Ilmuwan gunakan VR untuk mempelajari sel

Teknologi milik Carnegie Mellon University dan Virginia Mason yang bernama ExMicroVR dijamin terjangkau bagi peneliti di negara berkembang.

Ilmuwan gunakan VR untuk mempelajari sel Ilustrasi Teknologi Kedokteran (Pexels)

Setiap harinya selalu ada teknologi baru bermunculan. Tidak hanya teknologi yang akan dapat digunakan oleh masyarakat luas, namun pengembangan teknologi di dunia penelitian juga semakin berkembang.

Salah satunya adalah di bidang mempelajari sel. Selama ini, para ilmuwan dan peneliti hanya dapat menggunakan gambar 2D dan teknologi mikroskop 3D untuk melakukan pengamatan terhadap sebuah sel.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Dibanding orang tua, remaja mampu ketik 40 kata per menit di smartphone

JNE dan tantangan pemenuhan pesanan di era digital

India sudah larang rokok elektrik


Kedua teknologi tersebut memiliki banyak batasan, termasuk memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam menguraikan sel. Namun, belakangan ini para peneliti di Carnegie Mellon University dan Virginia Mason memiliki jawaban untuk hal tersebut.

Caranya adalah dengan menggabungkan teknologi VR dengan metode penelitian saat ini. Engadget (17/6) mengatakan, hal ini akan membuat para ilmuwan dapat mengksplorasi hingga 'ke dalam' sel.

Untuk melakukannya, mereka menggabungkan teknologi VR dengan mikroskop ekspansi, yang dapat menumbuhkan sampel lebih dari 100 kali untuk mengeksplorasi data sel yang terlalu rumit untuk ditangani. 

Setelah sel-sel telah dicitrakan, dilabeli dan dikompilasi menjadi data, teknik kustom mengubah info 2D menjadi lingkungan 3D. Hal inilah yang membuat para ilmuwan dapat mengeksplorasi sel dalam dunia VR.

Pendekatannya bisa sangat penting untuk kedokteran. Pada akhirnya, tim berharap alatnya yang disebut sebagai ExMicroVR akan memberikan tingkat pemahaman yang lebih besar tentang penyakit yang dapat mengarah pada perawatan yang lebih efektif.

Saat ini, teknologi tersebut mendukung sebanyak enam orang untuk mengakses data pada saat yang sama. Hal ini dilakukan untuk memastikan para ilmuwan dapat bekerja sama dalam melakukan penelitian sel.

Namun yang terpenting, Carnegie Mellon menginginkan teknologi mereka terjangkau dan mudah diakses bagi negara-negara berkembang. Para peneliti tidak perlu mikroskop mahal atau membuang banyak waktu belajar untuk penelitian medis lebih lanjut.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: