 85,3 persen website di Indonesia yang sudah dilayani oleh DigiCert. Perusahaan-perusahaan itu berkisar pada industri perbankan, e-commerce, manufaktur, layanan kesehatan hingga media. 

Untuk diketahui, TLS merupakan kependekan dari Transport Layer Security. TLS dan SSL (Secure Sockets Layer) merupakan protokol untuk kriptografi untuk menyediakan komunikasi yang aman melalui internet. TLS menggunakan otoritas sertifikat untuk memastikan enkripsi yang menggunakan infrastruktur publik dapat berlangsung dengan aman. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: