Google ubah analisis data jadi lukisan

Google Cloud Platform berhasil mengubah tumpukan data selama seminggu menjadi sebuah lukisan menarik. Di dalamnya, termuat informasi seberapa besar trafik data di platform tersebut.

Google ubah analisis data jadi lukisan Source: Google Cloud

Cloud storage menjadi salah satu media penyimpanan yang saat ini banyak digunakan. Bagaimana tidak, media penyimpanan ini bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Asalkan memiliki koneksi internet, data bisa langsung diakses. Apalagi penyedia cloud storage menawarkan sejumlah fitur keamanan untuk para penggunanya. Begitu pula dengan Google.

Dalam rangka menyiapkan event Cloud Next, Google berusaha menghadirkan cara baru untuk menjelaskan trafik untuk menarik atensi orang. Untuk itu, tim Google Cloud memvisualisasikan penyimpanan data dengan cara yang berbeda. Data tersebut ditampilkan dalam bentuk lukisan.


BACA JUGA

Ubisoft gabung Stadia dan tawarkan harga terjangkau

Google bayar jutaan dolar akibat langgar privasi anak-anak

Sah! Proyek Dragonfly resmi ditutup


“Pada skala Google Cloud Platform (GCP), penyimpanan memberi kita gambaran sekilas mengenai bagaimana dunia berinteraksi dengan triliunan potongan konten.” tulis tim GCP dalam blog resminya. Untuk membuktikan hal tersebut, mereka mengambil sampel data selama seminggu penuh dan mengeksplorasi pola yang sesuai untuk memberi gambaran pada konsumen.

Data tersebut dikumpulkan dan tentunya bersifat anonim. Google menjamin tidak ada informasi mengenai konsumen yang akan ditampilkan dalam visualisasi tersebut. Pada gambar di bawah, terdapat tiga komponen pembangun visualisasi data, yakni gelembung, tanda panah dan warna.

Gelembung akan menggambarkan ukuran data, sementara tanda panah menunjukkan arah kemana data tersebut pergi. Data tersebut sebenarnya terus bergerak seiring berjalannya waktu. Namun Google berusaha menampilkannya dalam bentuk statis. Satu hal yang perlu diperhatikan, warna yang muncul tidak mewakili aspek apapun. Warna hanya diberikan untuk membantu memahami perubahan yang terjadi.

Dari hasil yang didapat, Google mendapati ada beberapa kawasan yang memiliki korelasi satu sama lain, misalnya Italia dan Afrika Selatan. Keduanya memiliki trafik data yang hampir mirip. Chris Talbott, kepala Google Cloud Storage menyebutnya sebagai “digital buddies”.

Google juga merilis video yang menunjukkan pergerakan data selama 24 jam. Masih dengan konsep yang sama, gelembung mewakili ukuran data, sementara pergerakan naik turun akan menggambarkan arah pergerakan data tersebut. Simak videonya di bawah ini!

(video)
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: